Ada sejumlah fakta penting yang dipelintir dalam tulisan itu. Pertama, kisah 
Vivian memang FIKTIF dan foto seorang gadis Cina dianiaya secara seksual oleh 
sejumlah tentara setting-nya bukan Mei 1998. Yang tak disebut dalam tulisan itu 
adalah bahwa baik Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan pemerintah maupun 
Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) pimpinan Romo Sandy sudah mengonfirmasi secara 
resmi bahwa keduanya tak ada kaitan dengan peristiwa Mei. Keduanya hanya 
sebaran info gelap di berbagai milis dan tak bisa dipertanggungjawabkan.
   
  Kedua, ada beda signifikan soal angka dalam temuan TRK dan TGPF. Tapi, angka 
resmi yang disepakati dalam laporan TGPF adalah angka yang dapat disepakati 
oleh semua anggota TGPF, yang berasal dari berbagai pihak (relawan, pemerintah, 
polisi, TNI, LSM). Jadi, tak benar jika dikatakan angka resmi TGPF tiak 
didasari bukti dan data akurat.
   
  Ketiga, meski banyak korban tak lagi dapat ditemukan atau menolak ditemui, 
ada banyak saksi yang bisa saling di-cross-check, dan mereka semua telah 
diwawancarai TGPF. Mereka terdiri dari relawan, para dokter dan jururawat, 
psikolog, serta rohaniwan yang menolong dan mendampingi korban. Dari kalangan 
korban sendiri, yang mau dan bisa ditemui memang jumlahnya lebih sedikit dari 
angka resmi akibat trauma psikologis, lari ke luar negeri, atau meninggal 
dunia. Para saksi ini semua diakui kredibilitasnya.
   
  Keempat, kasus suaka politik palsu di AS oleh mereka yang mengaku sebagai 
korban peristiwa Mei adalah kasus kriminal murni dan tak ada sangkut-pautnya 
dengan peristiwa Mei sendiri. Mereka memanipulasi tragedi untuk kepentingan 
pribadi yang sempit dan egois. Siapapun yang menggunakan kasus pemalsuan 
imigrasi ini sebagai bukti untuk menunjukkan bahwa perkosaan Mei 1998 adalah 
fiktif, maka orang ini pastilah orang bodoh yang tak bisa mikir logis.
   
  Kelima dan terakhir, para korban tak punya kewajiban untuk menemui rombongan 
wartawan yang datang silih-berganti dari TEMPO, FORUM, KOMPAS, VOA, dll hanya 
untuk meyakinkan mereka bahwa peristiwa itu betul-betul terjadi. Para korban 
itu bukan tontonan untuk dipajang di majalah atau koran. Prioritas utama buat 
mereka adalah terapi dan pendampingan, bukan sensasi.
   
Siapa sesungguhnya yang paling berkepentingan untuk mencuci dosa para pelaku 
kejahatan tersebut?
   
  manneke

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kutipan contoh yang ditampilkan sih sebagian besar memang pernah 
dimuat di media massa. Cerita soal susahnya menelusuri Vivian itu 
saya pernah baca di Kompas. Foto bohong-bohongan di internet itu saya 
pernah lihat. Kejadian sindikat green card di AS itu memang ada dan 
sudah dimuat besar-besaran di Gatra. Artinya isi tulisan di bawah 
tidak mengada-ada. 

Cuma bahasanya memang bombastis. Kalau saya tidak pernah "kenal" 
dengan contoh-contoh yang dikemukakan, saya juga akan langsung bilang 
ini propaganda (yang katanya untuk melawan propaganda hehe). Gaya 
tulisannya itu, lho; ditambah lagi menulisnya pakai nama samaran. 
Alih-alih meyakinkan orang, malah membuat orang bertambah ragu.

Andi

Kirim email ke