At 09:25 PM 3/12/2007, Loeky wrote: >--- In ><mailto:Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com>[email protected], > >Haniwar Syarif ><[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Pak Manneke, > > > > saya juga tertarik sekali dengan tulisan anda di posting lain sbb : > > > > > > Maka itu, dalam debat soal poligami, misalnya, fokus kita perlu >spesifik > > pada poligami yang menyebabkan KDRT, bukan poligami secara abstrak >dan umum. > > Ini akan banyak memudahkan pembicaraan,,,, > >L: Tentu saja anda memilih batasan2 yang memudahkan anda sendiri, >tetapi menyulitkan lawan diskusi anda.
jangan merasa sulit lah... santai aja... smile.. >Anda tak bisa membatasi orang lain menurut batasan selera sendiri, >misalnya membatasi pembicaraan poligami pada KDRT sebab bisa saja >ekses terburuk dari poligami (baik lewat kawin siri atau lewat KUA) >bukan cuma ekses2 yang terkait KDRT. lha sy cuma menyetujui pendapat Mas Manneke..., ini soal skala prioritas... kok >Sesungguhnya ekses negatif poligami bisa juga berupa eksploitasi >dengan kekayaan atau kekuasaan sebagai alat untuk mendapatkan istri >kedua, ketiga, dsb. Sebaliknya, keberadaan poligami secara resmi >bisa juga memberi ekses berupa godaan2 pada para wanita untuk >memanfaatkannya sebagai 'alat' mencari kekayaan atau status secara >gampang lewat poligami dg orang2 kaya. ini negeaip atau nggak... ?? kalau KDRT jelas negatip... lain lagi kalau soal nya kekayaan itu di abuse... , dimana ada yg dirugikan... kalau ini kan maslaahnya bgmn .. spy pihak yang potential teraniaya di beri perlindungan... dan itu bisa saja bukan dengan aturan larangan poligami... , tetapi.. aturan misalnya kalau si suami kaya mau kawin lagi... maka jika siistri pertama menolak di madu dan minta cerai... justru dia berhak dapat pembagian harta setidaknya separuh harta suami... Pasti mikir si suami.utk kawin lg... harganya mahal amat..... dan mungkin juga si istri senang... nggak usah melayani suami lagi tapi tetap terjamin hidupnya .... :) cinta toh nggak bisa dipaksa.. > > Tanpa menyatakan poligami terlarang, buatlah > > posisi poligami sebagai sesuatu yang sebisa > > bisa dihindari..justru dengan dalil agama > > misalnya dnegan merujuk fakta bhw nabi tidak > > pernah berpoligami semasa istri pertamanya > > hidup > >L: Nasehat yang indah untuk para pemuka agama, >tetapi nasehat ini tak bisa ditulis dalam UU dong. >sebab isi dan penilaian suatu UU thd suatu prilaku >hanya ada dua kemungkinan: > >a. melarang prilaku tsb, atau >b. membolehkan prilaku tsb, > >tak ada alternatif yang ketiga > >c. boleh, tetapi tak dianjurkan. Kenapa c nggak boleh..jadi alternatip .???... posisi UU yang sekarang kan begitu... jadi jelas bisa... Saya ingin kampanye nilai.. dengan encouraging discourgaing ini lebih diutamakan.. krn itu akan mendewasakan kita.. Apalagi kini sudah ada pendapat bhw kalau bicara dgn dalil agama (Islam).. pasti mentok omong poligami.. nah sy ingin perbaiki citra ini.. .. tujuan tercapai tanpa melukai harti siapapun... karena pastilah setiap ummat Islam tidak menolak jika anjurannya adalah meneladani Nabi.. Tinggal tentukan.. teladan yang mana... :) Pisahkan ajaran Islam dengan kebudayaan lokal... dulu itu.. ahkan nabi nabi .. istruinya lebih dari 10... Dulu itu.. di budaya senbelum Islam... wah dapat anak perempuan itu dianggap celaka... Saya pikir anak saya... dan anak Mas ... tidak mencuri bukan utamanya karena takut di penjara... tetapi krn amat meyakini bhw itu adalah hal buruk... jadinya terlintas aja nggak... apalagi berbuat.. ... alangkah indahnya .. kalau terlintas aja nggak...dalam pikiran..masyarakat kita.. untuk bebruat hal buruk.. Alangkah indahnya kalau yg terlintas.di pikiran kita.. .. saat membina keluarga... adalah indahnya monogami... dan... betapa repotnya .. poligami... setidaknya kalau lebaran... repot kan bagi waktu ngunjungi dua mertua..mana jalan macet lagi....:( Salam Hnaiwar > > Mengenai kesetaraan gender.., muslimah yg > > saya kutip ucapannya,Bu Darfiana Nur, adalah > > seorang pakar, yang kini jadi dosen di > > sebuah uiniversitas di Australia. Lucu dengar > > cerita dia... ketika masuk keruang kuliah. > >L: Saya pernah kenal dan ketemu Darfiana >ketika dia baru saja selesai dari ITB >(sekitar tahun 1988). Saya kenal dan masih sering >ketemu kakak kandungnya. > >Salam Haniwar http://haniwar.blogspot.com/
