Komentar saya: 

Saya berkeyakinan apa yang disampaikan Mr Fiz bukan bermaksud "menimbulkan
konflik di kalangan umat Islam" apalagi berbau "SARA" ataupun "Tendensius".

Ada baiknya kita mengambil sisi positif dari pernyataan Mr Fiz, sebagai
evaluasi atas implementasi ekonomi syariah yang secara realitas memang belum
ideal.

Pun jika ada komentarnya yang menurut beberapa pihak membuat ketidaknyamanan
 ada baiknya diklarifikasi langsung dan diskusi dengan yang bersangkutan.

Sejauh yang saya kenal, beliau cukup terbuka untuk menerima masukan,
terlebih beliau juga bagian dari Saudara kita sesama muslim yang bisa jadi
dikarenakan latarbelakang pendidikan sekularnya, memiliki persepsi yang
kurang pas tentang ekonomi syariah.

Salam,

Fahmi Basyah

---------------------------------------------
Bumiputeramuda 1967, General Insurance
Sharia Division
 
Jl. Wolter Monginsidi No. 43
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12180
Phone : +6221 7234849, 72788574
Facs.  : +6221 72787952
Email  : [email protected]
Sites   : http://www.bumida.co.id

-------Original Message-------
 
From: Faozan Amar
Date: 05/26/09 15:35:03
To: [email protected]
Subject: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU
SARA
 



Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di
Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan
menimbulkan conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik
kurang elok kalau pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang
Mr. Fiz tdk suka, ya sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul
khairan aw yasmut : berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD
karena muda sdh jadi dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat
 masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di
Kemasan Syariah Kurang Menarik
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat
 masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di
Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas
produk-produk syariah dengan menarik. 
"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia
dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia
menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah
menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker. 
Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah
masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung.
Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada
yang datang ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor
bidang Strategi dan Manajemen Internasional dari University of Lille,
Prancis, ini. 
Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak
kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank
konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat
agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam,"
ucapnya. 
Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak
konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat
analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga
mengacu pada suku bunga. 
Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit
meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan nasional.
Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini
aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan
nasional. 
"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia
menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat
pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar
15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI



 

<<IMSTP.gif>>

Kirim email ke