Ya, saya sebenarnya menyebutkan mengenai Yiguandao sebagai tanggapan 
atas posting Sdr. Chingik mengenai perdamaian dunia dengan jalan 
memuji-muji semua agama seperti yang dilakukan oleh Master Chingkung. 
Yiguandao adalah contoh ekstrem bagi hal tersebut. Ia memang 
melakukan penggabungan atau sinkretisme semua agama dan dalam 
literatur-literaturnya mereka juga banyak memuji semua agama. Bagi 
mereka semua agama adalah sama. Nah, Anda dapat menyimpulkan sendiri 
apakah usaha semacam ini memang dapat menciptakan perdamaian dunia 
atau tidak. Fakta membuktikan bahwa Yiguandao ternyata menimbulkan 
polemik atau antitese baru. Sekedar sharing, saya pernah memuji-muji 
agama seorang kawan, tetapi tanggapannya sungguh di luar duganan. Ia 
mengatakan, “Kalau sudah tahu agama ini bagus, mengapa Anda tidak mau 
ikut bergabung dengannya?” Nah pujian itu akan menjadi bumerang bagi 
kita sendiri. Akibatnya kita akan menjadi orang yang munafik – kalau 
memang benar bagus, mengapa kita tidak bergabung dengannya?

Mengenai hubungan antara tingkat pendidikan rendah dengan fanatisme 
agama adalah topik yang menarik, tetapi karena saya belum memiliki 
data mengenai hal ini, maka saya masih belum sanggup 
mendiskusikannya. Benarkah orang yang tingkat pendidikannya tinggi 
tidak akan fanatisme berlebihan? Apakah orang yang tingkat 
pendidikannya akan cenderung berpikir rasional? Saya tidak dapat 
menjawabnya. Tetapi satu fakta menarik yang pernah saya baca 
memperlihatkan bahwa para petinggi Nazi Jerman yang merupakan lulusan 
universitas2 terbaik di Eropa, ternyata sangat percaya dengan 
astrologi. Goehring sangat percaya bahwa menurut ramalan astrologi 
Jerman akan menang. Tentu ini perlu kajian lebih lanjut.

Mengenai Indonesia terlalu agamais, ya saya sementara ini setuju, 
berdasarkan apa yang saya alami, memang terkadang banyak hal 
memalukan yang dilakukan bangsa ini, seperti pelarangan goyang Inul, 
kontes kecantikan, majalah Playboy, dan lain sebagainya. Bahkan ajang 
permainan game center yang logonya siluet seorang wanita berpakaian 
ketat di dekat tempat tinggal saya pernah didemo oleh warga kampung, 
kata mereka gambar itu adalah pornoaksi. Saya hanya sempat prihatin 
dalam hati, mengapa rakyat kita sampai sebegitunya. Mengapa segala 
sesuatu dikaitkan dengan agama? Apalagi itu hanya gambar grafis 
siluet. Oleh karenanya saya lebih mendukung adanya negara sekuler. 
Pelajaran agama dihapuskan saja. Pencantuman agama di KTP juga 
dihapuskan.

Sekarang kita coba bahas masalah komunisme. Memang suatu sikap yang 
aneh, mengapa komunisme di Indonesia disoroti hanya karena masalah 
tidak bertuhannya saja. Padahal komunisme itu (sejauh yang saya 
pahami dari buku Das Kapital karya Marx) justru sangat sedikit 
membahas mengenai Tuhan dan sangat kompleks. Pelarangan agama di 
Soviet nampaknya lebih disebabkan kebencian rakyat terhadap gereja 
yang menjadi alat penindasan rezim Dinasti Romanov, jadi bukan karena 
komunisme memang mengajarkan kebencian terhadap agama. Isi sebagian 
besar Das Kapital adalah masalah ekonomi semata, mengenai hubungan 
antara upah buruh yang rendah dengan semakin makmurnya kaum kapitalis 
yang menguasai segenap prasarana industri. Tentu saja ajaran Marx ini 
sudah kadaluarsa dan hanya sesuai dengan kerangka ketenaga-kerjaan 
abad ke-19. Saya hendak menanggapi pendapat Anda bahwa komunisme 
melawan kebebasan. Jelas sekali dalam Das Kapital tidak ada ajaran 
untuk membelenggu semua kebebasan, hanya saja penafsirkan dialektika 
Marxisme telah ditafsirkan secara menyimpang oleh rezim Bolshevisme 
di Rusia dan belahan dunia lainnya, sehingga akhirnya komunisme 
menjelma menjadi sesuatu yang anti kebebasan. Dengan kata lain, Lenin 
dan para diktaktor komunis lainnya telah memelintir ajaran Marx 
sesuai dengan kepentingan mereka sendiri. Sehingga Anda harus 
menjelaskan ajaran komunis mana yang Anda maksud. Berdasarkan Das 
Kapital yang saya baca, tidak ada anjuran untuk membantai jutaan 
orang seperti yang dilakukan oleh Stalin atau Polpot. Semua ini 
adalah human error, meski sekali lagi saya tekankan bahwa ajaran 
komunisme sekarang ini sudah tidak relevan lagi. Terutama dengan 
adanya kompromi antara Arbeitgeber (majikan) dan Arbeitnehmer (buruh) 
melalui undang-undang perburuhan. Seruan Marx untuk berevolusi tidak 
diperlukan lagi, karena Verstaendnis (pemahaman) antara majikan dan 
buruh sudah semakin baik. Jadi kita tidak perlu takut lagi 
dengan “bahaya laten komunisme,” karena komunisme sendiri dewasa 
ini 
dapat diumpamakan dengan mayat seseorang yang sudah mati. Tidak ada 
yang perlu ditakuti lagi darinya/

Sehubungan dengan “doing something” perlu saya tekankan lagi bahwa 
dana yang ada hendaknya dipergunakan terlebih dahulu untuk membangun 
komunitas Buddhis sendiri. Tingkatkan dahulu nasib para dharmaduta, 
sehingga mereka tidak mudah pindah keyakinan dengan iming-iming 
bantuan ekonomi. Saya pernah mendengar bahwa terdapat dharmaduta yang 
pindah agama dengan hanya diberikan sedikit uang, makanan, dan 
pakaian. Ini sangat memprihatinkan. Kalau saya baru mau pindah agama 
bila diberi uang Rp. 700 juta atau 1 milyar. Jika ada yang bersedia 
memberikan uang sejumlah segitu tidak apa-apa deh saya pindah agama 
hehehehe. Selain itu, agar umat kita tidak mudah menjadi makanan 
empuk bagi para misionaris keyakinan lain, bukankah buku Beyond 
Belief sangat penting? Terkadang seseorang baru dapat menyadari 
berharganya Buddhadharma jika ada pembandingnya yang “kurang 
unggul.” 
Analoginya, saya baru mengetahui kelebihan produk A jika ada 
pembandingnya. Tidak menyetujui buku Beyond Belief juga tidak 
menjadikan seseorang lebih toleran, karena toh mereka juga masih 
mengecam sesuatu, yakni buku Beyond Belief itu sendiri – dan 
pengecaman itu adalah juga suatu bukti masih adanya intoleransi. 
Suatu lagi hal yang aneh, terdapat beberapa umat Buddha yang mengecam 
BB, tetapi mereka hobby mengecam sekte lain. Apakah bedanya mengecam 
agama lain atau sekte lain? Bukankah intinya sama-sama “mengecam”?
Saya kira sekian dahulu. Mohon maaf kalau ada kata yang salah.

Metta,

Tan



--- In [email protected], Johannes Sulistyo <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Yiguandao banyak yang nentang, katanya sinkretisme, atau mencampur 
adukan ajaran agama atau apalah... ini jeleknya negara yang 
penduduknya rata2 berpendidikan rendah namun bebas berbicara. 
Akibatnya orang2 bego pun bisa angkat bicara, dan karena yang lain-
lainnya juga bego, akhirnya juga percaya-percaya aja. Orang2 bego itu 
fakta... coba aja Indonesia dikasih rating berapa di dunia soal 
tingkat pendidikan? Coba aja sanggah, lakukan penelitian anda 
sendiri. 
> 
> Orang-orang disini lebih mementingkan kepentingan agamanya masing-
masing daripada mempedulikan perdamaian. Tingkat fanatismenya tinggi 
sekali, makanya agama jadi sebuah isu yang sensitif. Suasananya gak 
kondusif buat orang untuk berpikir logis karena terlalu agamais, dan 
kehidupan beragamanya sangat diatur oleh negara. Komunis aja 
dipendidikan kita dibilang bahwa: nomor 1: gak ber-Tuhan, sementara 
yang membuat seluruh dunia ini perang lawan komunis adalah isu 
mengenai kebebasan. Itu udah bukti yang menjurus-jurus ke arah 
agamais yang berlebihan. 
> 
> Idealnya, segala sesuatu harus seimbang, kalo berlebihan itu pasti 
efeknya jelek. Saya setuju sekali dengan pernyataan "must do 
something", sebelum terlambat pastinya. Agama Buddha dari dulu 
dianggap yang paling aman-aman saja. Kita dari dulu gak pernah maksa 
orang lain pindah agama, menyebarkan fanatisme, atau menyatakan 
perang terhadap sesuatu. Semua orang merasa kita ini damai-damai aja, 
jadi gampang diganggu. Sasaran empuk bagi orang yang ingin menambah 
anggota jemaatnya.
> 
> 
> 
> dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:     Maaf kelupaan,
>  
>  Sebelumnya saya jelaskan bahwa tanggapan saya terhadap kegiatan 
>  Master Chingkung, hendaknya jangan diartikan bahwa saya 
merendahkan 
>  atau mengecilkan usaha Beliau. Tetapi karena Anda sudah 
menyinggung 
>  mengenai Beliau, maka izinkanlah saya untuk menyalurkan uneg-uneg 
>  saya. Mungkin Anda atau rekan-rekan yang lain dapat memberikan 
>  penjelasan. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, fakta 
memperlihatkan 
>  bahwa masih banyak para dharmaduta dan pekerja-pekerja Buddhis 
yang 
>  hidupnya masih di bawah garis kemiskinan. Tetapi mengapa Master 
>  Chingkung malah menyumbang organisasi-organisasi agama lain? Saya 
>  menjadi teringat sebuah peribahasa: "Anak dipangkuan dilepaskan, 
>  tetapi beruk di hutan disusui." Artinya kita malah menelantarkan 
>  kerabat atau rekan-rekan kita sendiri. Apakah ini tidak boleh saya 
>  katakan sebagai "menyuap"? Mengapa bantuan itu harus dalam bentuk 
>  uang? Bila dalam bentuk uang mengapa tidak dipergunakan untuk 
>  meningkatkan prasarana Buddhis sendiri terlebih dahulu, seperti 
>  sekolah dan pendidikan Buddhis? Kapan kita akan memiliki sekolah2 
>  yang setara dengan Santa Maria, Petra, dan lain sebagainya?
>  Oleh karena itu, menurut saya hal ini bukanlah perwujudan 
toleransi 
>  sejati. Jika uangnya sudah habis apa yang terjadi? Apakah umat 
>  beragama akan berantem lagi? Saya melihat bahwa Master Chingkung 
>  telah "membeli" keamanan bagi berkembangnya umat Buddha di 
Indonesia. 
>  Padahal "pembelian" semacam itu bukan sesuatu yang baik. Bila 
uangnya 
>  sudah habis dan kita tidak punya uang lagi, tidakkah agama Buddha 
>  jadi beresiko dihambat? Ini adalah hal yang perlu kita pikirkan. 
>  Jika hendak merangkul semua agama, maka metode yang paling baik 
>  adalah yang dilakukan oleh, maaf, Yiguandao. Apa yang mereka 
lakukan 
>  telah terbukti berhasil dan umat dari agama apa saja kini sudah 
tidak 
>  risih untuk masuk Yiguandao. Ajaran Kristennya ada, ajaran 
Islamnya 
>  ada, ajaran Buddhisnya ada, ajaran Daonya ada, dan lain 
sebagainya. 
>  Nah, kalau tiap orang masuk Yiguandao dijamin dunia ini akan damai 
>  hanya dengan satu agama saja yang sanggup mewadahi semuanya. 
Tetapi 
>  apakah itu mungkin? Tidak tahu deh... saya makin pusing aja 
hehhhe.!
>  Mohon maaf kalau saya saya salah. Mohon pencerahannya.
>  
>  Metta,
>  
>  
>  Tan
>      
> 
>               
> ---------------------------------
>  
>  What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke