Terjadi Proses Perapuhan Sendi-sendi Berbangsa Kemiskinan Ikut Mendorong Munculnya Budaya Menerabas
Depok, Kompas - Kemiskinan dengan segala atribut dan implikasinya, dalam jangka panjang sangat membahayakan kehidupan berbangsa. Ancaman itu terutama dipicu oleh proses perapuhan sendi-sendi sosial dan budaya yang kronis, yang saat ini justru tengah berlangsung di negeri ini. Kekhawatiran akan implikasi serius dampak dari kemiskinan yang bersifat masif di Indonesia, yang dilihat dari perspektif kajian antropologi, disuarakan oleh Achmad Fedyani Saifuddin ketika dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP-UI), Rabu (24/1), di Kampus UI Depok. Dalam sidang terbuka yang dipimpin Rektor UI Usman Chatib Warsa tersebut, juga ditandai pengukuhan Jeanette Retnasanti Suwantara sebagai guru besar dalam bidang psikologi klinis pada Fakultas Psikologi UI. Hadir para anggota Senat Guru Besar dari kedua fakultas, di antaranya James Dananjaya, Meutia Hatta Swasono, dan Fuad Hassan. Lewat orasi berjudul "Kemiskinan di Indonesia: Realita di Balik Angka", Fedyani mengakui pentingnya angka statistik untuk menunjukkan arah perkembangan dan kemajuan masyarakat secara nasional. Angka-angka statistik tentang kemiskinan, misalnya, bisa menunjukkan perpindahan sejumlah penduduk dari kategori miskin ke tidak miskin; dari miskin ke hampir tidak miskin; tetap miskin; atau dari tidak miskin ke miskin. Akan tetapi, realita apa sesungguhnya di balik angka-angka statistik itu? Proses apa yang terjadi dalam kehidupan nyata? Dengan kata lain, angka-angka statistik itu harus dikonfirmasi kembali kebenarannya dalam tataran empirik. Kajian kemiskinan dari sudut manusia sebagai subyek menjadi penting untuk dilakukan. "Pada dimensi inilah pendekatan antropologi sosial-budaya memegang peranan penting. Terutama untuk menjelaskan dan memberikan pemahaman mengenai proses dari hari ke hari yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat," tutur Fedyani. Berangkat dari kajian-kajian antropologi yang menggunakan pendekatan proses, Fedyani menemukan kenyataan, begitu beragam strategi dan kiat-kiat penduduk miskinbaik di pedesaan maupun di perkotaandalam memenuhi kebutuhan mereka. Setidaknya ada empat pola temuan, mulai dari sebanyak mungkin anggota rumah tangga dikerahkan untuk memperoleh penghasilan tambahan, melakukan aneka pekerjaan pada waktu yang sama, memperluas akses untuk meminjam dan mencicil, hingga upaya membuat dan memelihara jaringan sosial. "Realitas tersebut menimbulkan beberapa persoalan, yang mungkin tidak terbaca kalau kita semata-mata mengandalkan angka-angka statistik," ujarnya. Realitas itu, misalnya, terbaca pada kelompok pegawai golongan bawah-menengah yang tidak pernah masuk kategori miskin. Untuk menjaga citra "tidak miskin", lahir kepiawaian individu/kelompok dalam mengembangkan siasat dan teknik untuk memperoleh penghasilan tambahan. Siasat dan teknik-teknik tersebut umumnya menggerogoti aturan dan nilai-nilai budaya kita yang seharusnya dijunjung tinggi. Disiplin kerja merosot, profesionalisme menjauh, sementara praktik nepotisme dan suap-menyuap justru meningkat. Budaya instan dan mental menerabas pun kian berkembang. "Kenyataan ini tidak terbaca oleh angka-angka statistik," ujarnya. (eln/muk/ken)
