Ini menjadi buah simalakama buat kita sebagai pemirsa, disatu sisi kita butuh hiburan, tetapi setelah dapat, kita mendapatkan hiburan yang sangat tidak mencerahkan. Dikampung-kampung dikaki gunung Merapi Jogjakarta, para orang tua kalau dimalam hari sudah lebih tertarik kepada sinetron daripada mendengarkan cerita wayang atau "njagong" nonton wayangan. Mereka lebih suka pada hasil karya "punjabi-punjabi" tersebut daripada cerita leluhur yang "isinya" mengandung budi pekerti.....
Pada tanggal 13 Mar 2007 05:08:04 -0700, Titiana Adinda < [EMAIL PROTECTED]> menulis: > Dear mas Edy dan teman-teman milis lainnya,Yap aku setuju dgn pendapat > mas Edy.Memang kebanyakan org berpendapat "kalo nggak suka acaranya ya > matiin aja atau pindah channel aja".Ternyata problemnya nggak cukup sampai > disitu aja. Benar kata mas: "tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Banyak > di antara pemirsa kita tidak memiliki kekuatan daya saring (filtering) > terhadap apa yang disuguhkan di layar kaca atau di berbagai media lainnya." > > Makasih.. > > Salam hangat, > Dinda
