Lho, ini kok melenceng toh? Dari urusan moral sense sebagai produk evolusi kok 
lalu ujug-ujug jadi soal penilaian moral terhadap evolusi? Kalo penilaian moral 
terhadap evolusi memang bisa beda dari satu orang ke orang lain. Ini siapa aja 
juga ngerti. Tapi intinya adalah seberapapun perbedaan nilai moral itu dari 
satu indibidu ke individu lain, dari satu budaya ke budaya lain, secara 
universal semua manusia berpotensi mengembangkan moral sense. Ini yang 
merupakan produk evolusi. Bahwa moral sense ini "warna"-nya berbeda dari satu 
kultur ke kultur lain, ya ini samalah dengan perbedaan ciri-ciri fisik dan 
kepribadian, yang membuat setiap orang menjadi "unik".
   
  Moral sense yang berevolusi, menurut Steven Pinker, adalah yang dilandasi 
oleh cost-benefit calculation. Kalau saya mau menolong seseorang, saya akan 
menghitung seberapa besar cost yang akan saya keluarkan dan seberapa besar 
benefit yang dihasilkan. Maka itu, kecenderungan orang untuk menolong anak atau 
saudara sendiri jauh lebih besar dari pada untuk menolong teman (yang tak ada 
hubungan darah) atau orang asing. 
   
  Perhitungan yang sama juga bisa terjadi dalam penentuan seseorang mau punya 
anak atau tidak. Gen hanya tahu satu hal: penyintasan. salah satu perilaku 
wujud dari kecenderungan genetik ini adalah reproduksi. Tapi, reproduksi bukan 
satu-satunya wujud (kecuali pada hewan). Ketika dunia menjadi makin padat dan 
tantangan hidup menjadi lebih kompleks, reproduksi yang tanpa batas justru 
dapat mempercepat kepunahan manusia sendiri, dan dengan demikian, menjadi 
bertentangan dengan misi gen untuk sintas. Jadi, tak serta-merta kehendak untuk 
tidak mempunyai keturunan berarti adalah perilaku yang bertentangan dengan 
kemauan gen. 
   
  Tapi, tak terlalu tepat sebetulnya bicara soal mau punya anak atau tidak dari 
perspektif moral sense. Makanya, jadi makin terkesan diskusi ini melebar ke 
mana-mana. 
   
  manneke

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pertama, sayangnya moral itu hampir tidak ada yang universal (paling-
paling sebatas mencuri atau berbohong).

Yang satu mungkin melihat evolusi moral ke arah yang lebih baik, tapi 
pihak lain menilai evolusi yang sama sebenarnya menuju kehancuran. 
Dua-duanya susah disalahkan; wong saya dan tetangga saya saja pijakan 
moralnya bisa berbeda.

Kedua, kalau evolusi biologi kan arahnya jelas; menuju survival, eh, 
penyintasan gen. Kalau evolusi moral manusia ternyata melawan arah 
evolusi biologi, maka biarkan sajalah alam yang menentukan 
keberlangsungan kita manusia di muka bumi. Di tempat saya tinggal 
pemerintahnya sedang ketar ketir karena pertumbuhan penduduknya (yang 
alami, di luar migrasi) minus sudah bertahun-tahun. Evolusi moral di 
sini sudah tidak memungkinkan menyuruh perempuan mengutamakan beranak 
pinak di atas karir dan aktualisasi dirinya, apalagi menghalalkan 
poligami. Tapi evolusi moral di sini juga belum sampai ke membiasakan 
laki-laki sebagai penanggungjawab utama perawatan anaknya. Namanya 
evolusi moral kejepit di tengah-tengahlah hehe. Tapi mother nature 
mana peduli, kan? Kalau Anda tidak beranak, ya punahlah Anda.

Andi

Kirim email ke