Ass.w.w. Kalo boleh urun rembug dikit ya. Saya sependapat dgn temen2 spt Pak 
Yusuf dan Bu Rahma, walaupun saya tidak mengenal lgsg Dekan FEUI yg baru, 
tetapi sebaiknya kita mensikapi pernyataan beliau atau siapapun ttg perbankan 
syariah atau ek.syariah secara umum dgn kepala dingin dan hati bersih. Industri 
perbankan syariah masih dalam tahap awal perkembangannya sehingga memerlukan 
dukungan dr semua stakeholders termasuk orang2 spt beliau. Pernyataannya 
sekalipun benar adanya kita ambil sebagai kritik yg membangun dan menjadikan 
kita semakin tegar dan kuat utk mengembangkan industri ini. Kita sebaiknya 
memanfaatkan energi kita utk bersama2 secara sinergis menemukan kebijakan dan 
cara2 yg dapat diimplementasikan dilapangan oleh para pelaku industri ini agar 
arah dan tujuannya sejalan dgn maqasid syariah. Saya juga ikut mengapresiasi 
Mas Faozan yg sudah mengangkat masalah ini sebagai obyek diskusi sehingga 
setidak2nya rekan2 kita yg selama ini lagi tidur menjadi terbangun dan ikut 
bersemangat membangun industri yg masihbaru ini. Wassalam.   
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Yusuf Wibisono <[email protected]>

Date: Tue, 26 May 2009 18:05:59 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH 
BERBAU SARA


Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas perhatian rekan2 terhadap Dekan 
kami. Atas nama komunitas syariah FEUI, kami ingin memberi penjelasan. 

Pertama, tentang pernyataan di Tempo. Dalam pandangan kami, pernyataan itu jauh 
dari pemikiran Dekan yang kami kenal. Beliau adalah orang yang terbuka dan 
antusias terhadap pemikiran baru yang inovatif, termasuk ekonomi syariah. 
Beliau sangat mendukung pengembangan ekonomi syariah di kampus kami. Bahkan 
salah satu agenda di hari2 pertama beliau menjadi dekan adalah membuka Kuliah 
Informal Ekonomi Islam di kampus kami. Jadi, pernyataan beliau itu benar2 
merupakan evaluasi murni dengan niat memajukan ekonomi syariah, dan sangat jauh 
dari maksud tendensius apalagi SARA dan menimbulkan konflik. Beliau sangat 
concern dan ingin melihat ekonomi syariah berkembang.

Kedua, dukungan FEUI terhadap ekonomi syariah tidak hanya dari Dekan kami, tapi 
juga dibuktikan dengan kiprah alumni kami yang bertebaran di berbagai lembaga 
syariah penting seperti Mantan Dekan kami Pak Bambang Brodjonegoro (Direktur 
IRTI-IDB), Pak Muliaman Hadad (Ketua MES), Pak Mustafa Edwin Nasution (Ketua 
IAEI), Pak Yuslam Fauzi (Dirut BSM), Pak Ventjce Rahardjo (Dirut BRI Syariah), 
Pak Adrian (Direktur Permata Syariah, kini Bank Muamalat), dll.

Ketiga, FEUI sendiri sebagai institusi terus mengembangkan ekonomi syariah 
secara serius, antara lain dengan membuka Kekhususan Ekonomi dan Bisnis Syariah 
di Program S-1 pada 2006 dan mendirikan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) 
pada 2007. FEUI juga telah menandatangani MoU untuk pendirian kantor cabang 
Bank Muamalat di Kampus FEUI Depok dan insya 4jj1 berdiri pada Agustus 2009 
ini, dan kini juga sedang menyiapkan kekhususan keuangan syariah di Program MM 
FEUI. Di bawah Dekan Pak Firmanzah, FEUI kini sedang bersiap menjalin kemitraan 
strategis dengan IRTI-IDB dan MOU akan ditanda tangani insya 4jj1 pada Seminar 
Internasional 16 Juni 2009 di FEUI. Ke depan, FEUI insya 4jj1 akan semakin 
meningkatkan skala dan derajat keseriusan dalam mengembangkan ekonomi syariah 
ini.

Semoga penjelasan ini bermanfaat, terima kasih.

Wass

Yusuf Wibisono
Waka PEBS FEUI


--- On Tue, 5/26/09, Fahmi Basyah <[email protected]> wrote:

From: Fahmi Basyah <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH 
BERBAU SARA
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 26, 2009, 6:21 AM











    
            
            


      
      





Komentar saya: 
 
Saya berkeyakinan apa yang disampaikan Mr Fiz bukan bermaksud "menimbulkan 
konflik di kalangan umat Islam" apalagi berbau "SARA" ataupun "Tendensius" .
 
Ada baiknya kita mengambil sisi positif dari pernyataan Mr Fiz, sebagai 
evaluasi atas implementasi ekonomi syariah yang secara realitas memang belum 
ideal.
 
Pun jika ada komentarnya yang menurut beberapa pihak membuat ketidaknyamanan, 
ada baiknya diklarifikasi langsung dan diskusi dengan yang bersangkutan.
 
Sejauh yang saya kenal, beliau cukup terbuka untuk menerima masukan, terlebih 
beliau juga bagian dari Saudara kita sesama muslim yang bisa jadi dikarenakan 
latarbelakang pendidikan sekularnya, memiliki persepsi yang kurang pas tentang 
ekonomi syariah.
 
Salam,
 
Fahmi Basyah
 
------------ --------- --------- --------- ------
Bumiputeramuda 1967, General Insurance
Sharia Division
 
Jl. Wolter Monginsidi No. 43
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12180
Phone : +6221 7234849, 72788574
Facs.  : +6221 72787952
Email  : fa...@bumida. co.id
Sites   : http://www.bumida. co.id
 
-------Original Message----- --
 

From: Faozan Amar
Date: 05/26/09 15:35:03
To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
Subject: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU 
SARA
 









Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di 
Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan 
conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau 
pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya 
sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : 
berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi 
dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.JAKARTA - Dekan 
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum 
bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di
Kemasan Syariah Kurang Menarik
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.

JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, 
masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di 
Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk 
syariah dengan menarik. 
"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia 
dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia 
menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah 
menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker. 
Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih 
lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya 
pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang 
ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi 
dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. 
Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak kendala 
lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank konvensional, 
termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat agak alergi 
dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam," ucapnya. 
Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak 
konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat 
analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga 
mengacu pada suku bunga. 
Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit meningkatkan 
persentase asetnya dari total aset perbankan nasional. Persoalannya adalah 
kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini aset bank syariah 
masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan nasional. 
"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata 
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia menjelaskan, 
pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat pesat. Namun, 
perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar 15 ribu orang. 
EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI







 











 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke