Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas perhatian rekan2 terhadap Dekan kami. Atas nama komunitas syariah FEUI, kami ingin memberi penjelasan.

Pertama, tentang pernyataan di Tempo. Dalam pandangan kami, pernyataan itu jauh dari pemikiran Dekan yang kami kenal. Beliau adalah orang yang terbuka dan antusias terhadap pemikiran baru yang inovatif, termasuk ekonomi syariah. Beliau sangat mendukung pengembangan ekonomi syariah di kampus kami. Bahkan salah satu agenda di hari2 pertama beliau menjadi dekan adalah membuka Kuliah Informal Ekonomi Islam di kampus kami. Jadi, pernyataan beliau itu benar2 merupakan evaluasi murni dengan niat memajukan ekonomi syariah, dan sangat jauh dari maksud tendensius apalagi SARA dan menimbulkan konflik. Beliau sangat concern dan ingin melihat ekonomi syariah berkembang.

Kedua, dukungan FEUI terhadap ekonomi syariah tidak hanya dari Dekan kami, tapi juga dibuktikan dengan kiprah alumni kami yang bertebaran di berbagai lembaga syariah penting seperti Mantan Dekan kami Pak Bambang Brodjonegoro (Direktur IRTI-IDB), Pak Muliaman Hadad (Ketua MES), Pak Mustafa Edwin Nasution (Ketua IAEI), Pak Yuslam Fauzi (Dirut BSM), Pak Ventjce Rahardjo (Dirut BRI Syariah), Pak Adrian (Direktur Permata Syariah, kini Bank Muamalat), dll.

Ketiga, FEUI sendiri sebagai institusi terus mengembangkan ekonomi syariah secara serius, antara lain dengan membuka Kekhususan Ekonomi dan Bisnis Syariah di Program S-1 pada 2006 dan mendirikan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) pada 2007. FEUI juga telah menandatangani MoU untuk pendirian kantor cabang Bank Muamalat di Kampus FEUI Depok dan insya 4jj1 berdiri pada Agustus 2009 ini, dan kini juga sedang menyiapkan kekhususan keuangan syariah di Program MM FEUI. Di bawah Dekan Pak Firmanzah, FEUI kini sedang bersiap menjalin kemitraan strategis dengan IRTI-IDB dan MOU akan ditanda tangani insya 4jj1 pada Seminar Internasional 16 Juni 2009 di FEUI. Ke depan, FEUI insya 4jj1 akan semakin meningkatkan skala dan derajat keseriusan dalam mengembangkan ekonomi syariah ini.

Semoga penjelasan ini bermanfaat, terima kasih.

Wass

Yusuf Wibisono
Waka PEBS FEUI


--- On Tue, 5/26/09, Fahmi Basyah <[email protected]> wrote:

From: Fahmi Basyah <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 26, 2009, 6:21 AM

Komentar saya:
 
Saya berkeyakinan apa yang disampaikan Mr Fiz bukan bermaksud "menimbulkan konflik di kalangan umat Islam" apalagi berbau "SARA" ataupun "Tendensius" .
 
Ada baiknya kita mengambil sisi positif dari pernyataan Mr Fiz, sebagai evaluasi atas implementasi ekonomi syariah yang secara realitas memang belum ideal.
 
Pun jika ada komentarnya yang menurut beberapa pihak membuat ketidaknyamanan, ada baiknya diklarifikasi langsung dan diskusi dengan yang bersangkutan.
 
Sejauh yang saya kenal, beliau cukup terbuka untuk menerima masukan, terlebih beliau juga bagian dari Saudara kita sesama muslim yang bisa jadi dikarenakan latarbelakang pendidikan sekularnya, memiliki persepsi yang kurang pas tentang ekonomi syariah.
 
Salam,
 
Fahmi Basyah
 
------------ --------- --------- --------- ------
Bumiputeramuda 1967, General Insurance
Sharia Division
 
Jl. Wolter Monginsidi No. 43
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12180
Phone : +6221 7234849, 72788574
Facs.  : +6221 72787952
 
-------Original Message----- --
 
Date: 05/26/09 15:35:03
Subject: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA
 

Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di

Kemasan Syariah Kurang Menarik

Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.

JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk syariah dengan menarik.

"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker.

Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini.

Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam," ucapnya.

Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga mengacu pada suku bunga.

Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan nasional. Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan nasional.

"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar 15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI


 




Kirim email ke