Sdr. Chingik yang budiman,

Sebelumnya saya ucapkan selamat tahun baru imlek, sin chun kionghie 
thiam hok thiam siu.
Buku Beyond Belief tidak dapat disebut menjelek-jelekkan agama lain, 
karena semuanya didasari oleh otorita yang valid atau semuanya 
dilandasi secara tekstual. Dalam ilmu perbandingan agama hal ini 
tidak dapat disebut menjelek-jelekkan. Analogi dalam kehidupan sehari-
hari adalah saat seorang guru memeriksa ulangan murid-muridnya, nah 
apakah Anda akan menyebut guru itu mencari-cari kesalahan muridnya? 
Mengapa tidak memberi saja semua murid nilai 100? Tentu saja ini 
bukanlah toleransi sejati. Toleransi sejati tidak ada hubungannya 
dengan kritik ilmiah (pure reasoning) terhadap suatu agama. Saya 
sudah baca keseluruhan buku Beyond Belief (mungkin sudah ratusan 
kali), tetapi saya lihat bahwa kritiknya semua dilandasi oleh teks-
teks agama yang dikritiknya. Justru saya melihat ini sangat positif 
dan membuat mereka untuk lebih merenungkan kembali keabsahan atau 
kevalidan agamanya, baik dari segi moral, etika, ataupun nilai-nilai 
kebajikan. 
Saya juga banyak membaca buku-buku karangan scholar2 Barat seperti 
Hans Wolfgang Schumann dan David J. Kalupahana. Mereka berpendapat 
bahwa ajaran Buddha mengalami evolusi pula dan Tripitaka tidaklah 
langsung seperti dalam bentuknya yang dikenal sekarang. Apakah mereka 
mencari-cari kesalahan atau kelemahan Buddhisme? Tentu tidak! Saya 
justru sangat berpegang pada karya-karya mereka. Karya para scholar 
kenamaan itu bukanlah serangan terhadap Buddhisme.
SElanjutnya, di zaman sekarang banyak orang dalam dunia Buddhis yang 
sok toleran melakukan tindakan "maling teriak maling." Mereka 
mengecam orang yang gemar mengkritik agama lain (meski secara ilmiah) 
sebagai tidak toleran. Padahal kecaman terhadap orang yang "tidak 
toleran" itu juga dapat dikatakan sebagai bentuk intoleransi. Orang 
yang toleran sejati harus dapat pula mentoleransi orang-orang 
yang "tidak toleran." Ini adalah suatu kesalahan yang tanpa sadar 
sering dilakukan.
Berbeda dengan buku Harun Yahya, mengatakan Buddhisme sebagai 
penyembah berhalas jelas tidak dilandasi semangat ilmiah serta tidak 
didukung oleh bukti-bukti tekstual. Padahal Vajracchedika 
Prajnaparamita Sutra (Jinggangjing) telah dengan jelas mengatakan 
bahwa orang yang mencari Buddha dalam wujud dan suara telah berada di 
jalan yang sesat. Kalau Harun Yahya hendak mengkritik Buddhisme, 
silakan pergunakan ayat-ayat Buddhis sendiri dan bukan mengutarakan 
opini dia yang berasal dari pengamatan dangkal akan sesuatu. Saya 
persilakan Harun Yahya untuk mengobok-obok naskah suci Buddhis dan 
temukan "kelemahan"nya. Nanti kalau ada akan saya tanggapi dan kupas 
hal itu.
Jadi, tentu saja buku Beyond Belief dan buku Harun Yahya sangat 
berbeda. Dari segi intelektualitas saja Harun Yahya melakukan blunder 
atau kebodohan fatal dengan mengkritik teori evolusi, padahal itu 
adalah suatu teori mantap dalam sains yang telah dikukuhkan oleh 
banyak bukti ilmiah. Semua opini dia dalam buku itu yang saya baca 
hanya merupakan rekayasanya sendiri saja. Tidak pernah dia berusaha 
membantah pendapat para kampiun teori evolusi seperti Richard Leakey 
dan Charles Dawkins (bukan Darwin, profesor ini masih hidup dan 
mengajar), dan memang tentu saja sangat mustahil membantah pendapat 
para pakar tersebut. Buku2 ilmiah mereka telah banyak diterbitkan 
oleh KPG (Kelompok Penerbit Gramedia) dan saya memang mengoleksinya. 
SEtiap ada buku-buku mereka yang diterbitkan pasti langsung saya 
sambar.
Jadi saya menyarankan agar kita semua menanggapi segala sesuatu 
secara bijaksana dan ilmiah, dan tidak hanya mengandalkan bentukan 
pikiran semata. Analisalah segala sesuatu dengan seksama, begitu pula 
buku Beyond Belief dan Harun Yahya. SElain itu jangan alergi dengan 
studi perbandingan agama. Cobalah tarik garis perbedaan antara ilmu 
kritik agama dengan menjelek-jelekkan agama lain atau sikap 
intoleransi. Ada kawan saya, yang nampaknya tidak pernah menjelekkan 
agama lain, tetapi seluruh nama karyawannya berakhiran dengan "us." 
Nah apakah orang ini toleran? Ada pula kawan saya yang sangat gemar 
mengikuti perbandingan agama (orang Buddhis), tetapi karyawannya ada 
yang Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dll. Nah apakah orang ini tidak 
toleran? Saya orang yang sangat sering berkoar2 masalah perbandingan 
agama, tetapi saya punya banyak kawan baik dari berbagai agama. 
Apakah saya orang yang tidak toleran? Ayolah Bro dan Sis, kita 
kerahkan seluruh kemampuan analisa kita dan tidak memberikan 
tanggapan dangkal terhadap sesuatu.

Demikian saya kira sekian saja penjelasan saya. Mohon maaf bila ada 
kata yang salah.

Salam metta,

Tan

--- In [email protected], "ching ik/ djoni" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bro Tan,
> 
> Jika ada yang mengatakan keburukan ajaran Buddha karena kesalah 
> pahamannya, kita memang sepatutnya memberi penjelasan secara arif. 
> Tapi apakah (hanya karena dia salah memahami ajaran yang kita 
> yakini) lalu kita perlu menguak-nguak keburukan orang atau ajaran 
> lain, mencari-cari kesalahannya?  Saya rasa ini sangat bertentangan 
> dengan semangat spiritualitas Buddhisme. Beyond Belief adalah 
> contohnya.   
>   
> --- In [email protected], "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> >
> > Kalau Beyond Belief salah arah, silakan coba tunjukkan mana yang 
> > salah, mari kita kupas rame-rame.
> > 
> > Metta,
> > 
> > Tan
> > 
> > --- In [email protected], perdana hadisantoso 
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > >       
> > > 
> > > dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:     Namo Buddhaya,
> > > 
> > > Sekedar info, dalam buku karya Harun Yahya yang berjudul Agama 
> > > Darwinisme halaman 29 terdapat gambar Buddha dengan 
> > > keterangan: "Penganut ajaran Buddha nyembah patung Buddha yang 
> > buat 
> > > sendiri dengan tangan sendiri karena menganggap bahwa patung 
> > tersebut 
> > > dapat melihat dan mendengar." Halaman 28: "Seperti semua agama 
> > berhala 
> > > lainnya, ajaran Buddha menolak tentang adanya Tuhan Sang 
> Pencipta. 
> > > Agama dengan sikap mental evolusionis antara lain Konghucu, 
Tao, 
> > dan 
> > > Buddha."
> > > 
> > > Nah, bagaimana pendapat rekan-rekan sekalian?
> > > 
> > > Metta,
> > > 
> > > Tan
> > > 
> > >
>







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke