Kearifan Lokal Itu Kini Kian Tertinggal Gubuk-gubuk kecil itu menempel ke tepi sungai. Seluruh bangunan dibuat dari kayu yang tak digergaji rapi, beratap daun nipah, dengan lantai yang sering basah karena menempel di permukaan air. Keberadaannya kadang tersamar di balik rerimbunan pohon pandan sehingga hanya menyisakan bayangan di atas air sungai yang bening pada suatu sore yang cerah Desember 2005.
Gubuk-gubuk, yang biasa disebut rumah rakit, itu mengapung satu per satu di atas air sepanjang Sungai Pejudian di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Jarak antar-rumah berjauhan, 1-2 kilometer. Semakin ke dalam, jarak antar-rumah semakin dekat. Sesampai di Dusun Ketepeng, sekitar satu setengah jam perjalanan dengan perahu cepat atau speed boat dari kota Kecamatan Bayung Lencir, terdapat belasan rumah yang didirikan secara berkelompok. Sebagian rumah berbentuk panggung tinggi yang didirikan di atas tanah. Kelompok ini termasuk salah satu perkampungan suku Anak Dalam yang tinggal di anak sungai yang bermuara di Sungai Lalan, Bayung Lencir. Di dalam salah satu rumah panggung, sejumlah wanita dewasa duduk tafakur sambil berdoa. Di belakang mereka duduk pula puluhan bocah yang bertelanjang dada dan berkalung jimat terbungkus kain hitam. Mata bening mereka menebarkan tatapan aneh kepada setiap orang asing. "Kami sudah melakukan tiga kali adat besale, tapi dia belum sembuh juga. Semoga roh-roh jahat cepat pergi," kata Asida (45), sambil menunjuk suaminya, Rohasan (55), yang terbaring lemah. Rohasan, tokoh adat suku Anak Dalam di Dusun Ketepeng, menderita demam hebat sejak empat bulan lalu. Adat besale adalah ritual pengobatan tradisional yang dipimpin dukun, untuk mengusir roh jahat yang dipercaya bisa menyebabkan orang jatuh sakit. Biasanya, setelah mengikuti beberapa kali adat besale, si sakit akan berangsur sembuh. Adat besale dilakukan dalam ritual yang rumit dengan persiapan panjang. Sesaji dibuat dari hasil kebun dan tanaman hutan, seperti miniatur rumah dari batang salak, lilin lebah, bubur merah-putih, ketan, berondong padi, telor, ayam, nasi tumpeng, dan dupa. Saat upacara, yang dilakukan pada malam hari, dukun membaca mantra-mantra khusus yang meminta roh tidak lagi mengganggu si sakit. Selesai upacara, rumah-rumahan dilarung ke sungai. Menurut dukun muda adat suku Anak Dalam di Muara Medak, Suud Usman (40), roh jahat sering bersemayam di pusat bumi, daratan, hutan, semak belukar, sungai, atau kolam. "Roh itu penjaga alam dan netral. Kalau manusia baik-baik dengan alam, roh tidak akan mengganggu. Tetapi, jika ada yang merusak alam, bisa saja roh itu datang dan merasukinya sehingga orang itu jatuh sakit," katanya. Adat besale hanyalah salah satu dari budaya unik suku Anak Dalam yang masih dipertahankan hingga sekarang. Mereka disebut suku Anak Dalam karena tinggal di kawasan pedalaman hutan atau pinggiran sungai. Mereka juga sering disebut suku Kubu, ras proto Melayu kuno yang sudah ada di Sumatera Sejak awal Masehi. Ada ratusan keluarga suku Anak Dalam yang tinggal di sepanjang Sungai Lalan di Kecamatan Bayung Lencir, antara lain di Muara Bahar, Muara Kandang, Muara Medak, dan Mangsang. Sebagian tinggal di daerah perbatasan Jambi-Sumsel, antara lain di Tanjung Lebar, Kabupaten Muaro Jambi. Ada juga masyarakat adat terpencil yang berkaitan dengan suku tersebut, yang tinggal di kawasan Jejawi dan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, di Siring Alam, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, serta di Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas. Menurut Kepala Subdinas Peningkatan Kesejahteraan Sosial Dinas Kesejahteraan Sosial Sumsel A Fauzi, ada 387 keluarga atau sekitar 2.000 jiwa yang termasuk masyarakat terpencil dan tertinggal di empat kabupaten di Sumsel. Sebagian besar berasal dari keturunan suku Anak Dalam. Pemerintah menyebut mereka suku terasing, lalu diubah menjadi komunitas adat terpencil (KAT). Data resmi itu hanya mencatat anggota suku yang sudah menetap. Masih banyak kelompok yang tidak tercatat karena tinggal berpindah-pindah di pedalaman hutan atau anak sungai yang jarang dilalui orang. Mereka masih mempertahankan budaya asli yang unik. Mereka pun mengandalkan sistem ladang berpindah dengan waktu menetap sekitar dua tahun, dan kembali ke tempat semula sekitar 10 tahun kemudian. Hargai alam Suku Anak Dalam masih berpaham animisme. Mereka percaya bahwa alam semesta memiliki banyak jenis roh yang melindungi manusia. Jika ingin selamat, manusia harus menghormati roh dan tidak merusak unsur-unsur alam, seperti hutan, sungai, dan bumi. Kekayaan alam bisa dijadikan sumber mata pencarian untuk sekadar menyambung hidup dan tidak berlebihan. Hingga kini suku Anak Dalam masih mempertahankan beberapa etika khusus. Pohon sialang, misalnya, tidak boleh ditebang karena menjadi tempat ideal bagi lebah untuk membuat sarang dan madu. Panen madu, yang biasa dilakukan sekitar Juli-Agustus, harus dengan memanjat pohon, bukan dengan menebangnya. Madu baru dapat diambil setelah lebah diusir dengan obor dari kayu kepayang. Saat padi mulai berbuah, suku ini sering mengadakan upacara ngemping, yaitu membuat emping dari padi ketan yang masih muda. Emping dibuat dan dimakan secara beramai-ramai di satu rumah warga pada malam hari. Para pemuda dan pemudi selalu menunggu acara itu, untuk saling berkenalan dan mengajak menikah. Pernikahan adat jadi upacara khusus yang unik karena diselenggarakan di tengah hutan. Puncak upacara terjadi saat dukun memukul-mukul pohon sambil berteriak menyebut hewan seisi rimba bahwa pasangan itu resmi menjadi suami-istri. "Tapi, nikah seperti itu sekarang sudah jarang kami lakukan di tengah hutan, cukup di rumah tetua adat saja," kata Umar (48), anggota suku Anak Dalam di Bungkal. Tertinggal Masih banyak suku Anak Dalam yang tinggal di kawasan yang sulit dijangkau transportasi umum. Perkampungan suku di Dusun Bungkal, misalnya, hanya dapat dijangkau saat air sungai pasang dengan perahu bermesin kecil (ketek) selama satu jam dari Desa Pagardesa. Jika dengan sampan, perjalanan mencapai empat jam. Desa Pagardesa sendiri bisa dijangkau dengan speed boat dari Bayung Lencir selama satu jam lebih. Kawasan perkampungan suku Anak Dalam umumnya belum memiliki pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), SD, pasar, dan jalan darat yang layak. Masyarakat hidup dari bercocok tanam di ladang berpindah atau kebun semipermanen sambil mencari ikan di sungai. Hasil panen ditukar (barter) dengan barang lain di kalangan mereka sendiri sehingga roda perekonomian mandek. Suku Anak Dalam semakin tertinggal karena hampir semua anggota suku di pedalaman tidak pernah bersekolah sehingga buta huruf. Gedung sekolah terdekat berada di pusat desa, yang berjarak belasan kilometer dan harus dicapai dengan transportasi sungai selama berjam-jam. Kepala Desa Pagardesa Said Garib mengakui tidak ada satu pun anggota suku di Dusun Bungkal yang bisa baca tulis karena memang tidak pernah bersekolah. Beberapa tahun lalu sempat dibangun gedung SD di situ, tetapi tidak digunakan lagi karena tidak ada guru. Pemerintah pernah merelokasi sebagian suku Anak Dalam dari tengah hutan untuk dimukimkan di lokasi yang mudah dijangkau. Namun, program itu sering kandas karena mereka tidak bisa hidup jauh dari hutan. Anggota suku meninggalkan rumah buatan pemerintah dan kembali ke gubuk-gubuk di tengah hutan. Rumah-rumah yang dibangun itu kini justru ditempati warga pendatang. Wakil Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Sumsel Amri Iskandar mengakui, memajukan masyarakat tertinggal sulit, terutama karena terhambat oleh pemahaman dan pola hidup mereka yang susah diubah. "Pemerintah tidak bisa begitu saja membuat kebijakan sepihak, kemudian merelokasi mereka ke tempat yang dianggap layak. Pendekatannya harus membumi, sesuai kebutuhan mereka sendiri, dan itu butuh rumusan yang tepat," kata Amri. http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
