Mungkin bukan buaday Islam, tapi budaya arab....Bahkan sebenarnya sebelum Rasul
SAW diutus di tanah Arab, perang antar suku itu sangat kental sekali. apalagi
perang antar agama. Namun, ketika Rasul SAW diutus, semuanya berubah dan dia
membawa ajaran yang saat ini kita terapkan (apakah sudah diterapka oleh kita
dan anda juga secara kaffah, silakan tanyake dalam diri masing-masing). Semua
bersatu dan rasa trust antar sesamanya dan antar suku semakin tinggi.
Apa yang dihasilkan oleh Fukuyama saya yakin ada benarnya, namun tidak 100 %.
Semua kembali kepada masing-masing person dan lingkungannya. Namun, perlu
mungkin diingat bahwa mereka dalam menjalankan kegiatan ekonomi selalu
menggunakan perangkat tertulis sebagai bukti tertulis. Apakah ini bisa
dijadikan bahwa mereka memiliki trust kalau kegiatan2 ekonomi misalnya
didasarkan pada trust lisan? Contoh praktis misalnya Anda meminjamkan HP Anda
kepada saya yang belum anda kenal, apakah anda akan memberikan begitu saja
dengan percaya begitu saja atau anda membuat tanda terima peminjaman secara
tertulis. Saya yakin Anda telah baca buku Fukuyama tersebut, dan punya
jawabannnya bahkan menurut logika Anda sendiri.
Mungkin dari sekian negara, berdasarkan pengalaman saya, hanya Jepang yang
punya trust cukup tinggi.
Terima kasih
Wassalam,
Aziz
erwin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Fukuyama memang hebat dalam bukunya Trust, dia mencoba menganalisis
kaitan budaya dengan kinerja ekonomi suatu bangsa. Hasil penelitiannya
menunjukkan perusahaan besar itu sangat berkembang di AS, Jerman dan
Jepang. Tidak di negara2 lain. Dia menyebut satu kesamaan umum dalam
budaya masyarakat tersebut yaitu: trust, kepercayaan.
Pada ketiga bangsa itu tingkat kepercayaannya sangat tinggi. Orang mampu
mempercayai orang lain. Beda misalnya dengan bangsa Cina. Bangsa Cina
cenderung mempercayai sebatas kalangan keluarga saja. Sehingga
kebanyakan perusahaan yang tumbuh adalah perusahaan keluarga saja yang
kapasitasnya akan lebih terbatas.
Bagaimana dengan orang Islam?
Kalo tesis Fukuyama ini benar - artinya faktor budaya mempengaruhi
pengembangan ekonomi - maka pengembangan ekonomi Islam harus bekerja
lebih keras lagi. Dalam sejarah orang Islam sangat tidak percaya dengan
orang lain. Bukan hanya dengan orang agama lain tapi terhadap orang
Islam itu sendiri. Perseteruan panjang Suni-Syiah masih berlanjut hingga
saat ini. Penganiayaan terhadap kelompok Ahmadiyah yang jelas2 orang
Islam juga. Hamas dengan Fatah bukannya sibuk bunuh kapir yahudi, malah
sibuk bunuh2 an sendiri.
Budaya kita orang Muslim cenderung tidak toleran dus akan sulit bekerja
sama. Jadi para penggiat pengembangan ekonomi Islam seharusnya juga
memperhatikan faktor budaya kita yang terbelakang ini.
salam
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.