Kutipan contoh yang ditampilkan sih sebagian besar memang pernah 
dimuat di media massa. Cerita soal susahnya menelusuri Vivian itu 
saya pernah baca di Kompas. Foto bohong-bohongan di internet itu saya 
pernah lihat. Kejadian sindikat green card di AS itu memang ada dan 
sudah dimuat besar-besaran di Gatra. Artinya isi tulisan di bawah 
tidak mengada-ada. 

Cuma bahasanya memang bombastis. Kalau saya tidak pernah "kenal" 
dengan contoh-contoh yang dikemukakan, saya juga akan langsung bilang 
ini propaganda (yang katanya untuk melawan propaganda hehe). Gaya 
tulisannya itu, lho; ditambah lagi menulisnya pakai nama samaran. 
Alih-alih meyakinkan orang, malah membuat orang bertambah ragu.

Andi

--- In [email protected], "Wahyu" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Saya masih ragu kalau tulisan ini bukan propaganda seperti yang 
diungkapkan penulis. 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: guntoro soewarno 
>   To:  [email protected] 
>   Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kebohongan Perkosaan Masal Mei 
1998 Terungkap
> 
> 
>   Isu pemerkosaan massal atas perempuan Cina dalam Kerusuhan Mei 
1998 senantiasa dihembus-hembuskan. Tidak lebih dari berita bohong. 
> 
>   Hasil penyidikan FBI akhirnya membongkar kebohongan itu.
> 
>   "Jika sebuah kebohongan terus-menerus diceritakan hingga 
terdengar luas di masyarakat, maka lama-kelamaan masyarakat akan 
meyakini kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran." 
>   kata Menteri Propaganda Nazi Jerman, Dr Josef Goebels, enam 
dasawarsa yang lalu.
> 
>   Meski sudah kuno, namun prinsip propaganda yang diterapkan Nazi 
untuk melibas bangsa Yahudi di Eropa menjelang Perang Dunia II itu 
masih terus dipakai dan dilestarikan hingga kini.
> 
>   Strategi propaganda ala Goebels ini pun tetap laris di Indonesia 
dan masih cukup efektif sebagai alat pemukul lawan politik dan ide 
yang berseberangan. Tengoklah berbagai propaganda hitam yang 
dikembangkan dengan cara itu. Misalnya, pembangunan opini bahwa Islam 
sudah tidak cocok untuk zaman modern ini, pembentukan opini bahwa 
poligami identik dengan kekerasan, pengelabuan bahwa pluralisme 
adalah kebaikan yang harus diterima dan sebagainya.
> 
>   Tapi, propaganda kebohongan paling dahsyat di Republik ini adalah 
isu tentang pemerkosaan massal atas para perempuan etnis Cina pada 
saat kerusuhan Mei 1998. Dengan sistematis mereka meniupkan isu 
tentang isu perkosaan itu, dengan berbagai cerita di berbagai media, 
dengan berbagai cara dan sarana, baik di dalam dan luar 
negeri.Padahal, dengan jelas isu itu sebenarnya dipakai untuk 
mendeskreditkan Islam dan simbol-simbol Islam.
> 
>   Kisah Vivian dan Foto-Foto Perkosaan
> 
>   Internet menjadi sarana paling hebat untuk menyebarluaskan kisah 
perkosaan massal itu. Yang paling kontroversial adalah kisah yang 
konon dialami oleh seorang gadis keturunan Cina bernama 'Vivian. 
Kisah itu muncul kira-kira pada pertengahan Juni 1998. Konon Vivian 
tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 sebuah apartemen di kawasan 
Kapuk, Jakarta Utara ketika diserbu orang-orang tak dikenal saat 
kerusuhan Mei. Mereka lalu memperkosa Vivian, saudara, tante dan 
tetangga-tetangganya.
> 
>   Kisah Vivian sangat deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga 
mampu membangkitkan emosi. Majalah Jakarta-Jakarta sempat mengutip 
cerita perkosaan yang sangat vulgar itu mentah-mentah dalam sebuah 
edisinya. Dalam cerita itu, dengan sangat kurang ajar, ia 
menceritakan bahwa orang-orang yang bertampang seram itu memperkosa 
mereka dengan berteriak "Allahu Akbar" sebelum melakukan perbuatan 
itu. Caci maki pun berhamburan kepada ummat Islam dan para Ulama.
> 
>   Hampir bersamaan dengan munculnya kisah Vivian, muncul pula foto-
foto yang konon berisi gambar para korban kerusuhan Mei di jaringan 
internet. Beberapa website memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan 
mencekam. Siapapun pasti tersulut amarahnya bila melihat foto-foto 
yang disebut-sebut sebagai foto kerusuhan Mei 1998 dan korban-korban 
perkosaan massal itu.
> 
>   Pemajangan foto-foto di media internet itu telah mengundang emosi 
luar biasa bagi etnis Cina di seluruh dunia. Mereka menganggap 
kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah operasi yang sengaja ditujukan untuk 
mengenyahkan orang Cina, dan menyetarakan kasus perkosaan massal atas 
perempuan-perempuan itu dengan kasuk The Rape of Nanking, saat 
pendudukan Jepang ke Cina tahun 1937.
> 
>   Upaya Menelisik Fakta
> 
>   Para wartawan yang kredibel mengakui bahwa pada saat peristiwa 
Mei 1998, peristiwa perkosaan memang terjadi. Seorang wartawan FORUM 
mendapat pengakuan dari seorang anggota Satgas PDI Perjuangan bernama 
M, bahwa dia dan teman-temannyalah yang menyerbu dan membakar 
pertokoan di Pasar Minggu. Ia juga mengaku melecehkan perempuan, 
bahkan beberapa kawannya memperkosa mereka. Tapi menurut dia, korban 
tidak hanya dari kalangan Cina. "Siapa aja, ada Amoy, ada Melayu, ada 
Arab," kata anggota Satgas PDIP itu.
> 
>   Para wartawan pun terus mencoba mengejar dan mewawancarai korban 
dengan semua petunjuk tentang para korban, tapi hasilnya nihil. Konon 
semua sudah pergi ke luar negeri dan tidak terlacak lagi. Hanya anak 
ekonom Christianto Wibisono yang terkonfirmasi sebagai korban 
perkosaan Mei 1998. Majalah Tempo, dalam edisi pertama setelah terbit 
lagi juga tak mampu menemukan korban, apalagi sampai berjumlah 
ratusan.
> 
>   Beberapa wartawan yang melacak lokasi yang di duga menjadi tempat 
tinggal Vivian dan keluarganya, juga tak menemukan apa-apa. Warga di 
sekitar apartemen menjawab tidak ada dan tidak pernah terdengar 
adanya Amoy yang diperkosa saat kerusuhan Mei 1998. Seorang anak 
nelayan yang pada dua hari jahanam itu menjarah apartemen tempat 
Vivian tinggal mengaku, jangankan memperkosa, ketemu penghuni juga 
tidak. Sebab, mereka sudah kabur ke luar negeri.
> 
>   Soal jumlah korban perkosaan pun menjadi ajang perdebatan seru. 
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Kerusuhan Mei 1998 pecah gara-
gara bab yang membahas hal ini. Sebagian anggota ingin memasukkan 
semua laporan tentang adanya perkosaan, sementara yang lain meminta 
semua di klarifikasi dulu. "Terkesan ada yang ingin memanfaatkan isu 
ini untuk kepentingan tertentu." kata anggota TGPF Roosita Noer.
> 
>   Tengoklah data yang mereka kumpulkan. Dari 187 nama menurut 
daftar yang dibawa anggota TGPF Saparinah Sadli dan 168 dalam daftar 
Pastor Jesuit Sandyawan Sumardi, ternyata hanya 4 orang yang berhasil 
diklarifikasi, yang lain baru qaala wa qiila, alias kata orang. 
Sementara, 2 (dua) orang korban yang di datangkan anggota TGPF 
Nursyahbani Katjasungkana ternyata orang gila beneran yang di duga 
sudah lama. Lucunya, ketika data ini diminta, Ketua TGPF Marzuki 
Darusman tidak mau membagi data itu kepada anggota yang lain.
> 
>   Dari sisi ilmu statistik, data soal perkosaan massal pun aneh. 
Misalnya laporan tentang adanay perkosaan jauh lebih besar dari pada 
laporan tentang pelecehan seksual, di raba-raba dan sebagainya. 
Padahal, seharusnya menurut statistik, berdasarkan kurva sebaran, 
pola acak akan selalu membentuk kurva seimbang. Jumlah laporan orang 
yang diraba-raba saja seharusnya lebih banyak dari pada yang 
dilaporkan mengalami pelecehan, apalagi yang sampai diperkosa, dengan 
tingkatan paling berat.
> 
>   Kebenaran kisah Vivian sempat juga dipertanyakan kalangan 
keturunan Cina sendiri. Mungkinkah si terperkosa, dalam waktu singkat 
menceritakan hal ini, sehingga cerita ini muncul di internet pada 13 
Juni 1998--- dan bisa mengendalikan emosi, sehingga bisa menuliskan 
kisah kesadisan yang dialaminya secara detail? Bukankah hal ini 
bertentangan dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa teramat sangat 
tertutup dalam hal perkosaan.?
> 
>   Setelah menerima banyak pertanyaan soal orisinilitas cerita 
Vivian, pengelola situs Web World Huaren Federation (WHF), Dean Tse, 
dalam pesannya tanggal 18 Agustus 1998, minta agar pengirim cerita 
bisa memberi keterangan lebih lanjut. Namun hingga kini, permintaan 
Dean Tse belum ada jawaban. Dean Tse pun tidak bisa melacak alamat si 
pengirim cerita tersebut di jaringan internet.
> 
>   Belakangan Soekarno Chenata, pengelola situs Web Indo Chaos, juga 
mengakui foto-foto yang bergentangan di situsnya, sama sekali tidak 
otentik. Kepada detik.com, Soekarno mengaku pernah menerima foto 
sadis yang sempat di pajang di Indo Chaos. Namun ia segera mencabut 
foto itu dari situsnya karena ternyata foto itu adalah hasil montase 
dan diambil dari situs porno yang memang brutal.
> 
>   Terbongkar Habis
> 
>   Upaya pembuktian telah dilakukan, namun upaya pengaburan dan 
disinformasi terus dilakukan. Misalnya, ketika fakta bahwa Vivian 
tidak pernah ada, para agitator itu berdalih, Vivian adalah nama dan 
alamat yang dipakai dan hanyalah nama samaran. Ketika para wartawan 
tidak menemukan korban, mereka berkilah soal keselamatan korban. 
Hingga akhirnya kebohongan itu terbongkar, justru dari AMERIKA 
SERIKAT, tempat di mana para pembohong itu mengobral cerita untuk 
menyudutkan kaum Muslimin di Indonesia.
> 
>   Semula, pemerintah Amerika Serikat dengan mudah memberikan suaka 
kepada imigran asal Indonesia yang mengaku dianiaya dan dirudung 
kekerasan seksual di negerinya dengan alasan etnik dan agama. Tapi 
gara-gara kesamaan pola cerita, kedekatan waktu pengajuan, kesamaan 
alamat dan asal pengaju, dan kesamaan kantor pengajuan, mereka mulai 
curiga.
> 
>   Setelah menyelidiki selama dua tahun, pada Senin, 22 November 
2004 satuan tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar 
operasi bersandi Operation Jakarta. Operasi penangkapan 26 anggota 
sindikat pemalsu dokumen suaka ini dilakukan serentak di lebih dari 
10 negara bagian di Amerika Serikat. "Pemimpin sindikat ini adalah 
Hans Guow, WNI yang dikabulkan permohonan suakanya pada 1999," kata 
Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty yang menangani kasus 
ini.
> 
>   Para tersangka dikenai tuduhan sama, yakni memalsukan dokumen 
suaka serta berkonspirasi dalam pemalsuan berbagai dokumen. Awalnya 
mereka hanya membantu menyediakan dokumen asli tapi palsu. Tapi 
setelah berhasil mengibuli pihak berwenang dengan memalsukan izin 
kerja dan nomor jaminan sosial, mereka mulai menyiapkan aplikasi 
suaka palsu.
> 
>   Mereka juga menyiapkan skenario pengakuan bo'ong-bo'ongan seperti 
diperkosa atau dianiaya dalam kerusuhan Mei 1998. "Cerita tentang 
penyiksaan itu sangat seragam karena para pelamar menghafalkan kata 
demi kata secara persis seperti yang diajarkan," kata Jaksa McNulty. 
Mereka pun mengajari kliennya untuk menangis dan memohon dengan 
emosional untuk mengundang simpati petugas.
> 
>   Lucunya, mereka menceritakan kisah yang sama. Cerita diperkosa 
supir taksi misalnya meluncur dari mulut 14 perempuan yang mengajukan 
permohonan suaka sejak 31 Oktober 2000 hingga 6 Januari 2002. "Mereka 
mengaku diperkosa karena keturunan Cina," kata Dean McDonald, agen 
spesial dari Biro Imigrasi dan Bea Cukai Kepabeanan Departemen 
Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di negara bagian Virginia.
> 
>   Belakangan, Voice of Amerika juga membuat liputan investigatif 
tentang isu perkosaan massal itu. Mereka keluar masuk berbagai lokasi 
yang dicurigai sebagai TKP perkosaan massal, dan mencoba mewawancarai 
berbagai pihak. Tapi hasilnya nihil. Perkosaan memang ada, tapi 
dengan mengikuti petuah Goebels, fakta telah didramatisasi sedemikian 
rupa dan dimanipulasi dengan dahsyat.
> 
>   Wa lahu khairul maakireenn.......
> 
>   Oleh:
>   Abu Zahra
> 
>   Disarikan dari: 
> 
>   TABLOID DUA MINGGUAN SUARA ISLAM, EDISI 17, MINGGU III-IV MARET 
2007
> 
>   Bila tertarik untuk berlangganan hubungi:
> 
>   Jl. Utan Kayu Raya No. 88 Jakarta Timur
> 
>   Telp: 021 8563313
> 
>   Iklan dan pemasaran, hubungi:
> 
>   021 8563313, 
>   021 68972135, 
>   021 98738038
>


Kirim email ke