Saya kelompokkan sedikit Pak ya, biar enak bacanya:

Penjelasan ilmiah hubungan kepribadian dengan bau badan

Ini Anda minta hasil riset abad ke-22. Jelas saat ini belum ada. Yang 
ada ya data empiris itu. Hipotesis sederhananya, gen yang menentukan 
kepribadian seseorang bisa jadi sama dengan gen yang mengatur 
komposisi kimia bau badan. Gen yang mana itu? Ya belum ada yang tau. 
Kalau studi gen sudah secanggih itu, percaya sama saya, hari ini 
orang sudah menemukan obat kanker. Sebaliknya, Anda toh juga tidak 
punya studi ilmiah yang bilang bahwa yang mengatur kepribadian dan 
bau badan itu adalah dua gen yang berbeda. 

Bukti empiris adanya hubungan bau badan dengan kepribadian dan daya 
tarik seksual?

Sudah banyak, Pak. Riset pada tikus dan kecoa menunjukkan bahwa 
jantan dominan itu menghasilkan feromon yang berbeda. Riset pada 
manusia, ya itu salah satunya. Bahwa bau badan pria itu ada efek 
seksualnya pada wanita sudah buanyak risetnya.

Kok saya sebentar-sebentar mengutip studi pada hewan?

Kelihatannya begitu. Yang saya kemukakan namanya psikologi evolusi. 
Hipotesisnya, banyak tindakan manusia yang dikendalikan oleh alam 
bawah sadarnya. Tindakan itu adalah jejak evolusi selama miliaran 
tahun dari bakteri sampai menjadi manusia; ketika nenek moyang 
manusia masih dikendalikan naluri. Contoh: Manusia secara naluriah 
tidak akan mau berhubungan seks dengan saudaranya sendiri. Tidak 
diajari pun dia akan begitu. Bukti bahwa naluri ini mem-by-pass akal 
sehat maupun nilai moralnya. Tapi ini susah kalau mau dibuktikan 
langsung pada manusia karena tindakan mengawini saudara sendiri juga 
merupakan tabu sosial atau larangan agama.

Studi pada hewan itu jadi penting untuk mempelajari perilaku manusia. 
Prozac yang belakangan banyak Anda minum itu ya lewat studi perilaku 
pada tikus juga. Bahasa Sundanya Clinical Study Phase 0. Bukan 
berarti semua sifat Pak Manneke identik dengan tikus kan?

Apakah saya sepaham dengan Hitler?

Anda salah memahami Hitler, Pak. Hitler mendewakan manusia Eropa 
Utara karena katanya alamnya yang keras dan kurangnya matahari 
membentuk manusia berkulit pucat yang superior. Superioritas ini 
bukan karena bentuk wajahnya atau warna kulitnya tapi karena ras 
tersebut ditempa oleh alam. Zaman dulu kan belum banyak imigrasi. 
Yang tinggal di Eropa ya orang Eropa. Di situ asal usul rasisme 
Hitler. Hipotesisnya walaupun terbukti salah, normal-normal saja 
untuk tingkat keilmuan saat itu. Ingat, rasisme itu ditabukan barulah 
50 tahun terakhir. Yang bangsat tujuh turunan itu sebenarnya 
kesimpulan propaganda Nazi yang berbunyi bahwa ras lain harus menjadi 
budak ras kulit putih dan konsekuensinya menjajah benua Eropa. 

Saya jelas tidak percaya pria dominan lebih superior daripada pria 
tidak dominan. Tapi dia lebih menarik bagi wanita karena jejak 
evolusi yang saya bicarakan di awal. Sama halnya bahwa saya percaya 
pria ganteng lebih menarik wanita daripada pria kurang ganteng 
seperti saya kalau cuma dinilai wajahnya. Bukan berarti saya percaya 
pria ganteng itu manusia superior kan?

Tapi kan saya bilang wanita tertarik kepada pria yang karakter 
fisiknya mengesankan sifat dominan?

Betul. Tapi locusnya di si wanitanya. Kecenderungan itu sudah ada di 
alam bawah sadarnya; dari naluri mencari pejantan dominan. Bukan 
berarti pria tinggi-besar-pede itu beneran sifatnya dominan. Di 
kepala manusia itu sudah tertanam bahwa muka begini sifatnya pasti 
begini. Akal sehatlah yang mencegah Anda berpegangan pada kesimpulan 
bawah sadar Anda itu. 

Bagaimana metode penelitian bau badan itu menghindari efek makanan 
dan deodoran?

Saya kutip sajalah jurnalnya:
"...(subjects were asked) to wear cotton pads in their armpits for 
24h....Subjects were instructed to avoid spicy and smelly food, 
alcohol, smoking or using any scented cosmetics on both the evening 
before and during the day when they were wearing the pads..."

Soal Evolusi Moral?

Kepanjangan, Pak. Nanti dibikin terpisah sajalah. Saya pernah lihat 
foto yang Anda maksud. Anak kecil kurus ditunggui burung bangkai. 
Pertama kali saya merasa sedih sekali cuma dari melihat foto.

Andi

PS: Macho dan Metroseksual itu berseberangan, Pak Manneke. Bukan sama 
dan sebangun. Anda kurang gaul sih. Coba tanya Mbak Laura kalau tidak 
percaya.


--- In [email protected], Manneke Budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bau badan itu, Boss, dibentuk oleh banyak hal. Yang namanya 
keringat itu ya bisa mengandung deodoran, ditentukan oleh makanan, 
oleh kondisi kesehatan tubuh pada suatu waktu tertentu, oleh proses-
proses kimiawi dan fisiologis yang terjadi dalam tubuh. variabel-nya 
bejibun! Makanya, ketika digathuk-gathukin sama kepribadian, jadinya 
ajaib! Riset yang Anda bawa-bawa ke milis ini memakai begitu saja 
asumsi bahwa ada hubungan antara bau badan manusia dan kepribadian 
TANPA menguraikan secara ilmiah bagaimana, apa, dan mengapa hubungan 
itu terbentuk. 
>    
>   Nah, karena Anda yang promosikan riset tersebut, bisa nggak 
dijelaskan di sini, persisnya gimana sih kok bau badan alias keringat 
bisa terkait dengan kepribadian? Kalau yang dimaksud bahwa orangnya 
jarang mandi, atau mandinya nggak sabunan, atau tiap mandi pake Lux 
maka wangi selalu, ini bisa diterima akal sehat dan bisa dibuktikan 
secara ilmiah. Tapi, kalo bau keringatnya X karena dia sifatnya Y, 
ini sulapan!
>    
>   Cowok macho metroseksual yang konon bersifat "dominan" itu rata-
rata yak pernah meninggalkan rumah tanpa menyemprot sekujur tubuhnya 
pake deodoran dulu. Namanya juga mau memikat perempuan. Justru kalo 
nggak pake wangi-wangian, itu bukan casanova namanya.
>    
>   Saya manahan diri dulu untuk tak buru-buru terima hasil riset itu 
sebelum ada penjelasan, baik di website yang Anda sertakan maupun 
dari Anda pribadi, bagaimana persisnya kaitan bau badan/keringat sama 
kepribadian. Hasil eksperimentasi ilmiah yang saya minta, Pak, bukan 
cuma pengumpulan data empirik. Gampang toh?
>    
>   Menyebut Nazi sebagai ekstrimis evolusi adalah menepuk air di 
dulang? Coba dijelaskan, Bung. Jangan asbun. Ini cuma asal cuap saja 
tapi minus argumentasi. orang-orang Nazi ini berpikir dengan kerangka 
sama seperti riset Anda itu. Fisik dipakai untuk menentukan sifat. 
Ini bukan Darwinian, ini Hitlerian!
>    
>   Lalau, kalau ada orang yang ngeyel mau membenarkan poligami pada 
manusia dengan terus-menerus pakai contoh singa dan monyet, apakah 
ini bukan "menyamakan"manusia dan hewan? Kok dibolak-balik malah saya 
yang dibilang menganggap manusia sebagai hewan? Anda ini lagi mabok 
atau kebanyakan minum obat?
>    
>   Soal moral sense dan biologisme yang Anda puter-puter nggak 
karuan di paragraf sebelum terakhir dari postingan Anda, sudah saya 
jelaskan di posting saya yang lain buat menanggapi Anda. Sebaiknya 
tak saya ulangi lagi di sini, supaya nggak kian melenceng dan melebar 
terusssss...
>    
>   Tapi, saya akan kasih satu contoh bagaimana hubungan moral sense 
dan kepunahan. Pernah dengar berita tentang wartawan foto yang 
karyanya dapat Pulitzer? Dia memotret anak Afrika yang sedang sekarat 
akibat kelaparan. Setelah itu, bukannya menolong si anak, dia 
ngeloyor pergi. Belakangan ketauan si anak akhirnya mati. Si wartawan 
dapat Pulitzer. Tapi apa yang terjadi? Dia lalu bunuh diri karena tak 
tahan dihantui rasa bersalah membiarkan anak itu mati. Kalo saat itu 
moral sense-nya difungsikan dengan baik, maka 1) anak itu kemungkinan 
bisa diselamatkan (jadi ada kaitan dengan kesintasan spesies 
manusia), dan 2) si wartawan sangat mungkin tak akan bunuh diri, 
karena ia tak dikejar-kejar rasa bersalah (jadi ada kaitannya dengan 
kesintasan individu). Jelas, nggak, Boss? Ada pertanyaan lain? Mau 
diutak-atik lagi lebih jauh sampai ketemu? Silaken, silaken...
>    
>   manneke
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Pertama soal riset bau badan. Sayang Anda tidak membaca link yang 
> saya berikan. Yang mereka lakukan adalah meneliti keperibadian 
> beberapa ratus responden berdasarkan daftar kepribadian dari si 
> Goldenberg tadi, lantas "menyimpan" bau keringat orang-orang yang 
> masuk kategori dominan di selembar kertas hisap dan meminta 
responden 
> perempuan menciumnya. Ini cuma salah satu metode double-blind saja. 
> Kalau daftar keperibadian yang di bawah dibuka ke respondennya 
tentu 
> saja penelitiannya menjadi tidak objektif. Apakah kepribadian 
dominan 
> dan komposisi kimia bau badan itu dibentuk oleh gen yang sama 
(begitu 
> kan penjelasan yang paling gampang?), itu topik penelitian yang 
lain 
> lagi. 
> 
> Kalau Anda tidak setuju dengan hasilnya, ya tidak apa-apa, Pak; 
> tinggal cari dimana yang salah dalam metodenya. Begitu kan ilmuwan 
> yang benar? Cuma janganlah bawa-bawa Nazi segala apalagi menyebut 
> orang sebagai binatang. Menepuk air di dulang namanya, Pak 
> 
> Yang kedua, saya tidak menafikan bahwa manusia itu punya akal dan 
> hasil kerja akalnya kemudian membentuk bangunan moral. Hanya moral 
> tadi belum tentu sebangun dengan kecenderungan fisik dan psikisnya. 
> 
> Tapi baca lagilah posting saya. Saya bersikukuh bicara soal evolusi 
> (yang oleh Anda diolok-olok sebagai "pendekatan kebinatangan") 
karena 
> moral itu sifatnya relatif terhadap waktu dan tempat. Kalau bahasa 
> Maduranya, moral itu sifatnya kontemporer, Pak. Tidak beda dengan 
> lagu Peterpan atau Samsons. Saya yakin, secara moral pandangan saya 
> dan Anda mengenai poligami dan kesetaraan gender tidak jauh 
berbeda. 
> Tapi kalaupun berbeda saya juga tidak berminat mendiskusikannya 
> karena nantinya sudah masuk wilayah politik gender. 
> 
> Apakah moral sense yang Anda sebut itu mencegah kepunahan? Bisa 
> diperdebatkan, Pak. Memberdayakan perempuan itu pilihan yang baik 
> secara moral, politik, dan ekonomi. Tapi secara biologis? Yang 
> terjadi sekarang kan dua-duanya (laki-laki dan perempuan) 
> mementingkan aktualisasi diri di atas tugas berkembang biak. Anda 
> sudah lihat prediksi jumlah penduduk Jepang dan Eropah seratus 
tahun 
> ke depan?
> 
> Soal reduktif, mungkin saya begitu. Tapi kalau Anda menolak 
> pendekatan biologis dan cuma mengemukakan pendekatan moral, ya 
> jadinya Anda menepuk air di dulang lagi.
> 
> Jadi yang saya bicarakan tetap sama: di bawah sadarnya wanita itu 
> memilih laki-laki yang dominan. Alasannya karena tuntunan 
evolusinya 
> begitu. Tapi akal kan tidak bilang begitu? Benar. Cuma nilai moral 
> monogami dan kesetaraan gender itu baru berusia ratusan tahun saja. 
> Cetakan berusia jutaan tahun tidak semudah itu dihapus nilai-nilai 
> moral baru lahir. 
> 
> Ngomong-ngomong saya juga mau dong dapat penjelasan bagaimana 
> pendekatan "moral sense" itu bisa sejalan dengan upaya gen Anda 
> melawan kepunahan? Saya utak-atik sendiri tidak ketemu.
> 
> Andi
>


Kirim email ke