Mas lukita saat ini setahu saya inovasi bank sharia sudah maju contoh bank 
mandiri sharia yang mengembangkan mobile banking gprs, internet banking, 
remittance online dgn akses atm diseluruh atm bersama dan prima jadi saya pikir 
dgn inovasi IT bank sharia tdk kalah dgn konvensional. Begitu juga muamalat dgn 
share nya.

Wassalam


Sent from myBlackBerry® - Doels 9000


-----Original Message-----
From: Lukita T Prakasa Lukita <[email protected]>

Date: Wed, 27 May 2009 05:39:18 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH 
BERBAU SARA


Urun rembug sedikit,
Ambil sisi positifnya saja dari masukan Dekan FEUI tersebut, 
Barangkali memang ada benarnya kemasan produk syariah saat ini kurang menarik.
Ketika produk perbankan konvesional sudah mengenal web banking, sms banking  
atau hal-hal yang berbau teknologi, kadang yang kita temui dilapangan, produk 
bank syariah masih berkutat dengan produk-produk standar perbankan. Layanannya 
yang terbatas dan SDM yang minim pengetahuan perbankan. Ini tentu menjadi PR 
buat pelaku perbankan syariah termasuk saya sendiri.

Sorotan dekan tsb terhadap perbankan syariah yang lebih mengedepankan sisi 
simbolik seperti jenggot dan celana menggantung juga menggelitik buat saya. 
Bukankah kita Rahmatan lil alamin...sehingga justru budaya lokal di sekitar 
kantor cabang bank syariah justru harus lebih diperhatikan dan dikedepankan 
dibandingkan memunculkan suatu budaya perusahaan baru yang jauh dari budaya 
lokal.

Justru masukan dan pendapat dari seorang Firmansyah ini akan sangat bagus 
perkembagan ekonomi syariah. Pendapat dari luar komunitas justru akan 
memberikan input yang baik untuk perkembangan ekonomi syariah itu sendiri. 
Bagaimana kalau MES mengundang beliau di kegiatan bulanan MES?

Lukita T Prakasa



   



--- On Tue, 5/26/09, Fahmi Basyah <[email protected]> wrote:

From: Fahmi Basyah <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH 
BERBAU SARA
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 26, 2009, 6:21 AM











    
            
            


      
      





Komentar saya: 
 
Saya berkeyakinan apa yang disampaikan Mr Fiz bukan bermaksud "menimbulkan 
konflik di kalangan umat Islam" apalagi berbau "SARA" ataupun "Tendensius" .
 
Ada baiknya kita mengambil sisi positif dari pernyataan Mr Fiz, sebagai 
evaluasi atas implementasi ekonomi syariah yang secara realitas memang belum 
ideal.
 
Pun jika ada komentarnya yang menurut beberapa pihak membuat ketidaknyamanan, 
ada baiknya diklarifikasi langsung dan diskusi dengan yang bersangkutan.
 
Sejauh yang saya kenal, beliau cukup terbuka untuk menerima masukan, terlebih 
beliau juga bagian dari Saudara kita sesama muslim yang bisa jadi dikarenakan 
latarbelakang pendidikan sekularnya, memiliki persepsi yang kurang pas tentang 
ekonomi syariah.
 
Salam,
 
Fahmi Basyah
 
------------ --------- --------- --------- ------
Bumiputeramuda 1967, General Insurance
Sharia Division
 
Jl. Wolter Monginsidi No. 43
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12180
Phone : +6221 7234849, 72788574
Facs.  : +6221 72787952
Email  : fa...@bumida. co.id
Sites   : http://www.bumida. co.id
 
-------Original Message----- --
 

From: Faozan Amar
Date: 05/26/09 15:35:03
To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
Subject: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU 
SARA
 









Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di 
Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan 
conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau 
pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya 
sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : 
berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi 
dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.JAKARTA - Dekan 
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum 
bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di
Kemasan Syariah Kurang Menarik
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.

JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, 
masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di 
Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk 
syariah dengan menarik. 
"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia 
dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia 
menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah 
menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker. 
Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih 
lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya 
pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang 
ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi 
dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. 
Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak kendala 
lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank konvensional, 
termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat agak alergi 
dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam," ucapnya. 
Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak 
konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat 
analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga 
mengacu pada suku bunga. 
Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit meningkatkan 
persentase asetnya dari total aset perbankan nasional. Persoalannya adalah 
kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini aset bank syariah 
masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan nasional. 
"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata 
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia menjelaskan, 
pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat pesat. Namun, 
perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar 15 ribu orang. 
EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI







 











 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke