Bro Tan,
Senang sekali berdiskusi dengan anda. Mohon jangan menganggap 
pertanyaan dan argumen saya bertujuan menyerang buku Beyond Belief. 
Saya sangat senang dengan adanya buku ini, setidaknya dapat dipakai 
sebagai pedoman untuk mengukur kesalahan (sekedar mengukur, bukan 
untuk menghadapi) umat Kristen yang fundamentalis. Tapi buku ini 
tetap ada sisi yang kurang ideal. Mungkin kita yang berdiri di sisi 
sebagai umat Buddha hanya menganggap ini merupakan sebuah kajian 
perbandingan agama. Tapi mereka tidak akan berpandangan demikian. 
Jika kajian perbandingan berbentuk demikian, maka akan sangat mudah 
terjadi eskalasi konflik yang telah ada bibitnya dikalangan mereka 
(di kita sendiri tidak bermasalah). Untuk meredam sikap konflik 
mereka terhadap kita (umat Buddha) bukan dengan cara menyanggah 
kebenaran mereka. Kita tahu bahwa pola pikir mereka sudah begitu 
parahnya hingga sudah tidak berpikir rasional (tidak rasional karena 
mereka menganggap agama mereka satu2nya kebenaran). Jadi dengan 
argument yang serasio apapun tidaklah berguna untuk meredam mereka 
(para fundamentalis). Jika mereka mengkritik kita, Kita tidak 
mungkin akan memukul mereka, tapi masalahnya mereka akan memukul 
kita jika kita mengkritik mereka (asumsi bahwa mereka tidak 
rasional). Memukul saya ya gak masalah, tapi bagaimana kalo memukul 
teman-teman saya hanya karena saya membuat pernyataan yang memancing 
emosi mereka? Beyond Belief memang tidak menjelekkan2 mereka,itu kan 
dari sudut pandang umat Buddha,dari sudut pandang para scholar,  
tapi di mata mereka yang irasional seperti mereka yang 
fundamentalis, ya...gimana gitu..
Jika Harun Yahya mengkritik kita, ya biarkan saja, jika kita balas 
ntar vihara di bom (misalnya). Bukan takut lho.. kalo ngebom saya ya 
pasrahlah, tapi kalo gara2 saya, anak anak dan wanita yang gak 
bersalah kena getahnya gimana ayo.. 
Jangan memandang lenyapnya agama Buddha karena lemah, karena gak 
berani lawan. Yang lawan itu justru menciptakan konflik tak berakhir 
seperti Palestina ama israel. Islam radikal dan Kristen 
Fundamentalis. Islam moderat ya nggak gitu, Kristen moderat ya gak 
gitu. 

Bagi umat Buddha sendiri, cara untuk memperkuat keyakinan bukanlah 
dengan membandingkan keunggulan Buddhisme dengan agama lain. Mereka 
yang gampang terpengaruh oleh Kristen fundamentalis itu merupakan 
tanggung jawab kita bersama sebagai umat Buddha yang terlambat 
memberi bimbingan kepada mereka. Bukan kesalahan Kristen 
fundamentalis. Demikian juga mereka yang terperosot dalam buaian 5 
nafsu keinginan pun karena mereka belum mendapat bimbingan 
Buddhasasana. Tidaklah mungkin kita menyalahi 5 nafsu keinginan.  
Dulu saya sangat antusias dengan buku Beyond Belief. Saya merasa 
dapat menghadapi para Kristen fundamentalis dengan penuh percaya 
diri. Tapi ternyata kita hanya dapat mempertahankan diri. Dari sisi 
memberi manfaat kepada kedua belah pihak, saya rasa masih kurang 
ideal. Ada satu cara yang lebih ideal. Contohnya jika mereka datang 
untuk mengkritik agama Buddha begini begitu, ya kita katakan bahwa 
agama Buddha tidak begini begitu, bukan begini begitu. Kita tidak 
perlu mengatakan agama kamu malah begini begitu. Hasilnya adalah 
malahan mereka akan bereaksi secara emosional. Mengapa ? karena 
mereka adalah orang yang tidak rasional. Menghadapi orang yang tidak 
rasional bukan dengan cara mengkritik agama yang dianutnya. Tapi 
katakan saja bahwa agama kita tidak seburuk apa yang mereka 
bayangkan. Jelaskan dengan baik-baik. Lalu kita puji tugas2 
kemanusiaan yang mereka kerjakan. Memang hal itu layak dipuji, 
karena itu lintas agama. Kita juga bilang kita akan menjalankan 
tugas2 yang sama. Bahwa kita ini juga memiliki tugas tugas mulia. 
Jadi contohnya seperti itu. Saya rasa lebih ideal dibandingkan 
dengan kajian perbandingan agama yang malah dapat terjadi sikap 
sebal sama kita. Kita memang bukan bertujuan merendahkan mereka, 
tetapi di mata mereka  akan beranggapan sebaliknya. Mereka boleh 
mengkaji, membanding-bandingkan, Begitulah produk ilmu perbandingan 
agama yang diciptakan mereka dan jatuh2nya adalah meninggikan agama 
mereka, merendahkan agama lain. Tapi kita tidak perlu belajar 
seperti mereka. Tidak perlu mengikuti cara2 mereka. Dalam agama 
Buddha, yang dipelajari adalah mengkaji Sutra untuk melatih diri , 
menjalankan Sila untuk mengendalikan diri dan mengembangkan Prajna. 
Bukan menjadikan Buddhisme itu sebagai intitusi.  Karena tidak ada 
relevansi dengan pengikisan noda batin. Kita tidak ingin menjadi 
cendikiawan Buddhist. Yang kita perlukan adalah menjadi Buddha (yang 
telah sadar).   

Saya lebih suka dengan misi master Chingkung yang merangkul semua 
agama. Beliau lebih banyak mengumbar pujian pada semua agama alih-
alih mengkritiknya. Sama seperit Thich Nhat Hanh dan praktisi 
Therevada lainnya.    Melalui cara ini, perdamaian dunia lebih 
terjamin. 


Demikianlah pendapat saya. Semoga bro Tan dapat memahami maksud 
saya. Mungkin pendapat saya ini boleh dianggap sebagai sebuah saran. 
Apakah saran ini dapat diterima? Jika tidak, mohon jelaskan mengapa, 
saya dengan senang hati menerimanya. Jika tidak, tolong jelaskan 
alasannya, dan saya akan menganggapnya sebagai pelajaran yang 
berharga. 


Amitofo, 

Cg ik





  
    



--- In [email protected], "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Sdr. Chingik yang budiman,
> 
> Sebelumnya saya ucapkan selamat tahun baru imlek, sin chun 
kionghie 
> thiam hok thiam siu.
> Buku Beyond Belief tidak dapat disebut menjelek-jelekkan agama 
lain, 
> karena semuanya didasari oleh otorita yang valid atau semuanya 
> dilandasi secara tekstual. Dalam ilmu perbandingan agama hal ini 
> tidak dapat disebut menjelek-jelekkan. Analogi dalam kehidupan 
sehari-
> hari adalah saat seorang guru memeriksa ulangan murid-muridnya, 
nah 
> apakah Anda akan menyebut guru itu mencari-cari kesalahan 
muridnya? 
> Mengapa tidak memberi saja semua murid nilai 100? Tentu saja ini 
> bukanlah toleransi sejati. Toleransi sejati tidak ada hubungannya 
> dengan kritik ilmiah (pure reasoning) terhadap suatu agama. Saya 
> sudah baca keseluruhan buku Beyond Belief (mungkin sudah ratusan 
> kali), tetapi saya lihat bahwa kritiknya semua dilandasi oleh teks-
> teks agama yang dikritiknya. Justru saya melihat ini sangat 
positif 
> dan membuat mereka untuk lebih merenungkan kembali keabsahan atau 
> kevalidan agamanya, baik dari segi moral, etika, ataupun nilai-
nilai 
> kebajikan. 
> Saya juga banyak membaca buku-buku karangan scholar2 Barat seperti 
> Hans Wolfgang Schumann dan David J. Kalupahana. Mereka berpendapat 
> bahwa ajaran Buddha mengalami evolusi pula dan Tripitaka tidaklah 
> langsung seperti dalam bentuknya yang dikenal sekarang. Apakah 
mereka 
> mencari-cari kesalahan atau kelemahan Buddhisme? Tentu tidak! Saya 
> justru sangat berpegang pada karya-karya mereka. Karya para 
scholar 
> kenamaan itu bukanlah serangan terhadap Buddhisme.
> SElanjutnya, di zaman sekarang banyak orang dalam dunia Buddhis 
yang 
> sok toleran melakukan tindakan "maling teriak maling." Mereka 
> mengecam orang yang gemar mengkritik agama lain (meski secara 
ilmiah) 
> sebagai tidak toleran. Padahal kecaman terhadap orang yang "tidak 
> toleran" itu juga dapat dikatakan sebagai bentuk intoleransi. 
Orang 
> yang toleran sejati harus dapat pula mentoleransi orang-orang 
> yang "tidak toleran." Ini adalah suatu kesalahan yang tanpa sadar 
> sering dilakukan.
> Berbeda dengan buku Harun Yahya, mengatakan Buddhisme sebagai 
> penyembah berhalas jelas tidak dilandasi semangat ilmiah serta 
tidak 
> didukung oleh bukti-bukti tekstual. Padahal Vajracchedika 
> Prajnaparamita Sutra (Jinggangjing) telah dengan jelas mengatakan 
> bahwa orang yang mencari Buddha dalam wujud dan suara telah berada 
di 
> jalan yang sesat. Kalau Harun Yahya hendak mengkritik Buddhisme, 
> silakan pergunakan ayat-ayat Buddhis sendiri dan bukan 
mengutarakan 
> opini dia yang berasal dari pengamatan dangkal akan sesuatu. Saya 
> persilakan Harun Yahya untuk mengobok-obok naskah suci Buddhis dan 
> temukan "kelemahan"nya. Nanti kalau ada akan saya tanggapi dan 
kupas 
> hal itu.
> Jadi, tentu saja buku Beyond Belief dan buku Harun Yahya sangat 
> berbeda. Dari segi intelektualitas saja Harun Yahya melakukan 
blunder 
> atau kebodohan fatal dengan mengkritik teori evolusi, padahal itu 
> adalah suatu teori mantap dalam sains yang telah dikukuhkan oleh 
> banyak bukti ilmiah. Semua opini dia dalam buku itu yang saya baca 
> hanya merupakan rekayasanya sendiri saja. Tidak pernah dia 
berusaha 
> membantah pendapat para kampiun teori evolusi seperti Richard 
Leakey 
> dan Charles Dawkins (bukan Darwin, profesor ini masih hidup dan 
> mengajar), dan memang tentu saja sangat mustahil membantah 
pendapat 
> para pakar tersebut. Buku2 ilmiah mereka telah banyak diterbitkan 
> oleh KPG (Kelompok Penerbit Gramedia) dan saya memang 
mengoleksinya. 
> SEtiap ada buku-buku mereka yang diterbitkan pasti langsung saya 
> sambar.
> Jadi saya menyarankan agar kita semua menanggapi segala sesuatu 
> secara bijaksana dan ilmiah, dan tidak hanya mengandalkan bentukan 
> pikiran semata. Analisalah segala sesuatu dengan seksama, begitu 
pula 
> buku Beyond Belief dan Harun Yahya. SElain itu jangan alergi 
dengan 
> studi perbandingan agama. Cobalah tarik garis perbedaan antara 
ilmu 
> kritik agama dengan menjelek-jelekkan agama lain atau sikap 
> intoleransi. Ada kawan saya, yang nampaknya tidak pernah 
menjelekkan 
> agama lain, tetapi seluruh nama karyawannya berakhiran 
dengan "us." 
> Nah apakah orang ini toleran? Ada pula kawan saya yang sangat 
gemar 
> mengikuti perbandingan agama (orang Buddhis), tetapi karyawannya 
ada 
> yang Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dll. Nah apakah orang ini 
tidak 
> toleran? Saya orang yang sangat sering berkoar2 masalah 
perbandingan 
> agama, tetapi saya punya banyak kawan baik dari berbagai agama. 
> Apakah saya orang yang tidak toleran? Ayolah Bro dan Sis, kita 
> kerahkan seluruh kemampuan analisa kita dan tidak memberikan 
> tanggapan dangkal terhadap sesuatu.
> 
> Demikian saya kira sekian saja penjelasan saya. Mohon maaf bila 
ada 
> kata yang salah.
> 
> Salam metta,
> 
> Tan
> 
> --- In [email protected], "ching ik/ djoni" 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Bro Tan,
> > 
> > Jika ada yang mengatakan keburukan ajaran Buddha karena kesalah 
> > pahamannya, kita memang sepatutnya memberi penjelasan secara 
arif. 
> > Tapi apakah (hanya karena dia salah memahami ajaran yang kita 
> > yakini) lalu kita perlu menguak-nguak keburukan orang atau 
ajaran 
> > lain, mencari-cari kesalahannya?  Saya rasa ini sangat 
bertentangan 
> > dengan semangat spiritualitas Buddhisme. Beyond Belief adalah 
> > contohnya.   
> >   
> > --- In [email protected], "dh4rm4duta" 
<[EMAIL PROTECTED]> 
> > wrote:
> > >
> > > Kalau Beyond Belief salah arah, silakan coba tunjukkan mana 
yang 
> > > salah, mari kita kupas rame-rame.
> > > 
> > > Metta,
> > > 
> > > Tan
> > > 
> > > --- In [email protected], perdana hadisantoso 
> > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > >
> > > >       
> > > > 
> > > > dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:     Namo Buddhaya,
> > > > 
> > > > Sekedar info, dalam buku karya Harun Yahya yang berjudul 
Agama 
> > > > Darwinisme halaman 29 terdapat gambar Buddha dengan 
> > > > keterangan: "Penganut ajaran Buddha nyembah patung Buddha 
yang 
> > > buat 
> > > > sendiri dengan tangan sendiri karena menganggap bahwa patung 
> > > tersebut 
> > > > dapat melihat dan mendengar." Halaman 28: "Seperti semua 
agama 
> > > berhala 
> > > > lainnya, ajaran Buddha menolak tentang adanya Tuhan Sang 
> > Pencipta. 
> > > > Agama dengan sikap mental evolusionis antara lain Konghucu, 
> Tao, 
> > > dan 
> > > > Buddha."
> > > > 
> > > > Nah, bagaimana pendapat rekan-rekan sekalian?
> > > > 
> > > > Metta,
> > > > 
> > > > Tan
> > > > 
> > > >
> >
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke