Pertama, sayangnya moral itu hampir tidak ada yang universal (paling- paling sebatas mencuri atau berbohong).
Yang satu mungkin melihat evolusi moral ke arah yang lebih baik, tapi pihak lain menilai evolusi yang sama sebenarnya menuju kehancuran. Dua-duanya susah disalahkan; wong saya dan tetangga saya saja pijakan moralnya bisa berbeda. Kedua, kalau evolusi biologi kan arahnya jelas; menuju survival, eh, penyintasan gen. Kalau evolusi moral manusia ternyata melawan arah evolusi biologi, maka biarkan sajalah alam yang menentukan keberlangsungan kita manusia di muka bumi. Di tempat saya tinggal pemerintahnya sedang ketar ketir karena pertumbuhan penduduknya (yang alami, di luar migrasi) minus sudah bertahun-tahun. Evolusi moral di sini sudah tidak memungkinkan menyuruh perempuan mengutamakan beranak pinak di atas karir dan aktualisasi dirinya, apalagi menghalalkan poligami. Tapi evolusi moral di sini juga belum sampai ke membiasakan laki-laki sebagai penanggungjawab utama perawatan anaknya. Namanya evolusi moral kejepit di tengah-tengahlah hehe. Tapi mother nature mana peduli, kan? Kalau Anda tidak beranak, ya punahlah Anda. Andi --- In [email protected], Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Jangan lupa bahwa hewan tak punya moral sense. Moral sense adalah hasil dari proses evolusi yang hanya terjadi pada manusia. Makanya, hewan dimaklumi sebagai makhluk "amoral" (tak mengenal moral), sedang manusia punya moral sense. Jadi, manusia yang tingkah lakunya menerabas moral disebut "immoral" alias moralnya bejat. > > Diskusi poligami lebih tepat diletakkan dalam konteks evolusi moral sense pada manusia, bukan pada evolusi hewan yang tak kenal moral dan tak bisa dimintai tanggung jawab moral atas hasil perbuatannya. > > manneke > > si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Tega itu kan ungkapan kasih sayang, Mbak (juga buat Mbak Laura). > Jangan dipolitisir begitu. Saya juga mana tega melihat isteri ngepel, > tapi kalau sudah gilirannya ya mesti tega. Kalau tidak, karena sayang > bisa-bisa semua kerjaan rumah tangga saya semua ngerjain. Saya > percaya dia juga begitu melihat saya. Gitu lho. > > Balik lagi, biar diskusi enggak kemana-mana, premis saya masih sama, > perempuan itu lebih senang pasangannya yang memimpin dan itu bukan > cuma salahnya Mas Konstruksi Sosial tadi (kasian disalahkan melulu). > Ini sudah sejak zaman manusia dan monyet masih susah dibedakan. Kalau > nonton discovery channel, singa atau monyet yang punya harem banyak > selalulah yang dominan, yang badannya besar dan selalu menang > berkelahi. Sementara yang jantan kelas dua akhirnya hidup menjomblo > tidak punya keturunan. > > Nah, padahal para hewan betina ini kan punya pilihan untuk kawin > dengan si kelas dua yang bakal lebih penurut ini. Tapi mengapa mereka > mau dipoligami sama si jantan yang dominan coba? Karena sifat-sifat > dominan ini dari sononya sudah terbukti menghasilkan keturunan yang > dominan juga dan berarti survival ratenya lebih tinggi. Jadi biar > anak-anaknya survive, hewan betina harus mencari pasangan yang > dominan. Tidak bisa yang kelas dua. > > Berhubung 98% gen kita dan gen monyet itu sama, yang seperti ini > sudah terprogram juga dalam naluri manusia yang perempuan. Kalau > tidak ada informasi lain, maka pilihan pertamanya adalah lelaki yang > dominan; kulit luarnya tentu dari bentuk tubuh (tinggi besar) dan > kelakuan (percaya diri, jelas apa maunya). > > CUMA, ada cumanya, berhubung manusia itu sudah lebih maju dari hewan, > maka faktor pandangan pertama itu lantas harus disuplemen dengan > pandangan kedua: apa orang ini bisa diandalkan, apa karena ganteng > terus jadi s3 (selingkuh sana sini), apa orang ini egois? Ini yang > menyebabkan pilihan logis jatuh pada orang mungkin dari luar tidak > kelihatan memimpin. Kalau tidak begitu ya kasian orang-orang yang > seperti saya ini... > > Andi >
