Pertanyaan saya masih tetap: mengapa data base yang dibangun 2004 tidak 
digunakan?
selama 5 tahun saya pikir hanya dikota besar saja yang terjadi mutasi 
besar, itupun hanya 3 kemungkinan yaitu meninggal, pindah alamat, dan  
pemilih baru. Simpel kan.

Namun, kenapa yang simpel dibuat sulit?


 

sayid wrote:
> Kang Mas Ibenk,
> Kabar yang sampai ke daerah katanya bukannya KPU yang tidak mau pakai 
> data kependudukan pemerintah, namun program KPU yang ternyata tidak bisa 
> baca data exsel dalam bentuk laporan DPS dari pemerintah (meskipun 
> pemerintah juga sudah tahu kalau KPU butuhnya dalam bentuk data bukan 
> laporan), dan akhirnya semuanya jadi beban kecamatan untuk bisa 
> mengkoreksi DPS  yang sudah diterima tanpa mampu melakukan koreksi antar 
> wilayah  yang bisa dilakukan dengan program KPU seperti waktu pemilu 
> tahun 2004..
> Moga-moga hal itu seperti ini hanya karena pejabat Pemerintah dan KPU 
> sama sama tidak mengerti apa bedanya database dengan data laporan.
> Semoga data DPT yang dihimpun oleh pak Camat beserta kelompok relawan 
> seperti Pak Purba dan banyak sukerelawan pembela Bangsa bisa 
> menyelamatkan negara ini dari bencana.
> Selalu sukses.
> Sayid Yudhoyono
>
> ibenk di gmail wrote:
>   
>> Yth. Bp. Sayid & Bapak/Ibu yang berbahagia,
>>  
>> Seandainya pengurusan kependudukan memang sederhana, tentu 
>> administrasi kependudukan Kita sudah beres dari dulu. Adalah 
>> pertanyaan besar mengapa KPU tidak percaya data kependudukan Kita. Thanks
>>  
>> Sukses selalu,
>> Ibenk 
>>  
>> /-------Original Message-------/
>>  
>>
>>
>>     
>
>
> ------------------------------------
>
> http://www.egovindonesia.com/Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>   

Kirim email ke