Mengapa ada sindiran dari orang konvensional thp praktik perbankan Islam, ya karena kita hanya meniru dengan mengganti bajunya saja. Tapi substansinya tetap kapitalistik, sekuler, antroposentris. Saya berpikir bahwa menjalankan ekonomi syariah memang bukan seperti menggunakan facebook dengan etis dan kalo perlu facebook dijadikan sarana dakwah. Tetapi membangun ekonomi Islam itu adalah mengembangkan ilmu yang Islami lewat values Islam itu sendiri untuk diterapkan dlm kerangka teknologi dan aspek teknisnya yang konkrit Islami dari sumbernya langsung. Teknologi atau model Barat boleh saja dipake tetapi Yang jelas bukan hanya meniru-niru atau menjiplak Barat tapi kemasannya Islam. Dan tidak Sekuler, tidak mementingkan diri sendiri atau hanya untuk kepentingan pemilik saham saja (ini namanya tidak antrposentris atau egois). Mungkin saya salah. Tapi memang kita harus introspeksi gaya kebarat-baratan kita dalam bisnis yang katanya Islami. Maaf bila salah. Wassalam.
Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: "sukma wijaya" <[email protected]> Date: Wed, 27 May 2009 07:52:13 To: <[email protected]> Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA Sangat tdk setuju sistem sharia identik dgn simbol2 jengot dan celana mengantung dan perihal blm mengeliat pangsa sharia byk faktor salah satu sosialisasi dan dukuingan infrastruktur seperti dunia perbankan sangat menonjolkan informasi teknolgi tdk difungkiri lagi hal tersebut liat BCA , mandiri dgn dukungan network atm dan channel lainnya menjadikan bank terbesar. Begitu halnya juga yang diharapkan oleh financial sharia dan untuk menuju ke arah sana harus didukung salah satu faktor tersebut. Untuk itu yang diharapkan dukungan sesama pemerhati, pelaksana kegiatan ekonomi sharia untuk terus mendukung dan berjuang bersama. Wasalam Sent from myBlackBerry® - Doels 9000 -----Original Message----- From: suryadhs dharmasyam <[email protected]> Date: Tue, 26 May 2009 09:07:38 To: <[email protected]> Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA Salam, Menurut saya komentar seperti sangat tidak berlandasan dan sangat subjektif melihat dari sudut pandang yang dangkal. dan dia bener2 mengangkat isu keluar dari pada jalur sudut tentang keberadaan ekonomi syariah di indonesia.seakan2 akibat simbol ekonomi syariah seperti yang dia ucapkan sebagai satu gambaran bisnis yang seram..yang seramnya dimana???butakah dia?dangkalnya pemikirannya seperti ini? pembicaraan seperti ini tidak menandakan sikap seorang yang mempunyai ilmu yang semestinya semakin tinggi dia belajar dan semakin tinggi mencari ilmu mestinya semakin tinggi juga cara pola berpikir dan berbicara dan semakin merendah dalam bersikap.. terimah kasih Surya Kuala Lumpur Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. --- On Tue, 5/26/09, Fahmi Basyah <[email protected]> wrote: From: Fahmi Basyah <[email protected]> Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA To: [email protected] Date: Tuesday, May 26, 2009, 6:21 AM Komentar saya: Saya berkeyakinan apa yang disampaikan Mr Fiz bukan bermaksud "menimbulkan konflik di kalangan umat Islam" apalagi berbau "SARA" ataupun "Tendensius" . Ada baiknya kita mengambil sisi positif dari pernyataan Mr Fiz, sebagai evaluasi atas implementasi ekonomi syariah yang secara realitas memang belum ideal. Pun jika ada komentarnya yang menurut beberapa pihak membuat ketidaknyamanan, ada baiknya diklarifikasi langsung dan diskusi dengan yang bersangkutan. Sejauh yang saya kenal, beliau cukup terbuka untuk menerima masukan, terlebih beliau juga bagian dari Saudara kita sesama muslim yang bisa jadi dikarenakan latarbelakang pendidikan sekularnya, memiliki persepsi yang kurang pas tentang ekonomi syariah. Salam, Fahmi Basyah ------------ --------- --------- --------- ------ Bumiputeramuda 1967, General Insurance Sharia Division Jl. Wolter Monginsidi No. 43 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12180 Phone : +6221 7234849, 72788574 Facs. : +6221 72787952 Email : fa...@bumida. co.id Sites : http://www.bumida. co.id -------Original Message----- -- From: Faozan Amar Date: 05/26/09 15:35:03 To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com Subject: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009. Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi dekan? Mohon komentar anggota milis Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Kemasan Syariah Kurang Menarik Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian. JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk syariah dengan menarik. "Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker. Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam," ucapnya. Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga mengacu pada suku bunga. Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan nasional. Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan nasional. "Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar 15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI
