Salam.... Berarti pointnya gak dapet donk saya ya... Tapi kalo seperti itu gak boleh ngapa2in donk mbak. Mobil banyak seliweran di jalan raya juga salah donk, sementara yang lain gak ada uang buat makan. Saya dateng ke pernikahan temen saya 2 minggu lalu juga salah donk, sementara yang lain
Kayaknya live go on aja kali ya... Apalagi kalo konvoi itu dibarengi sama amal untuk bencana (sorri, lupa yang nulis siapa). Tapi saya setuju juga seh mesti ada pengertian di saat yang lain susah. Tapi menurut saya juga konvoi bukan berarti pamer. Thanks.... ________________________________ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Yuliati Soebeno Sent: Tuesday, March 06, 2007 2:27 PM To: [email protected] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Konvoi Motor Harley Davidson - Pak Harry & Didik Waduh....Mas Harry dan Mas Didik....ini sudah "salah kaprah" seperti kata pak Manneke kalau sudah enggak tahu juntrungnya. Kalau serombongan pengendara Harley adalah dari kalangan "Berpendidikan", lalu minta di-konvoi oleh polisi agar mendapatkan jalan special untuk lewat, kenapa enggak sekalian saja dipastikan rombongan Harley itu terjadi (lewatnya bersebelahan) sewaktu rakyat kecil juga ber-bondong-bondong ngantre beras, ngantre minyak tanah dan ngantre sembako korban banjir? Jadi jalan sebelah kiri untuk Harley, dan sebelah kanan untuk rakyat yang antri beras, minyak, dan sembako. Kontras, kan? Ini namanya kan "Indonesia" tanah yang "Gemah limpah loh jinawi". Hayoo....mana yang akan dibela duluan oleh para polisi? Membantu rakyat kecil agar mendapatkan jatah berasnya dengan teratur? (Serta berasnya enggak dipalak para tengkulak). Ataukah membiarkan mereka saling berebutan, saling terinjak-injak dan pengantre ibu-ibu tua pada semaput? Sedangkan rombongan Harley dengan mudahnya lewat dengan pengawalan polisi yang berseragam lengkap, serta dengan suara kerasnya yang memekak-kan telinga (berapa "decibel" ya?). Ah bapak-bapak....kalau memang merasa berpendidikan dan sanggup membeli apa saja, lha mbok ya enggak usah "PAMER" gitu ya? Lha wong yang menderita masih se-jibun kok? Salam, Yuli
