1) Paragraf 1 Anda saya masih bolot. Nggak ngerti. Isinya cuma putar-putar kata 
saja. Nggak ada yang ngomong nilai kok. Yang diomong adalah gen pemberi potensi 
moral sense. Bukan bagaimana tiap budaya memberi nilai berbeda pada aspek-aspek 
moral tertentu. Mua beda nilai kek, tapi yang jelas moral sense adalah beda 
antara manusia dan hewan (yang Anda puja-puja itu). Rupanya Anda lebih bolot 
ternyata.
   
  2) tentang evolusi moral: semua proses evolusi adalah hasil interaksi antara 
potensi yang diberi oleh gen dan lingkungan eksternal, jadi bukan cuma evolusi 
moral doang. Makanya, nggak salah kalo saya bilang Anda ini masih menganut 
Darwinian ortodoks dari masa 100 tahun lampau. Tapi, bahkan Darwin pun tak 
bicara alam bawah sadar. Itu bagian dari psikoanalisis Freudian, dan Freud 
tidak terlalu bahagia dengan keseluruhan teori Darwin karena justru Darwin tak 
hirau dengan aspek moral, yang dalam psikoanalisis Freud berlokasi pada 
superego. Jadi, jangan campur aduklah, ntar bolot beneran lho. Yang bawa-bawa 
jerapahnya Lamarck juga bukan saya kok. Ini kan ulah Anda untuk 
melebar-lebarkan persoalan (udah gitu, salah nama lagi, hi hi hi...untung ada 
yang koreksi). Jadi, jangan dilempar ke saya ah. Jadi, ketahuan noraknya...eh, 
bolotnya.
   
  3) sangkutan dengan agama dan politik gender: pertama, masih diperdebatkan 
bahkan oleh kalangan intelektual Muslim sendiri apakah Qur'an membolehkan 
poligami atau tidak. Jadi jangan maen diputusin seenak udel sendiri. Lagian, 
yang bawa-bawa agama dalam urusan poligami di milis ini siapa duluan? Soal 
politik gender, sudah jelas: kaum feminis berkeyakinan bahwa laki-laki dan 
perempuan setara, meski berbeda. Bahwa ada orang yang menganggap mereka tak 
setara, inilah yang saya kaitkan dengan "relativitas" itu, dan yang saya 
katakan bahwa "semua orang juga tahu." Anda bolot amat sih, nggak ngerti kaitan 
yang sepele seperti ini? 
   
  4) Anda bilang: moral akan bubar ketika manusia dipisahkan dari lingkungan 
budayanya? Ini pernyataan paling kacau yang saya pernah dengar seumur hidup. 
Jadi, kalo di Indonesia Anda diajarin nggak boleh nyopet, lalu begitu pergi ke 
Inggris terus Anda pasti jadi tukang copet, gitu? Alamakjan! Terus, "kalo 
perempuan ditaruh di pulau terasing, dia pasti akan pilih laki-laki dominan 
sebagai partnernya"? Hanya orang tak waras yang bisa menghasilkan ide seperti 
ini. Pertama, ini hipotesis yang tak akan pernah terbukti. Saya tunggu kalo 
sudah ada buktinya. Kedua, asumsi gila macam ini hanya bisa muncul di benak 
laki-laki yang memang punya pandangan sangat rendah terhadap perempuan, di 
samping menilai dirinya sendiri terlalu tinggi. Sudah kian jelas, Pak Andi, 
manusia macam apa Anda ini. Lebih parah dari bolot! Ya, memang seperti kata 
Anda, "masih di situ-situ juga" bolotnya dan muter-muternya.
   
  manneke

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Okelah, Pak Manneke, biar Anda tidak kelamaan bolot, saya urut:

Anda bilang evolusi (biologis) menghasilkan manusia yang fitrahnya 
memiliki "nilai-nilai moral". Artinya tanpa diajari pun manusia akan 
bersikap begitu; umpamanya, tidak membunuh manusia, tidak mengawini 
saudara sendiri. Ini disampaikan juga oleh Pak Loekyh dan tidak saya 
bantah. Ini bisa dirujuk ke tujuan satu-satunya gen kita yaitu untuk 
bersintas. Itu maksud saya ketika bicara "sayangnya nilai-nilai moral 
itu hampir tidak ada yang universal" karena nilai-nilai seperti ini 
tidak banyak. Paham kan sampai di sini?

Setelah manusia membangun budaya yang makin canggih, nilai moral ini 
berkembang makin banyak dan makin canggih, tidak cuma yang 
berhubungan langsung dengan penyintasan. Ini yang saya maksud dengan 
evolusi moral; terjadi secara budaya, bukan secara biologi (di situ 
kan enggak nyambungnya Anda?). Jadi walaupun pemahaman budayanya 
berkembang, alam bawah sadarnya masih sama saja. Kecuali tentu kalau 
Anda, seperti Lamarck, masih percaya kalau leher jerapah itu panjang 
karena sering dijulurkan. Kalau itu saya angkat tangan.

Nilai-nilai moral yang dibangun oleh budaya ini adalah tanggapan 
otaknya terhadap lingkungannya. Berbeda dengan "nilai-nilai moral" 
yang saya sebut di paragraf pertama. 

Contoh nilai-nilai moral yang non-basic: 
Apakah poligami salah atau benar? Relatif terhadap waktu dan tempat 
Anda berada. 
Apakah hubungan pria dan wanita itu harus merupakan "partner setara"? 
Relatif terhadap waktu dan tempat Anda berada. 

Jadi bisa saja orang menganut nilai moral tersebut karena tekanan 
lingkungannya. Nilai-nilai ini kemungkinan akan bubar dengan 
sendirinya kalau manusianya ditempatkan berdua saja atau bertiga saja 
di sebuah pulau terasing. 

Relativisme inilah yang menurut Anda "semua orang juga tau". Tapi 
silakan Anda coba sendiri, kalau sudah disangkutkan dengan agama atau 
gerakan politik (termasuk politik jender), "semua orang" itu ternyata 
tidak banyak, Pak. Kebanyakan orang mengaku nilai yang dia anut itu 
sifatnya mutlak a.k.a "sudah fitrah manusia".

Nah, berhubung topik saya masih seputar pilihan wanita kepada pria 
dominan, maka begitu Anda tau-tau bicara soal moral (ini Anda yang 
mulai lho), maka yang saya bicarakan adalah moral yang dibentuk oleh 
budaya, yang akan bubar kalau manusia dipisahkan dari lingkungan 
budayanya. Argumen saya, pilihan untuk mewujudkan kesetaraan jender 
itu adalah pilihan moral akibat perkembangan budaya. Kalau bukan 
karena dibentuk oleh budaya masa kini, kalau mereka ditaruh di pulau 
terasing, maka perempuan itu akan memilih laki-laki dominan sebagai 
partnernya. Masih di situ-situ juga kan saya? Anda saja yang kemana-
mana.

Andi

Kirim email ke