Menurut saya, ini menunjukkan bahwa pasca 11/9 islamophobia tidak hanya melanda non muslim, namun juga orang muslim. Pendapat dari Dr. Firmansyah semakin membuktikan fenomena tersebut benar-benar terjadi di masyarakat. Saran konstruktif dari dekan FE UI tersebut perlu diakomodir, namun kita tetap jangan melupakan perjuangan untuk menegakkan ekonomi syariah secara kaffah dalam naungan khilafah yang tentunya kita perlu siapkan kesadaran masyarakatnya, sistem penggantinya dan "penjaga"-nya dengan berbagai tahapan dakwah ekonomi syariah yang harus kita lalui sebagaimana dakwah Rasulullah SAW. Allahu Akbar !
--- On Tue, 5/26/09, M Asyrof Elf <[email protected]> wrote: From: M Asyrof Elf <[email protected]> Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA To: [email protected] Date: Tuesday, May 26, 2009, 8:17 PM hmmm.. menarik apa yg disampaikan dekan FEUI yg katanya dekan termuda tsb. Menurut saya bhw kita musti tetap berbaik sangka terhadap tulisan tsb. Setidaknya bisa dijadikan sebagai bahan introspeksi kita para pelaku ekonomi syariah karena pernyataan itu merupakan fakta salah satu opini di masyarakat kita. btw, memang harus diakui juga bhw praktik ekonomi syariah kita belum ideal 100%. Hanya saja menurut saya lagi kayaknya kok bahasanya 'kurang sopan' apalagi u/ ukuran akademisi dg jabatan dekan FEUI & titel yg sepanjang itu. Mungkin maksudnya baik, andai cara & bahasa yg digunakan juga lebih baik tentu 'penerimaan' masyarakat jg akan lebih baik.. Semoga menjadi introspeksi kita, tetap semangat!!! Asyrof From: Faozan Amar Sent: Monday, May 25, 2009 8:22 PM To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com Subject: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009. Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi dekan? Mohon komentar anggota milis Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Kemasan Syariah Kurang Menarik Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian. JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk syariah dengan menarik. "Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker. Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam," ucapnya. Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga mengacu pada suku bunga. Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan nasional. Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan nasional. "Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar 15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI
