senarnyalah yang masih berpijak pada dualisme, adalah tanda-tanda kehidupan dialam raya ini, hidup ada mati, kaya ada miskin, senang ada susah. sedangkan kalau kita sudah tidak mati tanda tanda dualisme itu tidak ada lagi. sehingga didalam menduga-duga tentang tuhan, maka paham dualisme harus kita ganti dengan paham ttg monoisme.didalam tuhan tidak ada lagi dualisme, demikian pula orang yang hendak menuju ketuhan, harus sudah membelenggu dualismenya. wassallam
----- Original Message ---- From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, April 9, 2007 1:27:08 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tuhan "Mati", Manusia Hidup Ini teologi, Bung, yakni iman yang di-logos-kan. Salah satu aspek ilmu memang adalah theorizing. Nggak usah jauh-jauh, gerakan jari-jari tangan dalam meraih dan menggenggam suatu objek, yang di mata kita tampak sangat sepele itu, dalam cognitive science ternyata penjelasannya juga bisa jadi sangat mbulet kok. Merembetnya bisa sampai ke mekanisme kerja otak segala, bukan cuma urusan tangan semata. Dibuat-buat? Entahlah. Hanya orang yang menguasai kekristenan dengan cukup dalam yang bisa menilai apakah penjelasan di bawah ini dibuat-buat atau enggak. Yang berabe adalah jika orang yang tak cukup memahami teologi Kristen lalu menilai bahwa ini semua dibuat-buat. Saya orang Kristen, tapi bahkan saya pu tak berani menilai sejauh ini karena saya bukan ahli teologi. Ibarat punya tangan, saya cuma bisa mempraktikkan menggunakan jari-jari tangan untuk memegang sesuatu, tapi tak berpretensi mengerti mekanisme apa di otak yang memberi perintah kepada tangan untuk bergerak sedemikian rupa. Saya punya tangan, tapi tak menguasai ilmu yang mempelajari tentang gerakan organ tubuh. Saya punya iman, tapi tak mengerti soal pengilmuan iman tersebut dalam wilayah teologi. Anda sudah cukup mengertikah sehingga bisa menilai? manneke
