saya "menggaris bawahi" pernyataan Bapak Noeg berikut:
------------
"Yang perlu kita lakukan segera secara nyata adalah, dengan luasnya pasar
dan budaya bangsa kita harus cerdilk untuk memanfaatkannya dan
menghindarkan upaya dimanfaatkan potensi pasar dan budaya oleh negara
lain dengan kerja nyata bukan hanya bicara."
------------

(diluar konteks klaim-menglaim)
yang saya kagumi dari mereka adalah
mata mereka jeli melihat peluang
menghargai aset budaya yang ada
dan kemudian mempromosikannya

terima kasih atas infonya Pak

agus suhartono

2010/4/3 hnoe...@indonet <[email protected]>:
> Yth Rekan,
> Sejak kreasi suku dan bangsa menjadi hak cipta, maka hal seperti ini
> menjadi sangat sensitif dan menjadi issue pemecah belah kesatuan bangsa2
> di Asia, terutama antara Indonesia dengan Malaysia.
>
> Dua minggu lalu saya sempat menjadi anggauta Delegasi RI dalam
> pembahasan teknis pelaksanaan keterbukaan data perdagangan antar negara
> ASEAN di Kuching Serawak untuk pelaksanaan layanan publik ASEAN Single
> Window, saya sempat tanyakan issue dan masalah kebudayaan tersebut
> kepada delegasi Malaysia, terutama tentang iklan2 dan pola promosi
> malaysia yang memberikan kesan bahwa budaya dari indonesia adalah budaya
> asli mereka..
> Ternyata jawaban mereka membawa kita kesudut pandang yang agak berbeda
> dengan apa yang kita artikan selama ini. Mereka dengan iklan budayanya
> hanya untuk membuktikan bahwa malaysia adalah truly Asia, sebagaimana
> mereka pakai sebagai motto turisme selama ini. Mereka pakai iklan dengan
> budaya suku2 di Asia termasuk di indonesia bukan untuk mengakui bahwa
> budaya tersebut asli Malaysia, tapi untuk membuktikan bahwa semua budaya
> asia memang ada di Malaysia.
> Saya berpikir bahwa apa yang mereka buat sama dengan issue yang pernah
> muncul waktu di buat taman mini indonesia indah di tahun 1973, dimana
> pengadaannya ditujukan agar para wisatawan tidak perlu datang ke seluruh
> Indonesia cukup ke taman mini semuanya ada, sehingga banyak menyebabkan
> protes mahasiswa terutama yang berasal dari daerah. Jadi saat ini pola
> promosi malaysia juga sama seperti itu, Wisatawan tidak perlu keliling
> Asia, cukup datang ke malaysia mereka bisa menikmati semua budaya Asia
> karena semua bisa dijumpai disana, dari mulai kulinernya hingga budayanya.
>
> Dalam kasus Minangkabau, ternyata mereka juga tetap membawa nama
> minangkabau yang letaknya di Indonesia, bukan rumah Negeri sembilan yang
> merupakan negara bagian berbudaya Minang dan banyak rumah dengan
> arsitektur minang seperti di SUmatraBarat, sebagai bentuk pernyataan
> bahwa budaya Minang kabau (di Indonesia) juga ada di Malaysia.
>
> Dalam hal ini saya tidak membela apa yang dilakukan dalam promosi wisata
> Malaysia, dan perlu pula kita lihat latar belakang siapa pemikir yang
> ada dibalik wisata tersebut, dan siapa saja yang terlibat melaksanakan
> pembuatan program promosi dan iklan tersebut. Dengan mengetahui siapa
> mereka maka dapat kita maklumi akan timbulnya issue negatif tersebut.
> Karena mereka sebagian besar berasal dari kelompok yang memang pro dan
> berasal dari negara tertentu di ASEAN yang banyak dirugikan bila ASEAN
> berhasil di satukan secara ekonomi, karena mereka tidak akan dapat lagi
> memfasilitasi pelarian koruptor, perdagangan gelap, penyelundupan,
> pencucian uang haram, pencucian barang haram, dll, yang de facto menjadi
> sumber pendorong besarnya pendapatan perkapita negara tersebut saat ini.
> Sehingga terlaksananya kerjasama dan persatuan bangsa2 di ASEAN dalam
> satu kesatuan kerjasama ekonomi dan budaya akan merupakan hal yang
> sangat menakutkan bagi mereka, oleh karenanya untuk mereka yang ikut
> dalam beberapa kegiatan antar negara dapat mengetahui, apa saja upaya
> mereka yang dalam kesepakatan antar negara mau bekerja sama, namun dalam
> pelaksanaanya berupaya agar tidak bisa dijalankan.
>
> Kita perlu waspadai untuk tidak terkecoh dengan upaya pemecah belahan
> antar bangsa, karena dengan kerjasama antar bangsa ASEAN yang baik akan
> menyebabkan ASEAN menjadi kekuatan ekonomi yang tidak mudah kuasai
> dengan pola penjajahan ekonomi oleh pengusaha dari negara tertentu,
> termasuk termasuk napsu menjajah oleh negara tertentu di ASEAN pula.
>
> Yang perlu kita lakukan segera secara nyata adalah, dengan luasnya pasar
> dan budaya bangsa kita harus cerdilk untuk memanfaatkannya dan
> menghindarkan upaya dimanfaatkan potensi pasar dan budaya oleh negara
> lain dengan kerja nyata bukan hanya bicara. Alasan kerjsama asing karena
> tidak ada dana investasi sebenarnya hanya alasan klasik yang
> dipergunakan, untuk hal itu kita perlu belajar dari cina, bagaimana
> menghimpun kekuatan rakyatnya untuk mengembangkan investasi dalam negeri
> pada awal perobahan sistem perkonomian mereka.
> Adanya otonomi daerah merupakan jalan yang baik bila bisa dimanfaatkan
> dengan benar untuk tujuan kemakmuran rakyat, bukan kekuasan politik,
> untuk itu perlu segera kita pacu perkembangan ekonomi, wisata dan budaya
> daerah sesuai kemampuan masing masing, kita perbaiki kembali budaya kita
> yang saat ini di rusak oleh citra keberingasan benturan antar suku dan
> kecurigaan akibat eforia demokrasi yang kebablasan, untuk kembali kepada
> budaya indonesia yang penuh kerjsama saling menguntungkan, sopan santun
> dan pembangunan yang dilandasi dengan pemikiran positif, untuk kemudaian
> menjadi sendi utama penggerak ekonomi rakyat.
> Karena bila hal tersebut bisa terlaksana, maka apa yang saya lihat dalam
> pengembangan ekonomi rakyat dan atraksi budaya dalam wisata di Malaysia
> adalah sangat sederhana , jauh bila dibandingkan dengan apa yang kita
> punya bila di kemas dan dapat disajikan dengan baik oleh bangsa Indonesia.
> Semuanya sangat potensial untuk menjadi asset yang menguntungkan dan
> karena dapat mengundang wisatawan untuk tidak hanya datang ke "taman
> mini indonesia indah" saja tapi langsung bisa mendatangi tempat asal
> budaya, melihat budaya asli di seluruh pelosok Nusantara ini.
>
> Demikian sekedar pandangan untuk menjadi masukan
>
> Wass.
> Hari S.noegroho
>
>
> On 4/2/2010 9:24 PM, Soko Guru wrote:
>>
>> mohon maaf bagi rekan2 e-gov, mohon perhatian kenapa disetujui, ini
>> milik indonesia.
>>
>> "The approved design for the pavilion is based on Minangkabau
>> architecture"
>>
>> arsitektur minangkabau diakui oleh malaysia sebagai arsitektur asli
>> malaysia?
>> dimana jati diri bangsa kita?
>> silahkan klik link di bawah
>>
>> apa minang kabau sudah pindah ke malaysia?
>>
>> http://www.archdaily.com/35071/malaysia-pavilion-for-shanghai-world-expo-2010/
>> <http://www.archdaily.com/35071/malaysia-pavilion-for-shanghai-world-expo-2010/>
>>
>>
>>
>>
>>
>> No virus found in this incoming message.
>> Checked by AVG - www.avg.com
>> Version: 9.0.800 / Virus Database: 271.1.1/2786 - Release Date: 04/03/10 
>> 02:32:00
>>
>>
>
>
> ------------------------------------
>
> http://www.egovindonesia.com/Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke