Terima kasih Pak Sulzer,
Gambaran menarik untuk menyadarkan kita, kalau didalami sampai masalah 
harga, terkadang kita bisa kaget, melihat ikan yang jenisnya hanya 
banyak dinegara kita bisa dijual lebih murah diluar negeri daripada di 
negeri asal ikan itu sendiri.
Banyak yang tidak normal terjadi di negeri ini, mulai dari produsen yang 
penghasilannya jauh lebih kecil dari pedagang perantara dari barang yang 
diproduksinya, hingga mau jual barang hasilnya sendiri ke pasar tidak 
bisa karena pasarnya sudah di kuasai makelar.
Demikian pula soal PPP, 5-10 tahun lalu banyak pejabat di beberapa 
negara kurang berkembang yang termakan hasutan konsultan asing dan 
pebisnis untuk berpikir bahwa kerjasaman operasi dengan swasta merupakan 
solusi paling cepat dalam menerapkan penggunaan ICT sebagai sarana 
pendukung layanan publik oleh pemerintahan di Negerinya.
Alhasil ada dua negara yang melaksanakan pola tersebut proses 
administrasi dan layanan publik dioperasikan oleh perusahaan swasta, 
salah satunya malah perusahaan swasta yang dimiliki oleh perusahaan 
milik negara tetangga.
Memang solusi pengadaan dan penyediaan softwarenya dengan cepat bisa 
dilakukan tanpa ribut cari dana pinjaman luar negeri atau menyisihkan 
anggaran untuk itu, dan meski agak sulit, implementasi operasional 
ternyata dapat dilaksanakan dengan komando, sehingga terapan ICT 
memberikan lompatan manfaat bagi sebagian administrasi Pemerintahannya 
dan juga layanan publik di area yang di operasikan bersama swasta.
Namun apa yang terjadi setelah 3 tahun kemudian, ternyata salah satu 
negara akhirnya mengambil alih saham mayoritas dari perusahaan tersebut 
dan mengambil alih kepemimpinan operasionalnya, dan yang satu lagi 
karena kerjasama antar negara yang secara kontrak jangka panjang tidak 
dapat diputus, akhirnya negara tersebut harus meng-amandemen undang-2nya 
agar bisa mengambil alih kembali kendali sistem informasi bagi layanan 
Publik yang dijalankan oleh negara lain.
Apa sebenarnya yang terjadi?.
Untuk negara pertama selain masalah kendali informasi ditangan swasta, 
tidak ada lagi kerahasiaan negara ditangan pemerintah, karena perusahaan 
pelaksana operasi juga tahu apa yang terjadi, disisi lain layanan publik 
menjadi semakin mahal dan bertentangan dengan kesepakatan dengan WTO 
dimana layanan publik oleh pemerintah harus dilaksanakan dengan nilai 
yang wajar dan dan tidak boleh mengambil keuntungan, sementara dari 
laporan publik perusahaan pengelolah dapat dibuktikan bahwa perusahaan 
tersebut mendapat keuntungan besar dari kegiatan layanan publik.
Untuk negara yang kedua, beberapa kali terjadi indikasi kebocoran 
informasi sehingga negara pemilik informasi tidak bisa mengatur strategi 
perdagangan internationalnya secara benar, meski secara audit dibuktikan 
bahwa proses memenuhi syarat keamanan, namun tetap saja ada indikasi 
kebocoran informasi. Sementara issue hilangnya sebagian kedaulatan 
negara akibat kerjasama dengan perusahaan negara tetangga dalam bentuk 
penjualan aset negara maupun kontrak proses sistem informasi dan layanan 
publik untuk jangka panjang menjadi issue politik yang akhirnya 
menjatuhkan pimpinan negara tersebut dari jabatannya.
Belajar dari kedua pengalaman negara tersebut, dan membandingkannya 
dengan kasus2 yang mungkin sebenarnya lebih banyak terjadi di Negeri 
kita, maka kita perlu mengkaji dengan cermat dampak dari pengalihan 
tanggung jawab pemerintah kepada perusahaan swasta.
Kalau mengalihkan tanggung jawab Jaringan data, Pembelian Hardware 
menjadi sewa dll mungkin tidak sensitif. Tapi menggantungkan diri pada 
satu perusahaan, penyerahan proses pengolahan data tanggung jawab 
penyimpanan Informasi, pelaksanaan proses data publik ke pihak lain apa 
lagi kepada pihak asing (seperti yang dilakukan oleh beberapa Bank di 
Indonesia) merupakan hal yang perlu di analisa dengan baik, karena bisa 
mengurangi kedaulatan suatu bangsa.
Saya yakin bila kita semua tahu bagaimana negara lain saat ini ada yang 
secara tak langsung mengendalikan irama ekonomi negara lain melalui 
kendali informasi dan menjepit negara lain untuk tergantung padanya, dan 
apabila kita juga tahu bagaimana mereka memfasilitasi para pencuri dan 
koruptor dinegerinya secara sistematis sehingga bisa menempatkan dirinya 
sebagai bangsa yang beradab, tertib dan sopan, padahal sebenarnya mereka 
cuma hidup dari makelar dan tukang tadah. Dan itu semua, akan terajadi 
terus bila tidak ada kendali informasi publik yang baik oleh pemerintah 
dan masyarakat kita .
Soal ketentuan dan peraturan untuk pengamanan informasi publik, setahu 
saya DepKominfo sudah punya banyak sekali dan sudah beberapa kali di 
sosialisasikan, namun bila peraturan tersebut tidak dijadikan peraturan 
pemerintah atau undang undang, maka Departemen lain atau pemerintah 
daerah yang merasa diluar komando diyakini akan sulit untuk taat kepada 
aturan Depkominfo, meski mereka tahu risikonya.
Semoga bermanfaat.

Sulzer wrote:
> Yth Pak HM,
> Beberapa minggu yang lalu Saya terlibat pembicaraan soal Ikan dengan 
> seorang ibu tua di Singapore. Dengan Rasa simpati, beliau bilang;
> "Kalian orang Indonesia itu tidak fair dengan diri sendiri. Mengapa 
> ikan yang bagus-bagus di-export ke sini (Singapore), sementara yang 
> kurang bagus dijual di Indonesia".
> "We eat good quality fish, you know....", dia menambahkan.
> Saya jadi teringat juga, salah satu Rekan kita di milist eGov ini 
> pernah menulis, bagaimana Ibu-nya menjual Jagung-jagung yang bagus ke 
> pasar, sementara untuk anak-nya sendiri diberikan Jagung-jagung busuk.
> Itu lah pilihan, Pak HM.... Setiap pilihan ada Resiko-nya....
> Tidak membuat pilihan-pun ada resiko-nya, khan...???
> Jadi Pak HM, tergantung dari PEMDA-nya sendiri. Mana yang menurut 
> mereka lebih penting. Mana yang menurut mereka harus didahulukan.... 
> Masa Uang kita kurang...??
> Sudah beberapa Tahun ini Serapan Anggaran Negara kita sangat... 
> sangat... sangat... kurang..., bukan??
> Kalau memang penting..., pasti disetujui....
> Di beberapa daerah, justru yang Saya lihat seperti "OKD" itu ya.., 
> orang-orang PEMDA... :) Benar, ngga..???
> Lihat aja di Jawa Tengah, hampir semua Lembaga Pembiayaan yang 
> beroperasi di level Kecamatan dan Desa, MENDAHULUKAN yang punya SK 
> Pegawai Negeri untuk diberi pinjaman pembelian motor, alat-alat rumah 
> tangga, dan lain-lain...
> Artinya apa...?? OKD itu ya..., Pegawai Negeri..... :D
> Semoga Saya salah menafsirkan realita....
> Salam,
> Sulzer Jusman
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> *From:* HM <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Cc:* [email protected]; [email protected]
> *Sent:* Tue, December 15, 2009 10:31:12 AM
> *Subject:* Peran Dekominfo untuk merangsang PPP (Public-Private 
> Partnership) of e-Government Project RE: [eGovIndonesia] Studi Tour 
> implementasi egov
>
> Pak Ibenk & Pak Sulze Yth.
>
>
> Mohon ijin untuk memberikan usul agar Depkominfo juga mendorong 
> terciptanya "interaksi yang kondusif" antara "Pemda" & "OKD = Orang 
> Kaya Daerah" .. dimana kita semua mengerti bahwa untuk banyak 
> pemkab/pemkot di seluruh penjuru NKRI mengalami "kesulitan finansial 
> signifikan" untuk membiayai pengembangan e-Gov di masing2 kab/kot nya 
> (bagi pemprov kendala finansial ini lebih tidak signifikan) ..
>
>
> Komunitas OKD di kab/kota seluruh NKRI saat ini sebenarnya merupakan 
> "sumberdaya utama potensial" yang masih belum optimal "kontribusi 
> lahir & batinnya" bagi pengembangan e-Gov di kab/kot .. nah dengan 
> mendorong "interaksi yang kondusif" tadi di atas .. maka Komunitas OKD 
> di setiap kab/kot akan bisa terpacu untuk melakukan "everybody happy 
> commercial based public-private partnership e-government project 
> development" dimana untuk jangka menengah (5 tahun) dan jangka panjang 
> (25 tahun) ..
>
>
> Hingga saat ini PPP belum dioptimalkan potensinya sebagai mekanisme 
> dari-oleh-untuk masyarakat kab/kot di seluruh NKRI .. yang selain akan 
> mendorong percepatan e-Gov pemkab/pemkot yang swadana-swadaya- 
> swakarya .. juga akan memelihara kesinambungan keharmonisan antara 
> cluster2 di dalam masyarakat berdasarkan "sumberdana" :D
>
>
> Demi keharmonisan dan keselarasan antara Pemprov/Pemkab/ Pemkot jago2 
> visi, jago2 realisasi & jago2 visi+realisasi ..
>
>
> Salam E-NKRI!
>
>
> HM
>
>
>
> Disclaimer : This e-mail and any attachments may contain confidential 
> and privileged information. If you are not the intended recipient, 
> please notify the sender immediately by return e-mail, delete this 
> e-mail and destroy any copies. Any dissemination or use of this 
> information by a person other than the intended recipient is 
> unauthorized and may be illegal.
>
> --- On *Tue, 12/15/09, Ibenk < /FONT>/<iben...@gmail. com>/* wrote:
>
>
>     From: Ibenk <iben...@gmail. com>
>     Subject: RE: [eGovIndonesia] Studi Tour implementasi egov
>     To: egov-indonesia@ yahoogroups. com
>     Date: Tuesday, December 15, 2009, 9:16 AM
>
>     Usul yang sangat menarik dan konstruktif, Pak. Insya Allah teman2
>     di Depkominfo akan merespon dengan baik. Thanks
>
>     Sukses selalu,
>
>     Ibenk
>
>     *From:* egov-indonesia@ yahoogroups. com [mailto:egov- indonesia@
>     yahoogroups. com] *On Behalf Of *Sulzer
>     *Sent:* 15 Desember 2009 6:21
>     *To:* egov-indonesia@ yahoogroups. com
>     *Subject:* Re: [eGovIndonesia] Studi Tour implementasi egov
>
>     Saya entah kenapa masih suka nimbrung di milis eGov ini, yaa... :)
>
>     Mungkin terlalu Sayang sama Negara ini....
>
>     Pak Aba Fan,
>
>     Kalau SOP rasanya kita terlalu menodong. Sebaiknya tidak terlalu
>     optimis Depkominfo mampu menyediakan.
>
>     Menurut Saya, yang paling bagus dan konstruktif adalah, Depkominfo
>     memberikan kisi-kisi-nya saja dan curahkan usaha dan perhatian
>     untuk mendorong kekuatan kompetensi-kompeten si eGov yang BARU
>     untuk lahir di setiap PEMDA.
>
>     Depkominfo harus lebih giat menjadi FASILITATOR.
>
>     Depkominfo harus lebih banyak menyediakan data-data analysis
>     Kekuatan/Kelemahan inisiatif eGov per-PEMDA, bukan per-aplikasi.
>
>     Depkominfo harus mampu meng-identifikasi, meng-interpolasikan
>     dalam diagram "VISI vs REALISASI" dari setiap PEMDA, lalu
>     informasi itu di-sharing keseluruh PEMDA. Dari situ kita bisa tahu
>     dan lihat, PEMDA mana yang JAGO VISI saja, dan PEMDA mana yang
>     selalu tumbuh di garis "Gradien VISI dan REALISASI" yang "selalu"
>     seimbang.
>
>     Lebih konstruktif, khan....??
>
>     Semoga tidak meng-guru-i. Saya cuma usul... :)
>
>     Salam,
>
>     Sulzer Jusman
>
>
>
> 
> ------------------------------------------------------------------------
>
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG - www.avg.com 
> Version: 9.0.716 / Virus Database: 270.14.108/2565 - Release Date: 12/15/09 
> 03:40:00
>
>   


------------------------------------

http://www.egovindonesia.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/egov-indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/egov-indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke