Pak Andi, sekali lagi (untuk sekian ratus kalinya), saya tak mempersoalkan
"moral"-nya per se. Saya bicara soal "moral sense". Moral sense adalah potensi
genetik yang memungkinkan manusia mengembangkan nilai-nilai moral. Bahwa moral
itu sendiri adalah sistem penentu apa yang baik dan apa yang buruk, ya memang
gitu. Lha yang mempersoalkan itu siapa?
Sekarang kita urut juga pemikiran Anda yang amburadul dan muter-muter itu:
1) Referensi soal asal mula dan cara kerja moral sense: silakan baca Steven
Pinker, The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature (Penguin, 2002).
Waktu lahir, manusia secara genetik membawa potensi untuk memiliki moral sense.
Jika potensi ini diaktifkan, maka manusia akan mampu mengenal apa yang baik dan
buruk. Apa itu yang baik, dan apa itu yang buruk, bisa bervariasi dari satu
sistem budaya ke yang lain. Udah tak lagi ada urusannya sama gen. Udah jelas?
Jangan diputer-puter lagi.
2) Nomer dua ini, Anda betul. Pinter. Nah, ini saya seneng.
3) Nomer tiga, logika Anda betul. Yang salah adalah tuduhan Anda untuk saya,
yakni bahwa saya bilang baik dan buruk itu absolut sifatnya. Yang absolut itu
adalah potensi genetik pada diri manusia untuk memiliki moral sense, bukan
nilai baik buruk untuk suatu perilaku tertentu (mencuri, amal, zinah, jujur,
dll). So, siapa pula yang selama ini berkelit?
4) Argumen Anda keliru. Evolusi dalama artian genetik tak membedakan kelamin.
Baik laki-laki maupun perempuan, gen-nya punya tujuan sama: sintas. Laki-laki
menjadi dominan karena budaya, yaitu yang suka disebut dengan patriarki, jadi
bukan dari sono-sononya. Lagian, apa betul perempuan di Oslo sana doyan
laki-laki yang lebih dominan? Saya tak percaya. Kalo di Solo, masih ada
kemungkinan, karena budaya Jawa tradisional memang rada patriarkis. Jadi,
menurut saya, kasus bahwa laki-laki adalah dominan ini tidaklah berlaku
universal.
5) Pemahaman Anda (yang Anda garis bawahi itu) tentang argumen saya keliru
besaaaar. Saya tak pernah sekalipun berargumen bahwa "karena interaksi dengan
lingkungannya (yang mempropagandakan hidup monogamis) si 'moral sense' ini
menekan kecenderungan untuk mencari pria dominan sebagai partner." Argumen saya
adalah: Potensi manusia untuk memiliki moral sense ini diaktifkan oleh
lingkungan, dalam artian, ada tantangan berupa problem yang harus dipecahkan
manusia. Jadi, moral sense diaktifkan sebagai bagian dari mekanisme
problem-solving. Jika ia egois dan tak bertenggang-rasa dengan orang lain,
kemungkinannya untuk sintas lebih kecil dibanding jika ia mau berbaik hati dan
lalu bekerja sama dengan orang lain itu dalam mengatasi problem yang ada di
depan mata. Maka saat itu, ia pun belajar bahwa ternyata membantu orang lain
juga berdampak positif bagi diri sendiri. Ini contoh aktivasi moral sense oleh
(tantangan) lingkungan.
6) Kemauan perempuan mencari partner setara bukan "konstruksi sosial." Yang
merupakan konstruksi sosial adalah patriarki, yang mau mensubordinasi perempuan
di bawah laki-laki. Bahwa pada akhirnya perempuan melawan, dan patriarki kini
mengalami krisis serius akibat perlawanan itu, adalah bukti bahwa kehendak
menjadi setara adalah suatu dorongan naluriah yang tak dapat diredam. Jadi,
dalam perspektif evolusi, perempuan tidak secara genetik berbeda dari
laki-laki. Maka, hirarki tinggi-rendah pun tak ada. Budayalah yang lalu membuat
hirarki tersebut.
Dalam hal inilah Anda dan saya berseberangan. Makanya mbulet! Makanya jangan
keseringan sakau dan kebanyakan nenggak ineks.
manneke
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Manneke, moral itu apa sih? Sederhananya moral itu adalah sistem
untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Sekarang coba saya urut lagi cara berpikir Anda yang kemana-mana itu:
1. Okelah menurut Anda (menurut Anda nih, karena statement Anda tidak
ada referensinya) manusia itu dikarunai yang namanya "moral sense".
Artinya menurut Anda dari lahir dia "diberi potensi" bisa mengenali
mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan diplesetin lagi.
2. Terus argumen Anda lagi, nilai moral macam apa yang dipegang
manusia tergantung interaksi dengan lingkungannya. Yang diturunkan
kan cuma potensi toh?
3. Karena itu "semua orang tau" dong nilai-nilai moral itu relatif
sifatnya. Yang baik di San Diego belum tentu baik di Santiago.
Kecuali kalau Anda mau berkelit lagi bilang baik dan buruk itu
absolut sifatnya.
4. Argumen saya bahwa perempuan itu dari sononya (tidak peduli dia di
Oslo atau di Solo) suka laki-laki yang dominan. Dasar saya adalah
evolusi.
5. Pemahaman saya (dan ini saya garis bawahi) Anda berargumen bahwa
karena interaksi dengan lingkungannya (yang mempropagandakan hidup
monogamis) si "moral sense" ini menekan kecenderungan untuk mencari
pria dominan sebagai partner.
6. Jadi pada dasarnya Anda cuma mau bilang kalau kemauan perempuan
mencari partner "setara" itu cuma konstruksi sosial? Ya monggo, Pak.
Dengan demikian Anda tidak jadi berseberangan dengan saya toh?
Gitu kok saya yang dituduh mbulet. Anda sih Prozac disangka Rujac,
jadi main sendok saja...
Andi