Pertanyaan yang sama:
yang kita bahas yang mana?
ttg vegetarian (makanan) atau ttg boneka sex (sex)?
atau
hubungan antara makanan yang dikonsumsi dengan moralitas seseorang?

Kan sudah jelas, tujuan orang yang melakukan vegetarian karena menghindari 
makan daging, walau dengan motif yang berbeda. Seorang vegetarian tidak berarti 
menghindari makan enak. Karena itu muncullah kreasi masakan yang mengambil 
bentuk dan rasa daging. Kita tidak bisa mencela mereka, karena mereka memakan 
daging tiruan, karena tujuan mereka adalah menghindari DAGING ASLI.

ciaq chai (吃菜): artinya vegetarian-> berpantang makan daging, arti harfiahnya: 
makan sayuran
ciaq chai tidak bisa diartikan sempit, karena orang yang ciaq chai bukan hanya 
memakan sayuran (chai). Mereka juga mengkonsumsi: buah, jamur, padi2an, dll. 
Ada sebagian vegetarian yang mengkonsumsi telur ayam negeri dan/atau susu. 

ciaq sou (吃素): artinya berpantang makanan yang mengandung daging, arti 
harfiahnya: makan makanan yang 'tawar' -> maksudnya tanpa daging
di restoran2 vegetarian biasanya tertulis huruf SOU (素, mandarin: SU) ini 

kiongchiu,
KH


 



________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, February 9, 2010 11:34:38 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] ciaq chai was:  Malaysia Perkenalkan "Sup Babi" 
Versi Halal

  
Trus yg lg kita bahas yg mana? Pantang makan daging atau makan enak? Btw 
vegetarian or ciak cai itu artinya apa yah? Makan sayuran atau pantang makan 
daging? Perlu diluruskan neh. Hehheehe
________________________________

From:  King Hian <king_h...@yahoo. com> 
Date: Mon, 8 Feb 2010 19:57:11 -0800 (PST)
To: <budaya_tionghua@ yahoogroups. com>
Subject: [budaya_tionghua] ciaq chai was:  Malaysia Perkenalkan "Sup Babi" 
Versi Halal
  
Alasan orang menjalani vegetarian or ciaq chai itu bermacam-macam. Ada karena 
pantangan spiritual, ada juga karena alasan kesehatan. Satu persamaan dari 
semua pelaku vegetarian ini adalah: menghindari makanan yang mengandung daging. 
Ada bbrp aliran vegetarian yang juga berpantang mengkonsumsi telur (termasuk 
telur ayam negeri), susu, dan bawang.

Seorang bhikshu yang vegetarian tidak boleh memilih2 makanan, mereka tidak 
boleh "menginginkan" makanan yang dibentuk seperti daging. Karena fungsi 
makanan bagi mereka adalah untuk menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup, 
bukan untuk mencari kenikmatan makanan.

Beda dengan seorang biasa (bukan bhikshu) yang bervegetarian. Ia berpantang 
memakan daging, tetapi tidak berpantang makan enak. Karena itu muncul restoran2 
vegetarian dengan menu masakan yang hebat2, yang banyak menggunakan daging 
tiruan. Hal ini sangat wajar karena, sekali lagi, mereka BERPANTANG MAKAN 
DAGING, bukan BERPANTANG MAKAN MAKANAN ENAK.

Saya pernah "diserang" oleh seorang Buddhis yang anti-vegetarian. Dia
berkata untuk apa para umat Buddha (Mahayana) melakukan vegetarian,
karena mereka tetap saja memakan daging buatan. Saya jelaskan bhw daging buatan 
adalah utk mengganti daging asli, karena inilah tujuan utamanya. Daging palsu 
bukan utk menghilangkan "rasa" makanan. Kemudian dia kembali menyerang, bhw hal 
ini demi memuaskan nafsu kenikmatan makanan. Saya bilang, kalau dia memang 
tidak mengejar rasa makanan, cobalah mulai sekarang seluruh masakan yang dia 
makan jangan menggunakan garam dan bumbu2 lain. Kalau benar dia tidak "mengejar 
rasa makanan",  cobalah makan sayur yang direbus semua, tanpa bumbu sama sekali.

Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara "PANTANG MAKAN DAGING"
dengan "PANTANG MAKAN ENAK". Coba bandingkan daging yang dipanggang
tanpa bumbu sama sekali, dengan tahu yang dimasak menjadi mun tahu
tanpa daging (termasuk daging buatan), dengan bumbu komplit. Mana yang
lebih enak?

Bagaimana kalau seorang bhikshu yang diberi makan daging palsu? Apakah bisa 
dipastikan bhw ketika menyantap daging palsu ini dia membayangkan sedang 
menikmati daging asli? Ini tergantung pikiran dia. Seharusnya dia melihat bhw 
makanan yang dimakannya adalah 'alat' utk menjaga
kelangsungan hidupnya, supaya dia bisa lebih banyak berbuat kebaikan. 
Tanggapan seorang yang diberikan boneka sex akan berlainan, ada yang 
membayangkan perempuan benar, ada juga yang melihat itu sebagai materi 
plastik/karet (?) yang tidak berbeda dengan plastik/karet mainan anaknya.

kiongchiu,
KH






________________________________
From: "agoeng_set@ yahoo.com" <agoeng_...@yahoo. com>
To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com
Sent: Tue, February 9, 2010 9:44:28 AM
Subject: Re: [budaya_tionghua] OOT - Malaysia Perkenalkan "Sup Babi" Versi 
Halal. (Was: Ada Pedomannya.)

  
Namanya vegetarian atau cia cay kayaknya lebih pas diartiin makan sayuran deh 
bukan makan yg palsu2 atau makan tepung. Atau dah berubah artinya??? Btw skrg 
banyak tuh boneka sex itu jg bukan wanita asli so para biksu n kaum selibat 
lainnya boleh beli n gunain donk, kan bukan manusia asli. Wekekeke. Yg mau 
dibersihkan itu pikiran bukan perut n mulut dengan makan daging palsu otomatis 
yg dicatat ma pikiran tetap aja daging. 
________________________________

From:  jackson_yahya@ yahoo.com 
Date: Mon, 8 Feb 2010 17:08:00 +0000
To: <budaya_tionghua@ yahoogroups. com>
Subject: Re: [budaya_tionghua] OOT - Malaysia Perkenalkan "Sup Babi" Versi 
Halal. (Was: Ada Pedomannya.)
  
Nama nya vegetarian itu tidak makan daging karena daging berasal dari 
pembunuhan mahluk hidup. Itu aja. Mao bikin namanya "ayam goreng palsu" ga 
masalah intinya bukan daging asli. 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!
________________________________

From:  agoeng_...@yahoo. com 
Date: Mon, 8 Feb 2010 17:01:59 +0000
To: <budaya_tionghua@ yahoogroups. com>
Subject: Re: [budaya_tionghua] OOT - Malaysia Perkenalkan "Sup Babi" Versi 
Halal. (Was: Ada Pedomannya.)
  
Menurut g seh" halal" or "haram" itu dr niatnya jg dah harus bener. Klo ngaku 
vegetarian tp masih nafsu ma daging2 palsu tetep aja ga ilang nasfu ama 
dagingnya gmana bisa ngaku vegetarian? Yg palsu2 or tiruan2 jg sama aja, buat 
nepu n menjadi pembenaran diri sendiri aja. Tp ini menurut g lho, ga tau 
pandangan yg laen. 
________________________________

From:  "Ophoeng" <opho...@yahoo. com> 
Date: Mon, 08 Feb 2010 16:40:22 -0000
To: <budaya_tionghua@ yahoogroups. com>
Subject: [budaya_tionghua] OOT - Malaysia Perkenalkan "Sup Babi" Versi Halal. 
(Was: Ada Pedomannya.)
  
Bung Erik dan TTM semuah,

Hai, apakabar? Sudah makan?

Hehehe...... sorry, ijinkan saya ikut nimbrung lagi ya.

Kayaknya yang Bung Erik maksud bukan 'bahan nabati' tapi 'hewani' ya? 
["....bahkan juga tanpa bahan nabati lainnya juga tetap haram?]

Kalau sudah masuk ke wilayah vegetarian yang tidak ada hubungannya secara 
langsung dengan Muslim, tentu saja pedomannya kembali ke: kalau ragu, sebaiknya 
dihindari.

Tapi, contoh yang Bung Erk sebutkan itu benar-benar pas. Identik dengan bir 
yang 0% alkohol itu. Sebab kaidahnya adalah karena 'pemikiran' atau konotasi 
ttg alkohol itu yang dijadikan pedoman mereka. 

Contoh lain yang cukup heboh adalah bahan baku kue yang bernama 'rhum'. Bahan 
ini aslinya adalah berbasis alkohol, dengan rasa dan aroma khas 'Jamaica Rhum' 
- biasa untuk bahan pembuat Tiramisu cake. Untuk mengakomodasi yang berhubungan 
dengan halal, katanya ada 'rhum' yang berbasis air, non alkohol sama sekali, 
tapi dengan aroma yang sama persis dengan rhum berbasis alkohol. Kabarnya ini 
juga tidak mendapat sertifikat halal dari LP-POM MUI.

Sebelumnya, katanya sih (saya ndak yakin apakah benar) di kalangan vegetarian 
juga berlaku ihwal 'pemikiran' tsb. - jadi kalau masih dibuatkan 'daging' palsu 
dengan judul sate babi, ayam rica-rica, ikan woku, walau tanpa secuil pun 
daging dari hewan tapi di pikiran tergambar rasa ikan, ayam, sate babi yang 
berdaging, mestinya juga dihindari. Vegetarian itu asalkata-nya dari 
vegetables, sesayuran, jadi tentu merujuknya ke sesayuran dan buah-buahan, 
biji-bijian. Diharapkan tidak lagi berpikiran masih 'makan'  daging lewat 
daging-dagingan palsu itu.

Tapi, tentu itu kembali ke keyakinan masing-masing individu saja ya.

Masih soal 'pikiran' yang berkaitan dengan halal tidaknya suatu produk makanan, 
ini ada artikel yang cukup menarik. Judulnya sajah sudah memancing anda untuk 
membacanya. Kalau dikaitkan dengan cerita di artikel tsb., mestinya perlakuan 
yang sama juga diterapkan kepada 'bacon' dan 'ham' yang sejak awal sudah 
dikenal luas berbahan baku daging babi. Jadi, beef bacon dan chicken ham 
mestinya juga identik ya. Tapi, kembali ke masalah wewenang: LP-POM MUI yang 
berwenang menentukannya. Kita yang awam cuma bisa mengikuti saja.

Sila lihat langsung di link berikut:
http://dunia. vivanews. com/news/ read/115715- malaysia_ perkenalkan_ 
_sup_babi_ _versi_halal

begitu sajah sih ya.

Salam makan enak dan sehat,
Ophoeng
BSD City, Tangerang Selatan

--- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, "Erik" <rsn...@...> wrote:

Hai, Ko Phoeng dan TTM lain sekalian, apa kabar? Sudah makan minum?

Menarik neh, kalo dikatakan bir tanpa alkohol tetap haram, saya jadi inget sama 
daging palsu di resto vegie. Apakah gohiong-gohiongan dan babi merah palsu yg 
tak mengandung babi, bahkan juga tanpa bahan nabati lainnya juga tetap haram? 
Mohon pencerahan rekan2 yg memahami hal ini, terutama koh ABS, bgmana? bisa 
bantu?


Salam

Erik
>



 


      

Kirim email ke