Riski Aditya wrote: > Salam kenal, > > Apakah syiah pantas disebut Islam mengingat dia menentang khulafaur > Rasyidin kecuali Ali bin Abi Thalib ra? Saya disini tidak mengkafirkan > suatu golongan. tapi mohon hati2 menggunakan kata Islam dalam > mengungkapkan pendapat. > > YAng benar belum tentu banyak, yang banyak belum tentu benar >
====================================== Pemikiran seperti Mas Riski inilah yang bikin Islam ini hancur. Saya ingat Mahathir pernah bilang: 1.3 milyar Muslim tak bisa mengalahkan 13 juta Yahudi. Karena apa? Karena kita tak pernah bersatu. Kita sibuk mempermasalahkan hal2 seperti sunni syiah. Sesuatu yang tak mungkin disatukan. Sesuatu yang tak bisa diketahui siapa yang benar kecuali mau ngotot2an. (Kalo Mas Riski lahir di Teheran, maka besar kemungkinan anda akan jadi Islam Syiah) Kalo boleh usul. Udahlah. Suni Syiah Ahmadiyah adalah sama2 Islam. Toh Tuhan kita masih sama. Toh Nabi Muhammad masih sama2 diakui semua pihak. Mekah masih jadi tempat suci kita. Kita cari persamaan ajalah. Jadi kembali ke pemikiran Fukuyama. Muslim memang terbelakang dalam hal kerjasama, dalam mempercayai orang lain yang berbeda pemikiran. Kita tak punya trust satu sama lain. Semua ngotot menyatakan dirinya kaum yang benar. Jangankan untuk melakukan kerjasama ekonomi, untuk hidup berdampingan aja susah. Seperti kasus terakhir antara Fatah dan Hamas. Termasuk terakhir Hizbut Tahrir yang mau masuk ke palestina menjadi alternatif Hamas. Budaya Muslim yang terbelakang ini lebih suka membunuh, menganiaya, berantem saudaranya sendiri daripada kerjasama. salam
