Salam kenal, 
   
  Sekadar mengingatkan bahwa ketika kita menyebutkan kata "Islam" maka 
sebaiknya kita mengacu pada seluruh perilaku dan sistem yang diberlakukan oleh 
Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin. Karena jika mengacu pada realitas saat 
ini, saya takut terminologi Islam menjadi (maaf) blur. Apakah syiah pantas 
disebut Islam mengingat dia menentang khulafaur Rasyidin kecuali Ali bin Abi 
Thalib ra? Saya disini tidak mengkafirkan suatu golongan. tapi mohon hati2 
menggunakan kata Islam dalam mengungkapkan pendapat. 
   
  YAng benar belum tentu banyak, yang banyak belum tentu benar
   
  Salam 

darmayuda yoedea <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          boleh jadi benar pendapat fukuyama, tapi boleh jadi juga salah.
tapi saya akan mencoba mengambil kalimat adam smith dalam bukunya the wealth of 
nation. dalam bukunya adam smith mengatakan bahwa perekonomian yang maju adalah 
perkonomian bangsa-bangsa arab, dan perekonomian yang terbelakang adalah 
bangsa-bangsa amerika latin. kalau kita sepakat bahwa ekionomi berkaitan dengan 
budaya, maka perekonomian yang maju akan secara linear menyatakan bahwa 
budayanya juga maju. jadi islam mana yang terbelakang????
masalah toleransi??? wah jangan kita bicarakan, saya belum pernah tau dan 
mendengar ada ucapan pemimpin baik negara kelompok atau apapun yang menyatakan 
"barang siapa yang menyakiti kafir jimny maka sama seperti menyakiti aku" 
(sabda rasullullah). bangsa indonesia juga berdiri karena toleransi yang besar 
dari umat islam. dimana ada tenapat yang sangat mudahnya medirikan rumah ibadah 
untuk kalangan minoritas dengan mudah sekali berdiri. di perancis , denmark, 
swedia, betapa susah untuk dapat berdiri sebuah masjid. apa ini bentuk 
toleransi. apakah bangsa amerika punya toleransi mengahancurkan negara-negara 
lain? siapa mayoritas bangsa amerika?  
apakah ada toleransi ketika menhujat nabi dari salah satu kaum? denmark, 
prancis, swedia.
islam cukup toleran dalam hal-hal muamalah, tapi tegas dalam hal aqidah, 
sekalipun harus berperang.

erwin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      Fukuyama memang hebat dalam bukunya 
Trust, dia mencoba menganalisis 
kaitan budaya dengan kinerja ekonomi suatu bangsa. Hasil penelitiannya 
menunjukkan perusahaan besar itu sangat berkembang di AS, Jerman dan 
Jepang. Tidak di negara2 lain. Dia menyebut satu kesamaan umum dalam 
budaya masyarakat tersebut yaitu: trust, kepercayaan.

Pada ketiga bangsa itu tingkat kepercayaannya sangat tinggi. Orang mampu 
mempercayai orang lain. Beda misalnya dengan bangsa Cina. Bangsa Cina 
cenderung mempercayai sebatas kalangan keluarga saja. Sehingga 
kebanyakan perusahaan yang tumbuh adalah perusahaan keluarga saja yang 
kapasitasnya akan lebih terbatas.

Bagaimana dengan orang Islam?

Kalo tesis Fukuyama ini benar - artinya faktor budaya mempengaruhi 
pengembangan ekonomi - maka pengembangan ekonomi Islam harus bekerja 
lebih keras lagi. Dalam sejarah orang Islam sangat tidak percaya dengan 
orang lain. Bukan hanya dengan orang agama lain tapi terhadap orang 
Islam itu sendiri. Perseteruan panjang Suni-Syiah masih berlanjut hingga 
saat ini. Penganiayaan terhadap kelompok Ahmadiyah yang jelas2 orang 
Islam juga. Hamas dengan Fatah bukannya sibuk bunuh kapir yahudi, malah 
sibuk bunuh2 an sendiri.

Budaya kita orang Muslim cenderung tidak toleran dus akan sulit bekerja 
sama. Jadi para penggiat pengembangan ekonomi Islam seharusnya juga 
memperhatikan faktor budaya kita yang terbelakang ini.

salam




    
---------------------------------
  Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers  

                         

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke