Dear,

Tampaknya sinetron seperti itu akan tetap di produksi selama masih
banyaknya minat masyarakat terhadap acara - acara tersebut, tapi
percayalah, seiring berjalannya waktu akan padam sendiri, dahulu saat
hampir tiap malam kita disuguhi oleh acara yang berbau mistik,
sekarang akhirnya berkurang juga, walaupun masih ada stasiun TV yang
membuat program baru atas acara tersebut.

Inikah mental kita? mau saja menerima apa yang di anggap hiburan,
seperti sinetron-sinetron yang ada, Terutama "Intan" saya sampai
pusing kalo ga sengaja melihat sinetron tersebut, karena ruang kerja
saya dirumah menyatu dengan ruang keluarga, jadi mau tidak mau harus
gabung dengan keluarga yang sedang melihat acara TV. hampir tiap 10
menit sekali pasti ada saja adegan tangis menangis, sampai pusing
kepala saya. Terlebih pembantu saya yang maaf "agak kurang dengar"
pasti harus mengencangkan Volume, selain itu saya rasa sudah saatnya
produksi perfilman maupun sinetron kita membuat sesuatu yang bermutu.

Tapi sekali lagi kita hanya bisa nge gerutu, karena yang disana pasti
cuma menjawab "Gitu aja Kok Repot"


Wassalam


-----
Grosir Pakaian Anak Branded
http://www.outlet-jongkok.net
email : [EMAIL PROTECTED]
Fax : 021-8502156


--- In [email protected], "Edy P" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Mbak Dinda,
>
> Memang sangat memprihatinkan apa yang selama ini banyak
dipertontonkan kepada masyarakat melalui layar kaca, khususnya dalam
berbagai sinetron, yang cenderung mengangkat masalah-masalah kasuistik
untuk dijadikan konsumsi umum yang pada gilirannya akan mematri dalam
pikiran dan pandangan pemirsa bahwa fenomena seperti itu sudah biasa
dan menjadi kebiasaan masyarakat kita.
>
> Kalau mbak Dinda menyebutnya itu sebagai pembodohan, saya mendukung.
Bahkan itu proses pendunguan (menjadikan orang menjadi dungu). Memang
orang boleh saja komentar, "ya kalau tidak suka tidak usah menonton"
atau "kalau memang tidak pengen terpengaruh ya jangan menonton"; tapi
masalahnya tidak sesederhana itu. Banyak di antara pemirsa kita tidak
memiliki kekuatan daya saring (filtering) terhadap apa yang disuguhkan
di layar kaca atau di bergai media lainnya.
>
> Maka saya usul, hendaknya para produsen sinetron dan acara publik
itu menggunakan logika sosial yang tepat sehingga tidak mengambil
kesimpulan tanpa premis-premis minor yang mencukupi untuk ditarik
kesimpulan yang lebih umum.
>
> Makasih.

Kirim email ke