1) Anda bilang, "tidak ada yang menuntut kalau asumsi dasarnya belum terbukti lantas risetnya tidak sah"? Waduh! Alamak! Ha ha ha, nggak heran kalo selama ini debatnya kacau-balau. Lha wong begini cara pikir Anda. Jadi, kalo ngikutin logika Anda, gosip boleh ya dipakai sebagai asumsi dasar penelitian, dan lalu tanpa mengritisi benar atau tidaknya gosip itu, sudah bikin riset dengan memakai gosip itu seolah-olah sebagai fakta. Anda dulu sekolah di SNP mana, kok sampai parah gini pemahamannya tentang berpikir ilmiah dan prosedur ilmiah? Harus dibedakan antara riset untuk menguji asumsi, dan riset yang asal pakai asumsi untuk membuat asumsi turunan yang lain.Kalo nggak ngerti bedanya, sebaiknya Anda ke laut aja. Malu-maluin bangsa. 2) Bukan saya yang bawa-bawa Freud, tapi Anda, dengan cara membawa-bawa istilah "bawah sadar" segala. Maunya sih keren, tapi jadi lucu. Sebelum Freud, Bung, tak dikenal istilah "bawah sadar." Jadi, coba ralat deh, yang bawa-bawa psikoanalisis itu situ. Saya cuma meluruskan pengertian Anda tentang psikoanalisis yang bengkok! Psikoanalisis memang TEORI. Yang bilang itu kitab suci siapa? Yang bilang kesimpulan Freud "sesat" (atau jempolan) siapa? Lagi-lagi, Anda sangat lihai menjejalkan isi pikiran Anda yang korslet ke mulut orang lain. 3) Hewan tak kawin dengan induk atau saudaranya sendiri? Anda hidup di planet mana, Bung? Nggak pernah liat anjing ya? Kasian... Lalu, cacat gen tidak disebabkan oleh perkawinan sumbang, Bung. Kalo gen-nya tidak defektif, biar kawin sumbang pun maka keturunannya tak akan cacat. Bahaya kawin sumbang adalah soal resus darah, bukan soal cacat gen. Gen Anda tak cacat, tapi istri Anda gennya cacat, biar istri Anda itu bukan saudara sekandung atau ibu Anda, tetap aja akan ada potensi turunan defektif. Namun, bahwa kawin sumbang lalu menjadi sesuatu yang dihindari alias tabu, ini bisa jadi berkaitan dengan evolusi moral sense. Dalam hal ini,psikoanalisis masih relevan, karena moral sense ini dalam domain otak diatur oleh superego. Ngerti? 4) No comment juga. Anda mulai debat kusir. 5) Eropa utara? Negara-negara denmark, Norwegia, Swedia yang diserbu dan diduduki Jerman waktu PD II itu emangnya di Eropa mana? Tanah Abang? Atau, jangan-jangan Anda nggak tahu negara-negara itu di peta terletak di mana? Di SMP Anda dulu nggak diajarin geografi ya? Oh, ya, ideolog Nazi nomer satu bukan Rosenberg, tapi Josef Goebel. Waduh, Anda betul-betul makhluk planet ya? Oh ya, di postingan Anda di bawah ini, nomor 5-nya muncul dua kali, Pak. Rupanya dari segi ngurutin angka aja Anda juga rada bodor. Kalo gitu, dukung saya jadi anggota DPR deh, biar nanti saya bisa bantu upgrade kemampuan Anda berpikir. Soal riset bau badan itu, Pak, mau muncul di jurnal mana juga saya nggak peduli. Yang bawa-bawa riset itu ke debat ini kan juga Anda toh? Anda ajukan di sini, saya komentari. That simple. Kalo saya sendiri sih males bawa-bawa riset nggak mutu gitu ke milis. Malu-maluin. Soal dia terbit di Royal Society Inggris, EGP. Saya juga tak berpretensi bahwa tulisan saya akan dimuat di situ. Yang parah itu Anda. Cuma bisa ngutip tapi ternyata nggak bisa kritis terhadap isinya. Akibatnya jadi membeo saja. Terus, waktu isi jurnalnya dikritik orang, yang ditonjol-tonjolkan institusinya. Norak! Mengenai dialog tentang Jeki yang Anda ciptakan itu (sayang kurang lucu): Kalo saya segobolok itu, berarti Anda lebih goblok lagi karena mau mengikuti permainan saya. Jadi menurut soal cerita dalam matematika, yang lebih goblok sebetulnya siapa? :)) 6) Kalo Anda penasaran betul jika Bruce Willis dan George Clooney digabung akan jadi apa, kenapa nggak Anda coba aja? Nanti kita lihat jadinya apa. Saya sih nggak pusing. Wong dua-duanya sama-sama cakep. Yang saya tahu, David Beckham itu ya dianggap sebagai cowok macho, tapi dia juga dijuluki cowok metroseksual. Apakah lalu Beckham hasil penggabungan antara Willis dan Clonney? Wah, biar Anda aja deh yang pusing soal itu. Kalo kata pacar/istri saya sih, monyet, singa, kecoa, tikus tak bisa digabung sama manusia. Tapi, kayanya menurut Anda bisa. He he he. Jangan-jangan abis gini ada tikus metroseksual, ya? Saya udah balik nih. Cepet, ya? Anda mau bilang apa lagi? manneke si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 1&2: Bos, kalau lupa pelajaran SMP saya ulangi lagi apa yang disebut metode ilmiah. Pertama Anda bikin pengamatan dan deskripsi masalah, termasuk asumsi-asumsi yang diambil. Setelah itu Anda bikin hipotesis. Lalu hipotesis itu diuji dengan percobaan. Data yang Anda peroleh dianalisis apakah mendukung atau menentang hipotesis tadi. Setelah itu Anda lanjutkan ke kesimpulan. Selesai.
Tidak ada yang menuntut kalau asumsi dasarnya belum terbukti lantas risetnya tidak sah. Yang ada tuntunan bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih jauh dalam bentuk (1) membuktikan keabsahan riset tadi dengan mengulang kembali menggunakan sampel yang berbeda dan (2) Meneliti mekanisme yang lebih mendasar (upstream) dan ini bisa saja dengan menguji kembali asumsi dasarnya. Mainan Freud yang Anda bawa-bawa ke sini itu namanya TEORI Psikonalisis. Teori, Pak. Semuanya dari data empiris, diteliti berulang-ulang, asumsinya dicek kembali, sampai sekarang pun masih bernama teori. Kalau semua mekanismenya sudah terbukti namanya HUKUM Psikoanalisis; sama seperti Hukum Newton atau Hukum Mendel. Anda mau bilang kesimpulan Freud itu sesat? Ya monggo. 3: Salah lagi. Hewan mengenali saudaranya sendiri dari baunya. Kecuali tidak ada yang lain, hewan tidak akan kawin dengan adiknya atau ibunya. Tahukah Anda konsekuensinya jika makhluk hidup tidak diberi rem alamiah untuk tidak berhubungan seks dengan saudara sendiri? Punah, Pak. Mati semua. Cacat-cacat mematikan yang tersimpan dalam gen resesif tidak akan muncul kalau Anda kawin dengan tetangga. Tapi begitu Anda kawin dengan adik sendiri, maka kemungkinan keturunan Anda kena cacat mematikan naik menjadi 25% sampai 50%. Ngerti enggak, Pak? Mekanisme melawan incest itu masalah hidup dan mati. Bukan ranahnya psikoanalisis. 4: No comment. Anda mulai berdebat kusir. 5: Saya bilang Eropa Utara, Pak. Baca lagi. Artinya Jerman dan Skandinavia. Buat Hitler orang Italia, Swiss dan Yunani itu manusia kelas dua. Atau gini, deh. Anda Google saja Alfred Rosenberg. Orang ini ideolog Nazi nomor satu. Habis itu silakan balik lagi untuk mengakui kengawuran Anda. Alasan mengapa Hitler menyerbu Eropa tidak semuanya bisa dicantelkan ke ideologi rasisnya. Nazi itu ideologinya tidak cuma masalah ras thok. Inggris, umpamanya, lebih dulu menyatakan perang kepada Jerman akibat perjanjian saling melindungi dengan Polandia. Polandia diserang karena sebelum PD I asalnya dia jajahan Kekaisaran Prussia. Austria dan Cekoslowakia ditekuk karena tidak mau bergabung membentuk Jerman Raya. Tidak bisa digeneralisir begitu. 5: Please, jangan dipolitisir begitu pakai bilang "makna perempuan di mata saya". Anda berdebat kusir lagi. Debat kusir di DPR sajalah. Pandangan saya, wanita itu tertarik kepada pria dominan. Alasannya sudah saya jelaskan. Penelitian yang mendukung sudah saya kutip. Saya tidak punya riset andalan seperti yang Anda coba belokkan itu. Penelitiannya macam-macam. Ada yang membuat double-blind dengan menggunakan uji kepribadian dan bau badan. Ada yang cuma meminta wanita memilih karakteristik wajah pria. Ini riset beneran, Pak. Bukan kuis di majalah Kosmopolitan yang suka Anda intip itu. Riset beneran keluar di jurnal. Sebelum keluar di jurnal harus melalui peer review. Ngerti peer review itu apa kan? Riset mengenai wajah pria itu keluarnya di Jurnal Royal Society. Jurnal ilmiah tertua di dunia. Kalau Anda tidak setuju bikin artikel tandingan saja di jurnalnya. Cuma saya tidak tahu tulisan Anda bakal dimuat atau tidak; wong metode ilmiah saja mesti diajarin lagi :) 6: Pak Manneke, Anda mempertanyakan integritas peneliti dan respondennya. Bukan kapasitas sayalah membela integritas orang lain yang saya kenal pun tidak. Jadinya teu puguh kalau kita nanti tergelincir ke debat ala anak kecil: Manneke: Alaaah si Jeki tuh tukang boong Andi: Eh enak aja lo, biar kata gue kaga kenal, si Jeki orangnya jujur tau! Manneke: Percaya deh, biarpun gue kaga kenal juga, si Jeki beneran kerjanya boong melulu Andi: Jujur! Manneke Boong! Andi: Jujur! dan seterusnya Sebenarnya kalau Anda kehabisan jalan untuk membantah saya kasih jalan yang lebih cerdas sedikit: Silakan Google kata-kata kunci diskusi kita ini, banyak kok artikel kelas jurnal yang membantah pandangan saya. 6: Ada bantahan ada ngeles, Pak. Anda sih masuk kategori ketiga: ngeles tapi salah. Macho dan metrosexual itu either or. Macho itu masih simbol maskulinitas. Metroseksual itu asalnya bikin-bikinan perusahaan parfum untuk mempromosikan gaya hidup pria dandan; tidak akan ketemu kalau digabung. Atau kalau masih tidak ngerti juga bedanya macho dan metroseksual, coba tanya pacar/istri Anda deh apa bedanya Bruce Willis dengan George Clooney. Lucu tidak mereka itu kalau digabung? Nanti balik lagi ke sini. Andi
