Yth Rekan,
Sejak kreasi suku dan bangsa menjadi hak cipta, maka hal seperti ini 
menjadi sangat sensitif dan menjadi issue pemecah belah kesatuan bangsa2 
di Asia, terutama antara Indonesia dengan Malaysia.

Dua minggu lalu saya sempat menjadi anggauta Delegasi RI dalam 
pembahasan teknis pelaksanaan keterbukaan data perdagangan antar negara 
ASEAN di Kuching Serawak untuk pelaksanaan layanan publik ASEAN Single 
Window, saya sempat tanyakan issue dan masalah kebudayaan tersebut 
kepada delegasi Malaysia, terutama tentang iklan2 dan pola promosi 
malaysia yang memberikan kesan bahwa budaya dari indonesia adalah budaya 
asli mereka..
Ternyata jawaban mereka membawa kita kesudut pandang yang agak berbeda 
dengan apa yang kita artikan selama ini. Mereka dengan iklan budayanya 
hanya untuk membuktikan bahwa malaysia adalah truly Asia, sebagaimana 
mereka pakai sebagai motto turisme selama ini. Mereka pakai iklan dengan 
budaya suku2 di Asia termasuk di indonesia bukan untuk mengakui bahwa 
budaya tersebut asli Malaysia, tapi untuk membuktikan bahwa semua budaya 
asia memang ada di Malaysia.
Saya berpikir bahwa apa yang mereka buat sama dengan issue yang pernah 
muncul waktu di buat taman mini indonesia indah di tahun 1973, dimana 
pengadaannya ditujukan agar para wisatawan tidak perlu datang ke seluruh 
Indonesia cukup ke taman mini semuanya ada, sehingga banyak menyebabkan 
protes mahasiswa terutama yang berasal dari daerah. Jadi saat ini pola 
promosi malaysia juga sama seperti itu, Wisatawan tidak perlu keliling 
Asia, cukup datang ke malaysia mereka bisa menikmati semua budaya Asia 
karena semua bisa dijumpai disana, dari mulai kulinernya hingga budayanya.

Dalam kasus Minangkabau, ternyata mereka juga tetap membawa nama 
minangkabau yang letaknya di Indonesia, bukan rumah Negeri sembilan yang 
merupakan negara bagian berbudaya Minang dan banyak rumah dengan 
arsitektur minang seperti di SUmatraBarat, sebagai bentuk pernyataan 
bahwa budaya Minang kabau (di Indonesia) juga ada di Malaysia.

Dalam hal ini saya tidak membela apa yang dilakukan dalam promosi wisata 
Malaysia, dan perlu pula kita lihat latar belakang siapa pemikir yang 
ada dibalik wisata tersebut, dan siapa saja yang terlibat melaksanakan 
pembuatan program promosi dan iklan tersebut. Dengan mengetahui siapa 
mereka maka dapat kita maklumi akan timbulnya issue negatif tersebut. 
Karena mereka sebagian besar berasal dari kelompok yang memang pro dan 
berasal dari negara tertentu di ASEAN yang banyak dirugikan bila ASEAN 
berhasil di satukan secara ekonomi, karena mereka tidak akan dapat lagi 
memfasilitasi pelarian koruptor, perdagangan gelap, penyelundupan, 
pencucian uang haram, pencucian barang haram, dll, yang de facto menjadi 
sumber pendorong besarnya pendapatan perkapita negara tersebut saat ini. 
Sehingga terlaksananya kerjasama dan persatuan bangsa2 di ASEAN dalam 
satu kesatuan kerjasama ekonomi dan budaya akan merupakan hal yang 
sangat menakutkan bagi mereka, oleh karenanya untuk mereka yang ikut 
dalam beberapa kegiatan antar negara dapat mengetahui, apa saja upaya 
mereka yang dalam kesepakatan antar negara mau bekerja sama, namun dalam 
pelaksanaanya berupaya agar tidak bisa dijalankan.

Kita perlu waspadai untuk tidak terkecoh dengan upaya pemecah belahan 
antar bangsa, karena dengan kerjasama antar bangsa ASEAN yang baik akan 
menyebabkan ASEAN menjadi kekuatan ekonomi yang tidak mudah kuasai 
dengan pola penjajahan ekonomi oleh pengusaha dari negara tertentu, 
termasuk termasuk napsu menjajah oleh negara tertentu di ASEAN pula.

Yang perlu kita lakukan segera secara nyata adalah, dengan luasnya pasar 
dan budaya bangsa kita harus cerdilk untuk memanfaatkannya dan 
menghindarkan upaya dimanfaatkan potensi pasar dan budaya oleh negara 
lain dengan kerja nyata bukan hanya bicara. Alasan kerjsama asing karena 
tidak ada dana investasi sebenarnya hanya alasan klasik yang 
dipergunakan, untuk hal itu kita perlu belajar dari cina, bagaimana 
menghimpun kekuatan rakyatnya untuk mengembangkan investasi dalam negeri 
pada awal perobahan sistem perkonomian mereka.
Adanya otonomi daerah merupakan jalan yang baik bila bisa dimanfaatkan 
dengan benar untuk tujuan kemakmuran rakyat, bukan kekuasan politik, 
untuk itu perlu segera kita pacu perkembangan ekonomi, wisata dan budaya 
daerah sesuai kemampuan masing masing, kita perbaiki kembali budaya kita 
yang saat ini di rusak oleh citra keberingasan benturan antar suku dan 
kecurigaan akibat eforia demokrasi yang kebablasan, untuk kembali kepada 
budaya indonesia yang penuh kerjsama saling menguntungkan, sopan santun 
dan pembangunan yang dilandasi dengan pemikiran positif, untuk kemudaian 
menjadi sendi utama penggerak ekonomi rakyat.
Karena bila hal tersebut bisa terlaksana, maka apa yang saya lihat dalam 
pengembangan ekonomi rakyat dan atraksi budaya dalam wisata di Malaysia 
adalah sangat sederhana , jauh bila dibandingkan dengan apa yang kita 
punya bila di kemas dan dapat disajikan dengan baik oleh bangsa Indonesia.
Semuanya sangat potensial untuk menjadi asset yang menguntungkan dan 
karena dapat mengundang wisatawan untuk tidak hanya datang ke "taman 
mini indonesia indah" saja tapi langsung bisa mendatangi tempat asal 
budaya, melihat budaya asli di seluruh pelosok Nusantara ini.

Demikian sekedar pandangan untuk menjadi masukan

Wass.
Hari S.noegroho


On 4/2/2010 9:24 PM, Soko Guru wrote:
>
> mohon maaf bagi rekan2 e-gov, mohon perhatian kenapa disetujui, ini 
> milik indonesia.
>
> "The approved design for the pavilion is based on Minangkabau 
> architecture"
>
> arsitektur minangkabau diakui oleh malaysia sebagai arsitektur asli 
> malaysia?
> dimana jati diri bangsa kita?
> silahkan klik link di bawah
>
> apa minang kabau sudah pindah ke malaysia?
>
> http://www.archdaily.com/35071/malaysia-pavilion-for-shanghai-world-expo-2010/
>  
> <http://www.archdaily.com/35071/malaysia-pavilion-for-shanghai-world-expo-2010/>
>
> 
>
>
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG - www.avg.com
> Version: 9.0.800 / Virus Database: 271.1.1/2786 - Release Date: 04/03/10 
> 02:32:00
>
>    


------------------------------------

http://www.egovindonesia.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/egov-indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/egov-indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke