Melawan telivisi? Buat apa? karena acara yang ditayangkan tidak bermutu? bahkan diulang-ulang? Hahahaha...
Pernahkah kita semua berfikir bahwa program TV itu dibuat dan ditayangkan (bahkan di re-run) atas permintaan pemirsa? Pernah saya menebak bahwa para pekerja di TV station pun bosan dan ingin membuat acara yang lebih variatif dan bermutu, tapi apa daya.. masyarakat yang punya kendali untuk itu semua. Lewat sampling.. lantas ke rating. Coba deh sekali-kali, malam hari (primetime) kita masuk ke warung nasi, atau rumah-rumah petak, ngintip deh apa yang sedang ditontonnya.. YES sinetron!! Hebatnya lagi seluruh anggota keluarga bersama tetangga dan kerabat nonton sama-sama. Lebih dahsyatnya lagi.. mereka mendiskusikannya!! hahahahaha... Jika kita hanya menilai lewat para anggota milis ini, ya tentu saja berbeda cara pandangnya. Saya yakin dari seluruh anggota milis ini cuma secuil persen aja yang rajin nonton sinetron atau acara-acara gak bermutu lainnya. Ada yang mau angkat tangan?? Hehehehe... Ide Mas Aristides, saya rasa sangat baik dan produktif sekali. Sayang mas.. saya yakin ide itu gak akan meresap di hati masyarakat (dominan) pemirsa TV saat ini. Bagi mereka.. TV adalah HIBURAN GRATIS yang bisa menemani setiap saat. Coba kita ingat-ingat lagi masa kejayaan radio saat station TV hanya ada TVRI. Semua anak muda Jakarta kenal Si Boy, dan semua warga Jakarta kenal dan merinding ketika mendengar nama Mak Lampir. Ya itu masanya. Melawan TV bukan dengan cara mengalihkan ke media lain. Mungkin harus dengan cara terlibat dalam program TV itu sendiri. Mulailah membuat program TV tandingan yang mempunya cita rasa lebih baik. Cepat atau lambat penonton akan bisa memilah mana acara yang enak dan yang eneg. Sejauh ini saya ANTI dengan hampir 90% tayangan TV lokal (maaf..). Bukan apa-apa, setiap saya coba nonton yang muncul : 1. Orang marah-marah 2. Orang nangis dan menderita 3. Orang gunjing 4. Orang menghasut dan saling ejek 5. Darah, tulang patah, mayat bayi, orang dipukulin 6. Dan tayangan orang-orang hebat dan berkomentar ttg negara Capek deeeh... Sisanya saya cuma nonton : MTV Lokal Abies, Empat Mata, Just For Laugh (TPI).. sisanya TV kabel. Salam Hormat Motulz (bukan pekerja TV station) ari aristides <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Untuk Mas Wahyudi dan mungkin juga teman2 lain yang bosan menonton tayangan2 ulang, Menurut saya untuk melawan televisi yang hanya menganggap penonton sebagai "pembantu rumah tangga" (meskipun pembantu rumah tangga juga punya hak2 yang sama!), caranya mudah bahkan sangat mudah... JANGAN TONTON TELEVISI MATIKAN TELEVISI!!! Kalo ada uang lebih beli dvd film sesuai selera tapi jangan bajakan! Kalo uangnya gak cukup, beli buku aja, Kalo gak ada uang, ya pinjam buku di perpustakaan HE HE HE MUDAH KAN MELAWAN TELEVISI Salam Aristides wahyudibaca wrote: Hampir semua acara telivisi menayangkan film-film yang sudah diputar/diulang-ulang lagi. Pemirsa televisi dianggap sebagai pembantu rumah tangga hanya diam saja. Stasion televisi dengan menayangkan ulang film-film yang dianggap laris dan tidak menayangkan film-film baru, sangat menguntungkan stasion televisi dengan kontrak batas waktu siar digunakan untuk menayangkan berulang-ulang dan dapat pemasukan dari iklan-iklan. Penonton tidak dihargai dan dihormati sebagai pemirsa telivisi dan peminat/pecinta film. Daripada acara film-film yang diulang-ulang hanya membosankan penonton lebih baik diisi iklan-iklan saja. Dan pencinta film sementara ini dialihkan untuk membaca buku saja. Atau stasion televisi sudah tidak kuat lagi untuk membeli film baru. salam wahyudi
