Sayangnya kisah Vivian itu tidak akan bisa hilang dari internet. 
Sampai sekarang pun kalau ada yang menggoogle kasus kerusuhan dan 
pemerkosaan di Jakarta bulan Mei 1998, pasti akan sampai ke "kisah 
nyata" pemerkosa yang menjahanami korbannya sambil meneriakkan nama 
Tuhan. Di balik sedih dan malu atas kebiadaban selama 2 hari 
tersebut, ada tambahan rasa kesal karena kisah bohong tersebut 
terlanjur menjadi cap bangsa kita selama dua hari yang kelam itu. 
Saya melihat penulis ini, betapapun bombastis tulisannya, mungkin 
berangkat dari rasa kesal yang sama.

Sebelum saya disebakulkan dengan kaum revisionis, baiklah saya 
katakan bahwa saya percaya integritas Romo Sandyawan dan TGPF, ada 
banyak pemerkosaan selama kerusuhan Mei 1998, berapapun jumlahnya, 
165-kah atau 52-kah. Saya tak akan berpura-pura mengerti derita yang 
dialami para korban, tapi cukuplah bahwa saya juga punya istri, ibu 
dan adik perempuan untuk tidak melecehkan derita korban pemerkosaan. 

Andi

--- In [email protected], manneke budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ada sejumlah fakta penting yang dipelintir dalam tulisan itu. 
Pertama, kisah Vivian memang FIKTIF dan foto seorang gadis Cina 
dianiaya secara seksual oleh sejumlah tentara setting-nya bukan Mei 
1998. Yang tak disebut dalam tulisan itu adalah bahwa baik Tim 
Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan pemerintah maupun Tim Relawan 
Kemanusiaan (TRK) pimpinan Romo Sandy sudah mengonfirmasi secara 
resmi bahwa keduanya tak ada kaitan dengan peristiwa Mei. Keduanya 
hanya sebaran info gelap di berbagai milis dan tak bisa 
dipertanggungjawabkan.
>    
>   Kedua, ada beda signifikan soal angka dalam temuan TRK dan TGPF. 
Tapi, angka resmi yang disepakati dalam laporan TGPF adalah angka 
yang dapat disepakati oleh semua anggota TGPF, yang berasal dari 
berbagai pihak (relawan, pemerintah, polisi, TNI, LSM). Jadi, tak 
benar jika dikatakan angka resmi TGPF tiak didasari bukti dan data 
akurat.
>    
>   Ketiga, meski banyak korban tak lagi dapat ditemukan atau menolak 
ditemui, ada banyak saksi yang bisa saling di-cross-check, dan mereka 
semua telah diwawancarai TGPF. Mereka terdiri dari relawan, para 
dokter dan jururawat, psikolog, serta rohaniwan yang menolong dan 
mendampingi korban. Dari kalangan korban sendiri, yang mau dan bisa 
ditemui memang jumlahnya lebih sedikit dari angka resmi akibat trauma 
psikologis, lari ke luar negeri, atau meninggal dunia. Para saksi ini 
semua diakui kredibilitasnya.
>    
>   Keempat, kasus suaka politik palsu di AS oleh mereka yang mengaku 
sebagai korban peristiwa Mei adalah kasus kriminal murni dan tak ada 
sangkut-pautnya dengan peristiwa Mei sendiri. Mereka memanipulasi 
tragedi untuk kepentingan pribadi yang sempit dan egois. Siapapun 
yang menggunakan kasus pemalsuan imigrasi ini sebagai bukti untuk 
menunjukkan bahwa perkosaan Mei 1998 adalah fiktif, maka orang ini 
pastilah orang bodoh yang tak bisa mikir logis.
>    
>   Kelima dan terakhir, para korban tak punya kewajiban untuk 
menemui rombongan wartawan yang datang silih-berganti dari TEMPO, 
FORUM, KOMPAS, VOA, dll hanya untuk meyakinkan mereka bahwa peristiwa 
itu betul-betul terjadi. Para korban itu bukan tontonan untuk 
dipajang di majalah atau koran. Prioritas utama buat mereka adalah 
terapi dan pendampingan, bukan sensasi.
>    
> Siapa sesungguhnya yang paling berkepentingan untuk mencuci dosa 
para pelaku kejahatan tersebut?
>    
>   manneke
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Kutipan contoh yang ditampilkan sih sebagian besar memang 
pernah 
> dimuat di media massa. Cerita soal susahnya menelusuri Vivian itu 
> saya pernah baca di Kompas. Foto bohong-bohongan di internet itu 
saya 
> pernah lihat. Kejadian sindikat green card di AS itu memang ada dan 
> sudah dimuat besar-besaran di Gatra. Artinya isi tulisan di bawah 
> tidak mengada-ada. 
> 
> Cuma bahasanya memang bombastis. Kalau saya tidak pernah "kenal" 
> dengan contoh-contoh yang dikemukakan, saya juga akan langsung 
bilang 
> ini propaganda (yang katanya untuk melawan propaganda hehe). Gaya 
> tulisannya itu, lho; ditambah lagi menulisnya pakai nama samaran. 
> Alih-alih meyakinkan orang, malah membuat orang bertambah ragu.
> 
> Andi
>


Kirim email ke