Maaf ganggu lagi...mumpung bisa online sampe jam 11 he he he 
Pelampiasan browsing setelah beberapa bulan dinas di daerah.

Kebayang nggak kalo lagi apes....salah target, atau ada yg iseng/dengki kpd 
seseorang....terus suddenly orang tsb di 'Densus 88' kan?!

Papa Mama ane pernah cerita pengalaman/fenomena terlalu 'lebai' dlm bertindak 
yg serupa...terutama pd era paska G30S/PKI , juga era Petrus (Penembak 
Misterius).
Sedang Koko ane cerita pengalamannya sewaktu era demonstrasi th 1996-1998 
an...mahasiswa yg aktif dlm organisasi dan demonstrasi juga mendapatkan 
perlakuan serupa.

Best Regards and Wassalam,




Nugon


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal




--- In [email protected], Habe Arifin <habeari...@...> wrote:

FKPI SESALKAN CARA POLRI TANGANI TERORISME
    Jakarta, 12/10 (ANTARA) - Forum Kepemimpinan Pemuda Indonesia
(FKPI) menyesalkan cara Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)
dalam menangani terorisme yang berujung pada tewasnya para pimpinan atau
anggota jaringan teroris yang mereka buru.
    Juru Bicara FKPI Haris Rusly Moti kepada wartawan di kantor
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jakarta, Senin,
mengatakan, tindakan yang dilakukan polisi saat penyergapan anggota
jaringan teroris di sejumlah lokasi belakangan ini justru melampaui
kewenangan dan fungsinya selaku penegak hukum.
    "Polri dilatih tidak untuk membunuh, aparat Polri dilatih dan
ditugaskan UU untuk melumpuhkan tersangka," katanya.
    Ditegaskannya, FKPI bukan tidak setuju dengan pemberantasan
terorisme, namun mereka menilai cara yang ditempuh polisi kurang tepat,
bahkan bukan tidak mungkin justru mengarah pada pelanggaran HAM.
    Oleh karena itu, FKPI meminta Komnas HAM membentuk tim pencari
fakta dan uji forensik independen untuk menyelidiki kemungkinan
terjadinya pelanggaran HAM dalam sejumlah aksi penyergapan yang
dilakukan polisi, khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88.
    Apalagi, menurut FKPI, tindakan polisi tersebut lebih didasarkan
pada dokumen intelijen, bukan pada fakta yuridis, sehingga dikhawatirkan
kemungkinan terjadinya kesalahan.
    "Yang kita takutkan yang ditangkap bukan teroris," kata Haris
saat delegasi FKPI diterima Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh.
    Komnas HAM sendiri sebelumnya telah menyatakan terus melakukan
monitoring terhadap upaya pemberantasan terorisme agar tidak justru
menimbulkan persoalan baru.
(s024)
(T.S024/B/Z002/Z002) 12-10-2009 20:15:42





[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke