Assalamualaikum wr wb,
semoga shalawat dan salam tercurah pada Junjungan Rasulullah SAW, segala puji 
hanya milik Allah semata.
Rekan-rekan yang budiman, pendapat tantang ekonomi syariah yang dikemukakan 
oleh kang Firman dari UI, mungkin mewakili sebagian umat, dan sekarang tugas 
kita untuk meluruskan pandangan-pandangan itu dengan mencoba memberikan 
tauladan tentang kenikmatan melakukan hal-hal yang bersandar pada Syariah. 
Dengan demikian kita insya Allah dapat mejadi contoh bagi keindahan sebagai 
muslim dan menjalankan agama ini dengan ikhlas, dan berharap Allah tetap 
memberikan pertolongan bagi kita dalam menegakkan sendi-sendi agama Islam dalam 
kehidupan berbangsa dan bernegara, Amiin.
wassalamualaikum wr wb.

asep mulyana







________________________________
From: Jundullah . <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, May 26, 2009 4:26:30 PM
Subject: Bls: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH 
BERBAU SARA





Assalamu'alaikum. ...

Alhamdulillah, masih ada sebagian pendapat beliau yang bisa dijadikan bahan 
instropeksi. Saya kira terlalu jauh kalau ini dianggap tulisan yang berbau sara 
dan menimbulkan konflik, walaupun ada beberapa pandangan yang perlu 
diklarifikasi lagi seperti kata-kata "angker", "menyeramkan" dan "alergi". Bisa 
kita akui pendapat beliau sepertinya hanya mewakili golongan 'tertentu' dari 
masyarakat. Tapi apakah golongan yang berpendapat demikian cukup signifikan, 
masih perlu penelitian lebih dalam.
Memang kita tidak bisa berharap semua orang apalagi yang lemah imannya untuk 
berakhlak seperti akhlak Rasulullah, walaupun ilmunya bisa dibilang tinggi 
(kalau dilihat dari titelnya), apalagi sampai menuntut demikian. Jadi sebaiknya 
kitalah para penggiat syariah yang pertama meniupkan ruh akhlak Rasulullah 
dalam diri dan aktivitas kita dan lebih bijak dalam mencerna pandangan 
orang-orang "luar"....


Wallahu'alam




________________________________
Dari: Faozan Amar <zanama...@yahoo. com>
Kepada: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
Terkirim: Senin, 25 Mei, 2009 20:22:53
Topik: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA


Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di 
Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan 
conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau 
pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya 
sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : 
berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi 
dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.JAKARTA - Dekan 
Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya
ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di
Kemasan Syariah Kurang Menarik
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya
ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Indonesia karena para
pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk syariah dengan
menarik. 
"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia 
dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia 
menyarankan agar pelaku bisnis
syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah menjadi lebih keren,
bersahabat, dan tidak angker. 
Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap
bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan
celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang
seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah?
Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan
Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. 
Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih
banyak kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah
bank konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata
masyarakat agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian
seperti Islam," ucapnya. 
Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main
sendiri, benak konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank
konvensional dalam membuat analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa
hal, mekanisme bagi hasil juga mengacu pada suku bunga. 
Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini
sulit meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan
nasional. Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang
syariah. Saat ini aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total
aset perbankan nasional. 
"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5
persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat
lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun
terakhir sangat pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber
daya manusia sekitar 15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI 

________________________________
 Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. Rasakan 
bedanya!  
   


      

Kirim email ke