Ngeyel boleh, tapi sebaiknya yang bermutu. Ini saya cuplikkan bagian dari 
psotingan Anda sendiri. versi lengkapnya juga masih ada di paling bawah sekali 
dari tread ini:
   
   
  Pertama, sayangnya moral itu hampir tidak ada yang universal 
(paling-
> paling sebatas mencuri atau berbohong).
> 
> Yang satu mungkin melihat evolusi moral ke arah yang lebih baik, 
tapi 
> pihak lain menilai evolusi yang sama sebenarnya menuju kehancuran. 
> Dua-duanya susah disalahkan; wong saya dan tetangga saya saja 
pijakan 
> moralnya bisa berbeda.

Apa ini bukan penilaian moral? Wong ngomongnya soal baik buruk kok. Anda ngerti 
bahasa Indonesia, kan? Saya lama-lama jadi ragu nih. Cuplikan di ata situ 
tulisan Anda sendiri, Bung, bukan hasil karya jelangkung.
   
  Lalu, pada posting Anda di bawah ini, lagi-lagi Anda bicara soal relativitas 
nilai moral. Saya katakan melenceng dari topik, sebab dalam evolusi, moral 
sense pun adalah domain otak yang turut mengalami evolusi. Dia tidak terletak 
di luar proses evolusi. Itu saja. Kenapa saya katakan demikian? Sebab Anda 
bicara evolusi seolah-olah itu cuma soal biologis belaka. Makannya, tak bisa 
melihat letak perbedaan evolusi manusia dan hewan, dan selalu memakai contoh 
hewan untuk bicara soal manusia dalam hal poligami.
   
  Lha kok ujug-ujugnya bicara soal relativitas nilai moral? Kalo ini sih semua 
orang juga tahu, Bung. Cuma, relativitas ini kaitannya ama evolusi apa? 
Evolusinya tak relatif. Yang relatif itu nilainya. Dan ini di luar diskusi kita.
   
  Terus, yang bilang perhitungan untung rugi ditentukan gen itu siapa sih? 
Ampun deh. Gen itu--baca baik-baik 10 kali lagi--memberi potensi kepada manusia 
untuk memiliki moral sense. Yang mengaktifkan potensi itu adalah otak. Jadi 
kalkulasi untung rugi tidak dilakukan oleh gen tapi oleh otak. Anda menyalahkan 
suatu pernyataan yang benar, tapi pernyataan itu lalu Anda ulangi sendiri untuk 
mengoreksi pernyataan yang sama. Iki opo toh karepe? 
   
  Sekarang, ada barang baru dibawa masuk: kromosom. Tujuannya? Untuk membuat 
argumen bahwa manusia punya sifat dasar. Lah ini semua orang juga tahu, nggak 
usah pakai kromosom-kromosoman. Semua orang kalo lapar akan cari makan, haus 
cari minum, ngantuk akan tidur, takut akan lari, dsb. Tapi, so what gitu lho? 
   
  Melebar teruuuuuuus dan melenceng teruuuuuuus.... Yang penting ngeyel. He he 
he.
   
  manneke
  
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Tidak melebar dan tidak melenceng, Pak. Anda saja yang tidak hati-
hati membaca. Saya SAMA SEKALI TIDAK bicara penilaian moral terhadap 
evolusi. Baca lagi, deh.

Saya membicarakan hal yang sama dengan Anda. Intinya moral itu 
sifatnya relatif. Relatif terhadap individu, relatif juga terhadap 
waktu. Hari ini Anda bilang tidak beranak itu membantu mencegah 
kepunahan; dus dibenarkan secara moral. Besok, kalau manusia menyusut 
terus, maka beranak banyaklah yang membantu mencegah kepunahan, benar 
juga secara moral. Saya tidak percaya kalau keputusan mana yang baik 
mana yang buruk itu ditentukan oleh komposisi genetika kita, Pak. Itu 
hasil kerja otak yang mengukur untung dan rugi.

Manusia itu ada dong sifat dasarnya yang dibangun bertahun-tahun 
lewat evolusi, terekam dalam 23 pasang kromosom, yang menyebabkan ada 
tindakan manusia yang tidak sejalan dengan akal sehatnya. Itu yang 
sedang diteliti dan itu yang selalu saya kemukakan. Tidak kemana-
mana, kok.

Andi

Kirim email ke