Daripada berdebat panjang dengan kasir, coba cara ini:
Pertama, siapkan beberapa bungkus permen di kantong. Waktu kasir
memberi kembalian dalam bentuk permen, terima saja tanpa banyak
komentar. Cukup tanyakan saja berapa nilai si permen tersebut. Setelah
itu (setelah transaksi pertama selesai), tambah item belanjaan dengan
barang kecil (seperti korek api, misalnya) dan membayar seluruh
jumlahnya dengan permen yang ada di saku.
Agak membutuhkan energi ekstra, memang. Tapi nggak apa-apa lah,
daripada "geregetan." :)
Anggap saja semacam Public Service Advertising yang dilakukan secara live.
dro
On 04 Apr 2007 21:38:15 -0700, steven lenakoly <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
>
>
> Filosofi Permen
>
> Ketika saya mendatangi salah satu supermaket kampung. Supermaket kampung
> adalah istilah untuk supermaket yang ada di kampung. Suasana dan kelengkapan
> mirip dengan supermaket besar dan terkenal, berikut dengan ACnya. Barang
> yang ada di rak bak supermaket yahud.
> Setelah memilih barang dan mengangkutnya dalam keranjang warna merah, aku
> datangi kasir untuk membayar. "Semua 11.050 mas," kata seorang kasir yang
> mengenakan seragam warna biru dengan logo dan tulisan supermaket tersebut
> ramah.
> Aku menyodorkan uang 5.000 tiga lembar. Tak lama berselang kasir itu
> memberikan kembalian tiga lembar uang seribuan, satu buah logam lima
> ratusan, empat butir seratusan dan sebungkus permen kopi berwarna gelap.
> Seharusnya uang kembalian itu bukan permen tapi uang lima puluh rupiah.
> Entah kenapa kok uang receh digantikan oleh permen kopi. Aneh? tidak terlalu
> aneh sih. Hanya saja yang aneh adalah permen tidak ada dalam tataran alat
> tukar. Entah sejak kapan permen berubah menjadi alat tukar, gak jelas
> sejarahnya.
> Kelihatan permen begitu ringkas dan gampang dibeli dan didapatkan ketimbang
> dengan uang receh lima puluhan. Kemungkinan kasir atau pemilik supermaket
> kampung itu enggan ngantri di bank hanya untuk menukarkan uang receh jadi
> seenaknya sendiri menggantikan uang receh dengan permen sebagai kembalian.
> Uang ya uang, permen ya permen. Jika permen bisa berperan sebagai uang maka
> aku bisa mengumpulkan sepuluh permen untuk mendapatkan satu batang rokok
> atau aku mengumpulkan seratus permen untuk ongkos naik angkot pergi-pulang.
> Bayangkan apa yang terjadi bila naik angkot kemudian dibayar dengan permen.
> Pasti mukanya bakal merah dan langsung mencaci maki ngalor ngidul. "Kalau
> gak punya uang jangan naik angkot." beginilah kira-kira kata-kata yang akan
> keluar dari bibirnya.
> Kemudian aku pasti akan bergumam "jangan salahkan aku, salahkanlah kasir
> yang memberiku permen sebagai pengganti uang kembalian." heheheā¦
>
> ==
> Steven Lenakoly
> Stevenlenakoly.wordpress.com
> 08175010651
>
> ---------------------------------
> It's here! Your new message!
> Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
=====================================================
Pojok Milis FPK:
1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/