Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ya akhi, harap bedakan antara masalah aqidah dengan masalah yang lainnya.

Sunni, syiah, ahmadiah, kita bicara masalah aqidah dan itu jelas berbeda (harap 
anda dapat membaca lagi lebih banyak tentang hal dimaksud).

Hamas dan Fatah di Palestina kita bicara masalah perebutan kekuasaan, sama 
seperti kalau kita bicara masalah Syiah, Sunni, dan Kurdi di Irak.

Jangan dicampur adukan.

Apa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam menurunkan Islam yang beda kepada 
kita ?

Apa anda pikir ada umat terbaik selain para shahabat radiyallahu anhum, para 
tabi'in dan tabi'ut tabi'in rahimahullah ?

Apalagi dengan statement  anda "Budaya Muslim yang terbelakang ini lebih suka 
membunuh, 
menganiaya, berantem saudaranya sendiri daripada kerjasama."

Kenapa anda sendiri sebagai seorang muslim mengeluarkan statement tersebut ?

Apa iya anda merasa bahwa anda seperti itu ?

Apa iya kalau seorang muslim membunuh, maka kaum muslimin adalah kaum pembunuh ?

Kita berniat memajukan perekonomian kita, mengangkat kehidupan saudara-saudara 
kita, membantu yang lemah, menyantuni yang miskin, tapi tidak dengan mengatakan 
bahwa saudara-saudara kita lebih suka membunuh, menganiaya, dan berantem.

Di Amerika, Eropa pun sesama non-muslim saling membunuh, menganiaya, dan 
berantem karena berbagai macam alasan. Apa pernah kita mengatakan hal yang sama 
untuk me-label mereka ?

Agama Islam ini sudah sempurna, kalau orang yang mengaku beragama Islam 
melakukan kesalahan, apakah lantas berarti Islam yang salah ?

Kita mulai perbaikan dari kita saja, sudahkah anda shalat 5 waktu di mesjid, 
karena dengan begitu anda kenal dan bisa mengetahui keadaan saudara muslim di 
sekeliling kita. Sudahkah anda dalam shalat berjama'ah di mesjid merapatkan dan 
meluruskan shaf, karena dengan begitu kita merasa lebih dekat dengan saudara 
muslim kita.
Lihatlah di sekitar rumah kita, masih adakah saudara muslim kita yang hanya 
bisa makan satu kali atau dua kali sehari, masih adakah saudara muslim kita 
yang sakit tapi tidak bisa berobat karena masalah finansial, masih adakah 
saudara muslim kita belum punya pekerjaan.

Lupakan Arab Saudi dengan petro-dollarnya. Untuk apa kita mempertanyakan kemana 
larinya uang mereka kalau kita sendiri juga lebih suka membeli barang hanya 
berdasarkan nafsu belaka walaupun kita tidak membutuhkannya. Kenapa dana itu 
tidak kita manfaatkan saja untuk membantu saudara muslim kita yang masih 
kekurangan di sekeliling kita. 

Lupakan Mahatir Muhammad dengan statement-nya karena dia juga hanya bisa 
mengatakan hal tersebut, tapi coba lihat lagi selama dia menjabat, apa yang 
telah dilakukannya untuk membantu saudara muslimnya di Indonesia, Thailand 
selatan, Mindanao yang masih kekurangan dan membutuhkan pertolongan.

Mohon maaf kalau tidak berkenan, saya hanya bermaksud tawa shaubil haq.

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  ----- Original Message ----- 
  From: Erwin Wirawan 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, September 10, 2007 16:50
  Subject: Re: Balasan: {ekonomi-syariah} Trust


  Riski Aditya wrote:
  > Salam kenal,
  > 
  > Apakah syiah pantas disebut Islam mengingat dia menentang khulafaur 
  > Rasyidin kecuali Ali bin Abi Thalib ra? Saya disini tidak mengkafirkan 
  > suatu golongan. tapi mohon hati2 menggunakan kata Islam dalam 
  > mengungkapkan pendapat.
  > 
  > YAng benar belum tentu banyak, yang banyak belum tentu benar
  > 

  ======================================

  Pemikiran seperti Mas Riski inilah yang bikin Islam ini hancur.

  Saya ingat Mahathir pernah bilang: 1.3 milyar Muslim tak bisa 
  mengalahkan 13 juta Yahudi. Karena apa? Karena kita tak pernah bersatu. 
  Kita sibuk mempermasalahkan hal2 seperti sunni syiah. Sesuatu yang tak 
  mungkin disatukan. Sesuatu yang tak bisa diketahui siapa yang benar 
  kecuali mau ngotot2an. (Kalo Mas Riski lahir di Teheran, maka besar 
  kemungkinan anda akan jadi Islam Syiah)

  Kalo boleh usul. Udahlah. Suni Syiah Ahmadiyah adalah sama2 Islam. Toh 
  Tuhan kita masih sama. Toh Nabi Muhammad masih sama2 diakui semua pihak. 
  Mekah masih jadi tempat suci kita. Kita cari persamaan ajalah.

  Jadi kembali ke pemikiran Fukuyama. Muslim memang terbelakang dalam hal 
  kerjasama, dalam mempercayai orang lain yang berbeda pemikiran. Kita tak 
  punya trust satu sama lain. Semua ngotot menyatakan dirinya kaum yang benar.

  Jangankan untuk melakukan kerjasama ekonomi, untuk hidup berdampingan 
  aja susah. Seperti kasus terakhir antara Fatah dan Hamas. Termasuk 
  terakhir Hizbut Tahrir yang mau masuk ke palestina menjadi alternatif 
  Hamas. Budaya Muslim yang terbelakang ini lebih suka membunuh, 
  menganiaya, berantem saudaranya sendiri daripada kerjasama.

  salam



   

Kirim email ke