1&2: Bos, kalau lupa pelajaran SMP saya ulangi lagi apa yang disebut 
metode ilmiah. Pertama Anda bikin pengamatan dan deskripsi masalah, 
termasuk asumsi-asumsi yang diambil. Setelah itu Anda bikin 
hipotesis. Lalu hipotesis itu diuji dengan percobaan. Data yang Anda 
peroleh dianalisis apakah mendukung atau menentang hipotesis tadi. 
Setelah itu Anda lanjutkan ke kesimpulan. Selesai. 

Tidak ada yang menuntut kalau asumsi dasarnya belum terbukti lantas 
risetnya tidak sah. Yang ada tuntunan bagi peneliti selanjutnya untuk 
meneliti lebih jauh dalam bentuk (1) membuktikan keabsahan riset tadi 
dengan mengulang kembali menggunakan sampel yang berbeda dan (2) 
Meneliti mekanisme yang lebih mendasar (upstream) dan ini bisa saja 
dengan menguji kembali asumsi dasarnya.  

Mainan Freud yang Anda bawa-bawa ke sini itu namanya TEORI 
Psikonalisis. Teori, Pak. Semuanya dari data empiris, diteliti 
berulang-ulang, asumsinya dicek kembali, sampai sekarang pun masih 
bernama teori. Kalau semua mekanismenya sudah terbukti namanya HUKUM 
Psikoanalisis; sama seperti Hukum Newton atau Hukum Mendel. Anda mau 
bilang kesimpulan Freud itu sesat? Ya monggo.

3: Salah lagi.  Hewan mengenali saudaranya sendiri dari baunya. 
Kecuali tidak ada yang lain, hewan tidak akan kawin dengan adiknya 
atau ibunya.  Tahukah Anda konsekuensinya jika makhluk hidup tidak 
diberi rem alamiah untuk tidak berhubungan seks dengan saudara 
sendiri?  Punah, Pak. Mati semua. Cacat-cacat mematikan yang 
tersimpan dalam gen resesif tidak akan muncul kalau Anda kawin dengan 
tetangga. Tapi begitu Anda kawin dengan adik sendiri, maka 
kemungkinan keturunan Anda kena cacat mematikan naik menjadi 25% 
sampai 50%.  Ngerti enggak, Pak? Mekanisme melawan incest itu masalah 
hidup dan mati. Bukan ranahnya psikoanalisis.

4: No comment. Anda mulai berdebat kusir.

5: Saya bilang Eropa Utara, Pak. Baca lagi. Artinya Jerman dan 
Skandinavia. Buat Hitler orang Italia, Swiss dan Yunani itu manusia 
kelas dua. Atau gini, deh. Anda Google saja Alfred Rosenberg. Orang 
ini ideolog Nazi nomor satu. Habis itu silakan balik lagi untuk 
mengakui kengawuran Anda.

Alasan mengapa Hitler menyerbu Eropa tidak semuanya bisa dicantelkan 
ke ideologi rasisnya. Nazi itu ideologinya tidak cuma masalah ras 
thok.  Inggris, umpamanya, lebih dulu menyatakan perang kepada Jerman 
akibat perjanjian saling melindungi dengan Polandia. Polandia 
diserang karena sebelum PD I asalnya dia jajahan Kekaisaran Prussia. 
Austria dan Cekoslowakia ditekuk karena tidak mau bergabung membentuk 
Jerman Raya. Tidak bisa digeneralisir begitu.

5: Please, jangan dipolitisir begitu pakai bilang "makna perempuan di 
mata saya". Anda berdebat kusir lagi. Debat kusir di DPR sajalah. 

Pandangan saya, wanita itu tertarik kepada pria dominan. Alasannya 
sudah saya jelaskan. Penelitian yang mendukung sudah saya kutip. Saya 
tidak punya riset andalan seperti yang Anda coba belokkan itu. 
Penelitiannya macam-macam. Ada yang membuat double-blind dengan 
menggunakan uji kepribadian dan bau badan. Ada yang cuma meminta 
wanita memilih karakteristik wajah pria. Ini riset beneran, Pak. 
Bukan kuis di majalah Kosmopolitan yang suka Anda intip itu. Riset 
beneran keluar di jurnal. Sebelum keluar di jurnal harus melalui peer 
review. Ngerti peer review itu apa kan? Riset mengenai wajah pria itu 
keluarnya di Jurnal Royal Society. Jurnal ilmiah tertua di dunia. 
Kalau Anda tidak setuju bikin artikel tandingan saja di jurnalnya. 
Cuma saya tidak tahu tulisan Anda bakal dimuat atau tidak; wong 
metode ilmiah saja mesti diajarin lagi :) 

6: Pak Manneke, Anda mempertanyakan integritas peneliti dan 
respondennya. Bukan kapasitas sayalah membela integritas orang lain 
yang saya kenal pun tidak. Jadinya teu puguh kalau kita nanti 
tergelincir ke debat ala anak kecil:

Manneke: Alaaah si Jeki tuh tukang boong
Andi: Eh enak aja lo, biar kata gue kaga kenal, si Jeki orangnya 
jujur tau!
Manneke: Percaya deh, biarpun gue kaga kenal juga, si Jeki beneran 
kerjanya boong melulu
Andi: Jujur!
Manneke Boong!
Andi: Jujur!
dan seterusnya

Sebenarnya kalau Anda kehabisan jalan untuk membantah saya kasih 
jalan yang lebih cerdas sedikit: Silakan Google kata-kata kunci 
diskusi kita ini, banyak kok artikel kelas jurnal yang membantah 
pandangan saya.

6: Ada bantahan ada ngeles, Pak. Anda sih masuk kategori ketiga: 
ngeles tapi salah. Macho dan metrosexual itu either or. Macho itu 
masih simbol maskulinitas. Metroseksual itu asalnya bikin-bikinan 
perusahaan parfum untuk mempromosikan gaya hidup pria dandan; tidak 
akan ketemu kalau digabung. Atau kalau masih tidak ngerti juga 
bedanya macho dan metroseksual, coba tanya pacar/istri Anda deh apa 
bedanya Bruce Willis dengan George Clooney. Lucu tidak mereka itu 
kalau digabung? Nanti balik lagi ke sini.

Andi











--- In [email protected], Manneke Budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 1) tentang hubungan bau badan dan kepribadian:  ternyata belum ada 
pembuktian ilmiahnya toh? Lha kok sudah dipakai sebagai asumsi dasar 
untuk riset daya tarik bau badan pria dominan terhadap perempuan? 
Ngeliat nggak sekarang di mana letak ketidakberesan riset yang Anda 
andalkan itu? Langsung gugur kan apapun temuan dan simpulan riset 
itu, kalo landasannya saja udah ngaco. Nggak ngerti juga ya Anda? 
Waduh! Parah...
>    
>   2) tentang bukti empirik: Bukti empirik adalah data mentah. Data 
ini masih harus diteliti lagi dengan saksama berdasar hasil-hasil 
riset dasar yang sudah ditemukan terlebih dahulu dan diakui 
keabsahannya. Dalam kasus riset yang Anda contohkan itu, data mentah 
ini ditafsirkan dengan memakai asumsi yang keilmiahannya belum 
terbukti (nanti baru di abad ke-22, kata Anda), dan lalu dibuat 
simpulan. Apa nggak sesat? Lha riset kaya gini kok diunggul-unggulkan 
sebagai bukti bahwa perempuan lebih tertarik pada pria dominan? 
Jangan-jangan Anda ini mabok feromon (padahal feromon nggak ada 
baunya lho, hi hi hi...)
>    
>   3) Bung, tabu untuk berhubungan seks dengan ibu atau saudara 
perempuan sendiri itu bukan instink. Belajar dulu deh yang banyakan 
lagi. Justru dalam animal planet, hewan itu nggak liat betinanya itu 
ibunya atau saudara perempuan sendiri, yang penting pokoknya betina. 
Manusia itu instink bawah sadarnya juga gitu. Tabu untuk berhubungan 
seks dengan ibu atau saudara perempuan adalah produk imposisi budaya 
atas manusia karena dalam masyarakat-masyarakat pemeluk tabu ini, 
secara moral hal itu diharamkan. Kenapa demikian? Karena jika 
dibiarkan, ini mengancam kohesi kelompok. Ibu adalah milik ayah, dan 
ayah adalah penguasa kelompok. Membiarkan anak berhubungan seks 
dengan ibunya sendiri sama artinya membiarkan otoritas kekuasaan ayah 
atas kelompok (klan) digoyahkan.  Akibatnya, klan bisa terancam 
bubar. Supaya saya nggak dikira ngimpi, sila baca Sigmund Freud, 
Totem and Taboo.
>    
>   4) studi pada tikus: Kalo udah tahu saya tak sama degan tikus, 
ngapain pakai contoh hewan melulu untuk bicara soal manusia? Ya 
singalah, monyetlah, kecoaklah, tikuslah. jadi, pernyataan apa yang 
hendak Anda buat tentang manusia dengan terus-terusan menjelaskan 
manusia via hewan? Saya jadi curiga kok Anda begitu terobsesi sama 
hewan, jangan-jangan yang tikus adalah....?
>    
>   5) Rasisme Hitler didasari oleh lingkungan geografis? Ha ha ha ha 
ha. Ini pernyataan paling heboh abad ini. Hitler itu nggak ngomong 
soal orang Eropa, Bung. Dia bicara spesifik soal bangsa Jerman. Kalo 
igauan Anda itu benar, lalu ngapain dia repot-repot mau menyerbu 
Inggris, Rusia, Eropa Utara, dsb? Kan sesama bangsa Eropa? Bagi 
Hitler, bahkan di Eropa pun, bangsa Jermanlah yang terunggul, dan ini 
bukan karena lingkungan alam (lokasi dan iklim geografis Eropa) tapi 
karena genetik, yakni Ras Arya. Kalo ngawur mbok pake rem...jangan 
blong aja.
>    
>   5) tentang perempuan dikendalikan "bawah sadarnya" untuk tertarik 
pada laki-laki ganteng (yang kepribadiannya dominan, gitu kan kata 
riset yang Anda gunakan itu?). Kasian betul kaum perempuan. Jadi di 
mata Anda, inilah ternyata makna perempuan itu? Ingat Bung, riset 
yang Anda pakai saja, walau superngawur, nggak berani terlalu jauh 
bilang bahwa alam bawah sadar perempuanlah yang menyetir mereka untuk 
memilih bau badan pria berkepribadian dominan (jadi bukan karena 
gantengnya, ya? kok Anda bikin bingung sih?). Yang bilang gini kan 
Anda sendiri, asal bikin asumsi aja. Makin keliatan kan ngaconya?
>    
>   6) Soal kutipan dari riset: Gimana caranya mengepit cotton pads 
selama 24 jam dibawah ketiak? Kalo orangnya perokok, gimana caranya 
disuruh nahan nggak boleh ngerokok selama 24 jam? Alat kontrolnya 
apa? Siapa yang mengawasi bahwa itu semua dilakukan betul-betul 
(nggak makan asin-manis-asem, nggak ngerokok, nggak sabunan pas 
mandi, nggak pake Axe di ketiak, apalagi kalo tau bakal dibaui oleh 
cewek)? Naif banget kalo Anda mengira ini semua tak sarat masalah dan 
tak rentan manipulasi. Satu lagi, Bung. Perempuan macam apa yang mau 
disuruh cium bekas ketiak laki-laki yang nggak mandi 24 jam? Coba 
tanya miliser perempuan yang wars-waras di FPK ini ada nggak yang mau 
disuruh gitu? Maka, kredibilitas responden sangat-sangat diragukan 
dalam riset pujaan Anda itu. Saya bahkan berani bilang bahwa ini 
riset murahan yang menipu, dan ujungnya cuma untuk keperluan jualan 
deodoran pria yang konon "beraroma khas laki-laki jantan" untuk 
membuat perempuan keliyengan model kilan Axe itu. Ini
>  bukan riset ilmiah, ini riset pesanan.
>    
>   6) soal cowok "macho metroseksual": Makanya, saya tak 
bilang "macho DAN metroseksual." Baca lagi deh pake mikroskop biar 
nggak pake ilmu kelirumologi melulu. Saya katakan "macho 
metroseksual", yang merujuk pada laki-laki yang macho, tapi juga 
metroseksual (artinya, ada yang metroseksual tapi tak macho). Sadar, 
Bung, sadar...
>    
>   manneke
> 


Kirim email ke