Risiko Perang Nuklir Meningkat Penelitian Memperlihatkan Senjata Pemusnah Massal Terus Dikembangkan
Stockholm, Senin Meskipun negara-negara pemilik senjata nuklir secara bertahap melucuti stok senjata nuklir mereka, seluruh negara nuklir itu terus mengembangkan hulu ledak dan sistem peluncurnya. Demikian laporan tahunan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis Senin (11/6) di Swedia. Hal itu semakin meningkatkan risiko perang nuklir. "Kekhawatiran kami adalah beberapa negara-negara mulai melihat senjata-senjata itu bisa digunakan, padahal semasa Perang Dingin mereka melihatnya sebagai pencegahan," ungkap Ian Anthony, pakar nuklir SIPRI. SIPRI untuk pertama kali memasukkan Korea Utara sebagai anggota negara nuklir dunia karena mereka telah melakukan uji coba peledakan nuklir bawah tanah pada Oktober 2006. Meski demikian, masih belum jelas apakah negara komunis tersebut telah mengembangkan senjata nuklir yang bisa dikirimkan ke suatu tempat. SIPRI memperkirakan Korut bisa memproduksi sekitar enam bom nuklir atas dasar stok plutonium yang dimiliki negara itu. SIPRI juga mencatat pembelanjaan militer global selama setahun lalu meningkat 3,5 persen menjadi 1,2 triliun dollar AS, di mana sebagian besar dana itu dihabiskan AS untuk membiayai operasinya di Irak dan Afganistan. SIPRI menyebutkan, AS sepanjang 2006 membelanjakan 529 miliar dollar AS atau sedikit lebih rendah dari keseluruhan pendapatan kotor Belanda. Jumlah itu meningkat lima persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 505 miliar dollar AS. "Peningkatan besar belanja militer AS ini menjadi satu faktor yang menyumbang pada memburuknya ekonomi AS sejak 2001," ungkap SIPRI. Senjata-senjata baru SIPRI mengakui AS dan Rusia telah mengurangi stok hulu ledak nuklir mereka sebagai bagian dari perjanjian bilateral. Akan tetapi, kedua negara itu mengembangkan senjata baru untuk memodernisasi kekuatan militer mereka. Inggris, Perancis, dan China, yang juga memiliki senjata nuklir, juga sudah berencana membuat senjata-senjata nuklir baru dan sarana angkut dan pengirimannya. "India dan Pakistan, keduanya diyakini tengah meluaskan kemampuan serangan nuklir mereka. Sedangkan Israel tampaknya menunggu untuk melihat bagaimana perkembangan situasi di Iran," papar SIPRI. Saat ini diperkirakan angka kasar jumlah uranium dengan pengayaan tinggi (HEU) di seluruh dunia mencapai 1.700 ton dan 500 ton lainnya dalam bentuk plutonium. Jumlah itu mencukupi untuk membuat lebih dari 100.000 senjata nuklir. Rusia dan AS memiliki lebih dari 90 persen material nuklir yang bisa dibuat menjadi senjata nuklir. SIPRI juga mengungkapkan ketidakpastian mengenai jumlah stok material nuklir untuk tujuan militer yang dimiliki oleh negara-negara selain AS dan Inggris. Masalahnya, pengumuman mengenai stok material nuklir mereka kurang transparan. China terbesar di Asia Mengenai belanja militer, SIPRI menyimpulkan, China kini menjadi negara dengan belanja militer terbesar di Asia, mengalahkan Jepang. Belanja militer China meningkat menjadi 49,5 miliar dollar AS pada tahun lalu dari tahun sebelumnya yang 44,3 miliar dollar AS. "Pengeluaran militer China terus meningkat pesat dan menjadikannya negara dengan belanja militer terbesar keempat di dunia," kata SIPRI. AS dan Rusia masih tercatat sebagai pemasok terbesar senjata di dunia, dengan masing-masing menguasai sekitar 30 persen pengiriman senjata perang di dunia. Sedangkan ekspor senjata dari keseluruhan negara Uni Eropa mencapai 20 persennya. China dan India masih tercatat sebagai importir terbesar persenjataan, sedangkan lima negara di Timur Tengah masuk dalam 10 besar importir senjata. "Ketika perhatian media lebih banyak diberikan ke pengiriman senjata ke Iran, khususnya dari Rusia, pengiriman dari AS dan negara-negara Eropa ke Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab juga sangat besar," tegas SIPRI. (AP/AFP/Reuters/OKI)
