Rekans, Ide saudara ddinasty ini sangat menarik. Oleh karena itu memang perlu diberi perhatian khusus, termasuk oleh para pejabat yang nanti akan melaksanakan PENANAMAN SIKAP DISIPLIN lewat wajib militer. Beberapa tanggapan/pertanyaan saya:
1. Saya belum dapat memahami dengan baik pernyataan berikut: (ddinasty)"Sekarang (Pramuka) bandingkan dgn wajib militer , orang2 yg diwajibkan disini adalah mereka2 yg telah dewasa, sehat jasmani dan rohani, mereka ini dipilih atau dikader untuk disiapkan sebagai pemimpin bangsa...." a) Jadi peserta WAMIL nanti adalah SEMUA yang masuk kriteria itu, atau akan DIPILIH? Atau dari peserta yang masuk kriteria itu akan DIPILIH/diseleksi lagi? b) Jadi WAMIL itu bertujuan untuk memilih kader PEMIMPIN BANGSA? Dalam arti apa ya? 2. (ddinasty)"..Dinegara-negara maju hampir tidak ada tokoh militer yg maju sebagai pemimpin parpol dan kemudian dicalonkan sbg presiden, tapi dinegara2 maju ini hampir semua lelaki pernah merasakan pahit getir menjadi militer (baca; dididik secara ketat dgn disipling militer).... a) Apakah "dididik secara ketat dengan disiplin" ini sama dengan "menjadi militer" dan sama dengan WAMIL? (ddinasty) "...Ketika anak-anak didikan ala militer ini berkiprah dalam dunia perpolitikan, maka bekal mereka cukup untuk memahami kondisi riil bangsa dan tanah air mereka...." b) Apakah pernyataan Saudara tersebut mau mengatakan bahwa "didikan ala Militer" sebagai salah satu jalur pendidikan politik? Buku "Hanbuch zur politischen Bildung in der Grundschule. Politik und Bildung" (Buku Pegangan Pendidikan Politik untuk SD)karangan Korinna Schack, terbitan Wochenschau Verlag,1996, sebagai salah satu bukti bahwa pendidikan mengenai POLITIK di negara maju (contoh :Jerman) justru sudah diajarkan mulai dari SD (jadi melalui jenjang sekolah), bukan melalui Militer/WAMIL. Pendidikan politik di negara maju justru dimulai dari dasar, bukan setelah orang dewasa. Maka saya tidak begitu paham dengan pernyatan saudara di atas. c) kalau boleh tahu, BERAPA LAMA masa didikan ala militer di negara maju tersebut, sehingga mampu melahirkan orang-orang yang memiliki "bekal (mereka) cukup untuk memahami kondisi riil bangsa dan tanah air mereka..."? 3. (ddinasty)".. Jangan lupa, wajib militer tidak berarti mengajarkan masyarakat untuk perang ...semata, disini harus dipahami bahwa tugas militer tidak hanya sebagai serdadu yg siap adu fisik macam gladiator untuk membela tanah air mereka, disaat negara dalam kondisi damai, maka tugas-tugas militer ini bisa dialihkan ke tugas-tugas penganan masalah-masalah sosial, macam ABRI masuk desa itu, atau tugas2 untuk membantu korban bencana alam,kedepan saya akan usulkan agar tugas militer ini ditambah dgn membantu rakyat kecil dalam upaya memerangi kemiskinan, misalnya dgn membantu rakyat miskin mendirikan rumah.Bebarapa waktu lalu ribuan tentara Australi dikerahkan untuk memerangi tikus (atau katak?) yg. merusak tanah persawahan penduduk." a)"Jangan lupa, wajib militer tidak berarti mengajarkan masyarakat untuk perang ...semata," SETUJU!. "...disini harus dipahami bahwa tugas militer..." (?). Saya juga tidak dapat menangkap dengan baik maksud alinea ini. Mohon maaf. Apakah kalau sudah ikut WAMIL lalu jadi MILITER? b)Pembedaan antara fungsi WAMIL dan fungsi Militer di sini agak membingungkan saya. c)"...disaat negara dalam kondisi damai, maka tugas-tugas militer ini bisa dialihkan ke tugas-tugas penganan masalah-masalah sosial, macam ABRI masuk desa itu,..." SANGAT SETUJU! Mestinya itulah yang dilakukan oleh ABRI.Sekarang ABRI kurang kerjaan kog. Tapi untuk melakukan itu apakah harus terlebih dahulu mengadakan WAMIL? Atau apa kaitannya tugas-tugas tersebut dengan WAMIL? Apakah setelah WAMIL (kalau tidak ada perang) lulusan WAMIL DIPERSIAPKAN UNTUK IKUT ABRI MASUK DESA,dll tsb.?Lalu ABRI sendiri kerjanya apa? Nganggur lagi dong. Tidak ikut WAMILpun rakyat sudah bantu koq. Saat di kampung saya ada AMD, yang kebanyakan kerja itu warga kampung, sementara ABRInya cuma kasih komando, lalu malamnya anggota AMD itu kerjanya joget dan ngerayu gadis-gadis kampung. Tahun lalu saat gempa di Yogya, rakyat juga sudah bantu korban, tanpa terlebih dahulu ikut WAMIL. Bisa juga tuh. Jadi, saya mau katakan, untuk tugas-tugas sosial seperti itu, TIDAK HARUS ADA WAMIL YANG 30 HARI ITU DENGAN BIAYA 30 JUTA PERORANG ITU. 4. (ddinasty)" Sekarang anda bayangkan, andai saat ini ada wajib militer, dalamsatu angkatan,katakan saja satu pleton, ada beberapa orang china,beberapa orang jawa, beberapa orang batak, sunda, pandang,madura,irian jawa atau ambon, ada beberapa orang kristen, orang islam,budha, hindu dan atheis, ada anak pengusaha kaya raya, anak guru,anak dosen, anak abang becak, anak tukang ojek dan macam-macam lagi background mereka, yg jelas satu pleton ini isinya campur aduk bak gado-gado campur soto. Nah, dalam disiplin militer, disitu ditanamkan bahwa satu group pasukan (pleton dalam contoh ini) adalah satu jiwa dan satu nyawa, one for all and all for one...." Idenya sangat bagus. Namun jangan lupa, dalam satu kelompok pendidikan/latihan, sang pelatih/pendidik tidak boleh melupakan faktor budaya, latar belakang tingkat pendidikan dan bahkan bidang pekerjaan. Karena semua itu berkaitan dengan DAYA TANGKAP peserta pelatihan/pendidikan dan faktor psikologis. Kalau model "gado-gado" Anda ini diterapkan, dan berhasil dalam waktu pelatihan selama 30 hari, saya akan sangat salut pada pelatihnya. Kecuali, barang kali (saya tidak punya pengalaman di bidang ini), kalau pelatihan yang saudara maksudkan itu termasuk model proses "INDOKTRINASI CUCI OTAK". 5. (ddinasty)"...Dari fenomana tersebut, anda bisa bayangkan andaikata "doktrin militer" ini sanggup dijiwai oleh SELURUH masyarakat karena mereka ikut wajib militer, rasa persudaraan sebangsa dan setanah air ini akan kokoh dan kuat, satu sama lain tak akan tega untuk penderitaan ada diantara saudara-saudara mereka, orang Jerman bilang; "one hand wash the other".... Membayangkannya saja bagi saya masih agak sulit. Apalagi untuk mengkonkritkannya. Kalau mengkhayalkannya, barangkali bisalah. Tapi koq kerap saya lihat dan dengar, bahwa tentara itu suka bentak-bentak, main tempeleng, meskipun yang salah itu mereka. Kenapa ya? Mohon maaf untuk kutipan Jerman itu, karena saya kurang gaul dan kurang baca, nampaknya terlewatkan oleh saya. Bisa dijelaskan lebih lanjut? Siapa tokoh yang melontarkannya? Kayaknya menarik. 6. (ddinasyt): "Tiga tahun kita di "sekap" dalam kam-kam untuk di indoktrinasi, maka setelah keluar dari kam kita akan "lahir baru" sebagai anak bangsa yg punya rasa cinta dan peduli terhadap nasib saudara sebangsa kita. Itu bagian terpenting dari perlunya wajib militer, saya melihat rasa cinta antar bangsa di bumi Indonesia masish jauh dari cukup, perang Poso, kasus Mey dan kasus-kasus friksi agama adalah bukti nyata bahwa bansga ini gagal menjadi "satu bangsa". "Tiga tahun kita di "sekap" dalam kam-kam untuk di indoktrinasi..." a) Jadi lamanya WAMIL itu tiga tahun ya? Ini kemajuan dari RUU yang bilang 2X30 hari. Bagus.Nampaknya ini menarik. Mungkin bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai ide ini? b) Hanya sedikit keraguan, kenapa ya, mereka yang sudah jadi anggota militer itu kog ada saja yang menunjukkan perilaku yang jauh menyimpang dari rasa cinta pada tanah air? Seperti contoh yang jadi backing illegal loging di Kalimantan? Mohon maaf, saya banyak sekali pertanyaanya. Mohon kesabarannya. Dan mohon pencerahannya. Salam Mulyadi
