Warga Purwakarta Konsumsi Nasi Aking

Laporan Wartawan Kompas Mukhamad Kurniawan


PURWAKARTA, KOMPAS – Sejumlah keluarga miskin di beberapa kampung di
Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa
Barat, mulai mengonsumsi nasi aking sekitar dua bulan terakhir. Mereka
tak mampu membeli beras yang harganya terus naik.

Selain nasi aking, sejumlah warga juga mengonsumsi gadung, sejenis
umbi-umbian yang tumbuh di hutan. Umbi itu mereka dapatkan dari
lahan-lahan milik Perhutani di Kecamatan Sukasari.

Emis (70), warga Kampung Batulayang yang ditemui Kamis (21/12)
mengatakan tak mampu membeli beras yang harganya lebih dari Rp 4.000
per kilogram. Apalagi ia yang buruh tani sudah lama tidak bekerja
karena lahan sawah di desanya kering.

Bersama Acim (75) suaminya, Emis mengandalkan beras untuk keluarga
miskin (raskin). Meski murah yaitu Rp 1.200 per liter, jumlahnya
sangat kurang. Ia hanya memeroleh jatah tiga liter atau 0,8 kilogram
dari rukun tangga setempat setiap bulan.

"Sejak harga beras naik di atas Rp 4.000 per liter dua bulan lalu,
saya tak sanggup membeli. Hingga sekarang mengumpulkan sisa nasi yang
diberi tetangga," ujarnya.
Nasi sisa pemberian tetangga, ia kumpulkan dan jemur. Setelah kering,
ia kemudian mencuci untuk menghilangkan jamur. Emis lantas merebus
dengan mencampurkan bumbu, garam, atau penyedap rasa.

Selain Emis, sejumlah keluarga di Kampung Batulayang, Talibajo, serta
Kampung Sawah juga mengonsumsi nasi aron atau biasa disebut nasi aking
oleh masyarakat pesisir utara Jawa. Beberapa warga juga makan
umbi-umbian yang mereka peroleh dari ladang, kebun, atau hutan milik
Perhutani.

Onih (60) warga lainnya mengatakan, warga juga mengonsumsi gadung.
Umbi-umbian yang biasa dibuat kerupuk itu direbus dengan menambahkan
bumbu penyedap rasa atau garam sebelum dimakan.

"Gadung ini didapat di hutan daerah Kertamanah Sukasari, sekitar tiga
kilometer dari sini. Biasanya direbus dan dikepal-kepal sebelum
dimakan atau digoreng dalam bentuk kerupuk," tambahnya.

Selain di Cikaobandung, warga beberapa desa di Kecamatan Sukatani juga
mencari alternatif pangan. Sejumlah keluarga mengonsumsi singkong yang
mereka peroleh dari kebun atau membeli. Mereka antara lain di Desa
Cianting serta Desa Pasirmunjul.

Harga beras di sejumlah kios pasar-pasar tradisional di Kabupaten
Purwakarta terhitung masih tinggi. Harga beras kualitas medium
berkisar Rp 4.800-4.900 per kilogram. Sementara beras kualitas super
Rp 5.400 per kg.

Warga berharap pemerintah daerah dan Bulog segera mengadakan operasi
pasar (OP). Selain harga murah atau di bawah harga pasar, warga juga
berharap OP dilaksanakan langsung ditengah masyarakat, bukan di pasar
atau di pedagang beras.

Kirim email ke