Okelah, Pak Manneke, biar Anda tidak kelamaan bolot, saya urut:

Anda bilang evolusi (biologis) menghasilkan manusia yang fitrahnya 
memiliki "nilai-nilai moral". Artinya tanpa diajari pun manusia akan 
bersikap begitu; umpamanya, tidak membunuh manusia, tidak mengawini 
saudara sendiri. Ini disampaikan juga oleh Pak Loekyh dan tidak saya 
bantah. Ini bisa dirujuk ke tujuan satu-satunya gen kita yaitu untuk 
bersintas. Itu maksud saya ketika bicara "sayangnya nilai-nilai moral 
itu hampir tidak ada yang universal" karena nilai-nilai seperti ini 
tidak banyak. Paham kan sampai di sini?

Setelah manusia membangun budaya yang makin canggih, nilai moral ini 
berkembang makin banyak dan makin canggih, tidak cuma yang 
berhubungan langsung dengan penyintasan. Ini yang saya maksud dengan 
evolusi moral; terjadi secara budaya, bukan secara biologi (di situ 
kan enggak nyambungnya Anda?). Jadi walaupun pemahaman budayanya 
berkembang, alam bawah sadarnya masih sama saja. Kecuali tentu kalau 
Anda, seperti Lamarck, masih percaya kalau leher jerapah itu panjang 
karena sering dijulurkan. Kalau itu saya angkat tangan.

Nilai-nilai moral yang dibangun oleh budaya ini adalah tanggapan 
otaknya terhadap lingkungannya. Berbeda dengan "nilai-nilai moral" 
yang saya sebut di paragraf pertama. 

Contoh nilai-nilai moral yang non-basic: 
Apakah poligami salah atau benar? Relatif terhadap waktu dan tempat 
Anda berada. 
Apakah hubungan pria dan wanita itu harus merupakan "partner setara"? 
Relatif terhadap waktu dan tempat Anda berada. 

Jadi bisa saja orang menganut nilai moral tersebut karena tekanan 
lingkungannya. Nilai-nilai ini kemungkinan akan bubar dengan 
sendirinya kalau manusianya ditempatkan berdua saja atau bertiga saja 
di sebuah pulau terasing. 

Relativisme inilah yang menurut Anda "semua orang juga tau". Tapi 
silakan Anda coba sendiri, kalau sudah disangkutkan dengan agama atau 
gerakan politik (termasuk politik jender), "semua orang" itu ternyata 
tidak banyak, Pak. Kebanyakan orang mengaku nilai yang dia anut itu 
sifatnya mutlak a.k.a "sudah fitrah manusia".

Nah, berhubung topik saya masih seputar pilihan wanita kepada pria 
dominan, maka begitu Anda tau-tau bicara soal moral (ini Anda yang 
mulai lho), maka yang saya bicarakan adalah moral yang dibentuk oleh 
budaya, yang akan bubar kalau manusia dipisahkan dari lingkungan 
budayanya. Argumen saya, pilihan untuk mewujudkan kesetaraan jender 
itu adalah pilihan moral akibat perkembangan budaya. Kalau bukan 
karena dibentuk oleh budaya masa kini, kalau mereka ditaruh di pulau 
terasing, maka perempuan itu akan memilih laki-laki dominan sebagai 
partnernya. Masih di situ-situ juga kan saya? Anda saja yang kemana-
mana.

Andi

--- In [email protected], Manneke Budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ngeyel boleh, tapi sebaiknya yang bermutu. Ini saya cuplikkan 
bagian dari psotingan Anda sendiri. versi lengkapnya juga masih ada 
di paling bawah sekali dari tread ini:
>    
>    
>   Pertama, sayangnya moral itu hampir tidak ada yang universal 
> (paling-
> > paling sebatas mencuri atau berbohong).
> > 
> > Yang satu mungkin melihat evolusi moral ke arah yang lebih baik, 
> tapi 
> > pihak lain menilai evolusi yang sama sebenarnya menuju 
kehancuran. 
> > Dua-duanya susah disalahkan; wong saya dan tetangga saya saja 
> pijakan 
> > moralnya bisa berbeda.
> 
> Apa ini bukan penilaian moral? Wong ngomongnya soal baik buruk kok. 
Anda ngerti bahasa Indonesia, kan? Saya lama-lama jadi ragu nih. 
Cuplikan di ata situ tulisan Anda sendiri, Bung, bukan hasil karya 
jelangkung.
>    
>   Lalu, pada posting Anda di bawah ini, lagi-lagi Anda bicara soal 
relativitas nilai moral. Saya katakan melenceng dari topik, sebab 
dalam evolusi, moral sense pun adalah domain otak yang turut 
mengalami evolusi. Dia tidak terletak di luar proses evolusi. Itu 
saja. Kenapa saya katakan demikian? Sebab Anda bicara evolusi seolah-
olah itu cuma soal biologis belaka. Makannya, tak bisa melihat letak 
perbedaan evolusi manusia dan hewan, dan selalu memakai contoh hewan 
untuk bicara soal manusia dalam hal poligami.
>    
>   Lha kok ujug-ujugnya bicara soal relativitas nilai moral? Kalo 
ini sih semua orang juga tahu, Bung. Cuma, relativitas ini kaitannya 
ama evolusi apa? Evolusinya tak relatif. Yang relatif itu nilainya. 
Dan ini di luar diskusi kita.
>    
>   Terus, yang bilang perhitungan untung rugi ditentukan gen itu 
siapa sih? Ampun deh. Gen itu--baca baik-baik 10 kali lagi--memberi 
potensi kepada manusia untuk memiliki moral sense. Yang mengaktifkan 
potensi itu adalah otak. Jadi kalkulasi untung rugi tidak dilakukan 
oleh gen tapi oleh otak. Anda menyalahkan suatu pernyataan yang 
benar, tapi pernyataan itu lalu Anda ulangi sendiri untuk mengoreksi 
pernyataan yang sama. Iki opo toh karepe? 
>    
>   Sekarang, ada barang baru dibawa masuk: kromosom. Tujuannya? 
Untuk membuat argumen bahwa manusia punya sifat dasar. Lah ini semua 
orang juga tahu, nggak usah pakai kromosom-kromosoman. Semua orang 
kalo lapar akan cari makan, haus cari minum, ngantuk akan tidur, 
takut akan lari, dsb. Tapi, so what gitu lho? 
>    
>   Melebar teruuuuuuus dan melenceng teruuuuuuus.... Yang penting 
ngeyel. He he he.
>    
>   manneke
>   
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Tidak melebar dan tidak melenceng, Pak. Anda saja yang tidak hati-
> hati membaca. Saya SAMA SEKALI TIDAK bicara penilaian moral 
terhadap 
> evolusi. Baca lagi, deh.
> 
> Saya membicarakan hal yang sama dengan Anda. Intinya moral itu 
> sifatnya relatif. Relatif terhadap individu, relatif juga terhadap 
> waktu. Hari ini Anda bilang tidak beranak itu membantu mencegah 
> kepunahan; dus dibenarkan secara moral. Besok, kalau manusia 
menyusut 
> terus, maka beranak banyaklah yang membantu mencegah kepunahan, 
benar 
> juga secara moral. Saya tidak percaya kalau keputusan mana yang 
baik 
> mana yang buruk itu ditentukan oleh komposisi genetika kita, Pak. 
Itu 
> hasil kerja otak yang mengukur untung dan rugi.
> 
> Manusia itu ada dong sifat dasarnya yang dibangun bertahun-tahun 
> lewat evolusi, terekam dalam 23 pasang kromosom, yang menyebabkan 
ada 
> tindakan manusia yang tidak sejalan dengan akal sehatnya. Itu yang 
> sedang diteliti dan itu yang selalu saya kemukakan. Tidak kemana-
> mana, kok.
> 
> Andi
>


Kirim email ke