1) Yang penting bukan pelan atau cepat, Bung. Yang penting logis dan tak muter-muter. 2) soal moral sense: makin terlihat betapa tak nyampainya kapasitas berpikir Anda dalam memahami perdebatan soal moral ini. Dan juga makin nyata bahwa Anda berpegang pada Darwinian ortodoks yang sudah ketinggalan zaman. Tentu saja, tindakan atau nilai seorang individu berhenti dengan matinya orang tersebut. Emang, yang mempersoalkan hal ini siapa sih? rajin amat sih Anda buka arena baru untuk mengalihkan perdebatan? He he he. Yang bilang bahwa anak jadi tukang tepu karena gen bapaknya itu siapa? Kali ini Anda betul-betul bodor asli! Nggak mudeng juga ya puluhan kali dikatakan bahwa gen cuma pembawa potensi, dan potensi yang dibawa pun adalah hasil proses evolusi panjang, bukan cuma satu dua keturunan? Kok ngeyel terus menuduh seolah saya bilang gen Bapak diturunkan ke anak? Saya belum separah Anda kok korsleting logikanya. 3) Saya kasih tau lagi yang supaya Anda jadi rada pinter dikit: Saya tak bicara soal evolusi NILAI moral. Saya bicara soal moral SENSE, yaitu kemampuan/potens manusia yang dihasilkan oleh evolusi untuk mengenal moral (bedanya dengan hewan). Bukan soal apa kata budaya A tentang perilaku B. Lha kok Anda ini maksa saya untuk mengakui suatu kebodohan yang Anda buat sendiri? Sori ya, tak sudi. Rupanya Anda sudah menthok cuma sampai sini ya, udah nggak bisa maju lagi mikirnya? 4) "Alam" itu opo bukan "lingkungan", Boss? Yang namanya lingkungan itu ya mencakupi lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Makanya jangan suka berbelit-belit dan menjejal-jejalkan fantasi yang ada di otak Anda ke dalam mulut saya. Yang mikir dengan cara aneh-aneh situ, tapi lalu saya yang dibilang sebagai pembuat pernyataan. Nggak malu ya ama miliser FPK lainnya? 5) Sekarang, saya kutipkan langsung paragraf buatan Anda, yang jelas-jelas memperlihatkan betapa tak koherennya jalan pikiran Anda, dan betapa muter-muternya debat kusir Anda ini. Ini paragraf Anda (letaknya persis di atas point 3 Anda di bawah ini): "Saya baru terima kalo Anda bilang nilai moral itu sebagai hasil evolusi (biologis) kalo premis Anda adalah: manusia jujur punah, sehingga hanya manusia yang dari sononya tukang tipu yang berketurunan. Ngerti tidak Anda sekarang bedanya evolusi secara biologis dan evolusi secara budaya? Hasil interaksi dengan lingkungan itu TIDAK DITURUNKAN. Maka saya bawa-bawa Lamarck karena Anda sepertinya percaya bahwa pengaruh lingkungan terhadap individu itu hereditary alias bisa diturunkan ke anak cucu. Pandangan seperti itu yang ketinggalan 200 tahun." Ini semua hasil impian dan bualan Anda sendiri yang Anda coba jejalkan ke mulut saya. Yang diturunkan itu GEN. Susah banget sih ngertinya? Dan gen itu CUMA pembawa potensi. Apakah potensi itu terwujud atau enggak, itu tergantung interaksi dengan lingkungan. Jadi, bukan interaksi dengan lingkungannya yang diturunkan. Jangan kebanyakan ngeboat ah! Sakau kok nggak abis-abis. jadi, koreksi, Bung Ngelindur: Saya tak pernah bilang bahwa pengaruh lingkungan terhadap individu bisa diturunkan ke anak cucu. Ini fiksi ciptaan Anda. Saya jangan dibawa-bawa. 6) Oh, jadi menurut kita suci Anda, kalau manusia tidak ikut ajaran moral kitab suci itu, maka dia diturunkan lagi ke bumi jadi kodok bangkong, ya? Pantes contohnya selalu pakai hewan padahal subjek pembicaraan adalah manusia. Ngomong-ngomong, kitab suci apaan sih itu kok antik betul? Baru dengar sekarang saya. He he he. Bikin agama baru ya, Mas? Saya juga gak peduli omongan Sartre, Bung. So what gitu lho kalo Sartre yang ngomong? Tapi, demi menuruti kengawuran Anda sedikit, coba jelaskan relevansi pernyataan Sartre ini apa sih? Atau paling enggak, artinya dalam bahasa Indonesia apa sih? Soalnya, saya sudah kenal banget dengan pola Anda yang hobi kutip tapi ternyata nggak ngerti arti kutipan itu. Jangan-jangan, asal nemu di Google aja lalu di copy paste. Buat keren-kerenan, maksudnya. 7) Prozac-nya udah saya minum, Pak. Ada yang lebih keras lagi, enggak? Kan Anda dealer-nya. Ada enggak yang bisa bkin teler total seperti Anda hingga pikiran lumpuh? Mungkin saya mesti minum yang jenis itu bar bisa ngikutin lanturan Anda yang tak berujung pangkal ini. 8) Contoh saya tak salah, Pak. Itu sekadar contoh konsekuensi langsung dari pernyataan Anda bahwa jika seorang bermoral dipindahkan ke tempat lain, maka moralnya langsung bubar. Jadi, kalo contoh itu dinilai salah. Berarti sumber kesalahan terletak pada premis dasar yang dibuat oleh Anda. Ngeliat kan sekarang? He he he. Ayo, ngeboat lagi yang banyak, biar makin seru. manneke
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 2) Saya jelaskan lebih pelaaaan lagi: Tindakan atau nilai yang dihasilkan oleh interaksi individu dengan lingkungannya, yang Anda sebut moral sense itu berhenti ketika individunya mati. Artinya begini, kalau individunya biasa menghalalkan menipu, bukan berarti nanti anaknya penipu juga. Hanya kalau nanti ternyata tetangga-tetangganya juga tukang tepu maka si anak ini akan menjadi penipu akibat pengaruh budaya sekitarnya. Sama sekali bukan karena gen bapaknya. Kalau lantas satu kampung itu turun temurun jadi penipu hingga ratusan tahun kemudian menipu itu dianggap halal, itulah evolusi nilai moral di kampung tersebut. Tidak bisa disalahkan ke gen-nya. Evolusi berdasarkan seleksi alam tidak berlangsung akibat penyesuaian diri dengan lingkungan seperti itu, Pak. Evolusi (biologis) selalu berdasarkan PUNAHNYA individu yang tidak mampu bersaing, dus tidak mampu meneruskan keturunannya. Saya baru terima kalau Anda bilang nilai moral itu sebagai hasil evolusi (biologis) kalau premis Anda adalah: manusia jujur punah, sehingga hanya manusia yang dari sononya tukang tipu yang berketurunan. Ngerti tidak Anda sekarang bedanya evolusi secara biologis dan evolusi secara budaya? Hasil interaksi dengan lingkungan itu TIDAK DITURUNKAN. Makanya saya bawa-bawa Lamarck karena Anda sepertinya percaya bahwa pengaruh lingkungan terhadap individu itu hereditary alias bisa diturunkan ke anak cucu. Pandangan seperti itu yang ketinggalan 200 tahun. 3) Saya tidak menyinggung agama tertentu. Saya bilang, orang-orang yang berpijak pada agama (dan ini jumlahnya buaaanyak) akan bilang tidak ada yang namanya relativitas moral. Kalau Anda tidak ikut ajaran moral menurut kitab suci saya, either Anda masuk neraka atau Anda turun lagi ke bumi sebagai kodok bangkong. Dus membantah kalimat Anda bahwa "semua orang tau" moral itu sifatnya relatif. 4) Yang ngomong begitu namanya Jean Paul Sartre, Pak. Katanya: a personal and subjective moral core lies or ought to lie at the foundation of individuals' moral acts. In this view public morality reflects social convention, and only personal, subjective morality expresses true authenticity. Saya TIDAK MENILAI LAKI-LAKI LEBIH SUPERIOR DARI PEREMPUAN. Tuh, saya bikin besar-besar. Dominan tidak sama dengan superior, Pak. Dari kemaren saya ulang-ulang tidak nyangkut juga. Pak Manneke merasa bos Anda yang tukang gebrak meja itu lebih tinggi derajatnya? Tidak kan? Cuma lebih galak saja. Saya cuma bilang, dalam memilih pasangan perempuan memilih laki-laki yang dominan. Anda saja yang ngasih muatan politik ke dalamnya. Lain kali Prozac-nya diminum sesuai anjuran, Pak :) Btw, contoh Anda juga salah. Di Inggris mencopet juga sama dilarangnya dengan di Indonesia. Andi
