Saya menangkap bahwa pak Bodo n pak Mulyadi dan juga rekan lain yang senada, 
bahwa disiplin militer adalah suatu cara mendidik yang sangat buruk kalau boleh 
tidak dikatakan sangat menakutkan.
  Tapi saya tetap yakin rekan sekalian tetap dapat mengambil manfaat dari 
metoda pendidikan disilplin kemiliteran bagi keperluan di bidang lain, kecuali 
kalau rekan sekalian sudah secara membabi-buta tidak mau melihat kebaikan yang 
dapat dihasilkan oleh sistem pendidikan tersebut akibat trauma tertentu.
  Coba kita lihat kenyataan HASIL dari metoda pendidikan disiplin yang telah 
dilaksanakan dalam dunia pendidikan kita selama ini terhadap para siswa sekolah 
(ada berbagai bentuk metoda yaitu dari metoda baris-berbaris, upacara s.d. 
kepramukaan yang dilaksanakan disekolah), hasilnya sangat berbeda dengan para 
siswa PASKIBRA yang mendapat kesempatan pendidikan secara militer (dengan 
MODIFIKASI / PENYESUAIAN sesuai kebutuhan).
  Sejak kecil disekolah kita telah dicekoki dengan pendidikan disiplin 
membentuk barisan untuk masuk ke kelas, upacara setiap senin atau hari besar 
nasional, cerita-cerita kepahlawanan oleh guru di kelas dan berbagai nasehat 
seperti disiplin buang sampah, tidak ribut dikelas dan masih banyak lagi petuah 
kedisiplinan lainnya.
  Saya berharap rekan sekalian berpendapat demikian bukan karena trauma 
militeristik sehingga segala sesuatu yang berbau militer adalah hal yang HARUS 
dijauhi.
  Koruptor berjamaah di negeri tercinta ini bukanlah produk pendidikan disiplin 
militeristik, tetapi adalah produk mental berbangsa yang buruk, mereka 
melakukan korupsi bukan karena takut dengan atasan atau sebaliknya (kelompok 
korupsi), tetapi memang orientasi kapitalis negeri ini yang 
mengharuskan/mengiming-imingkan mereka untuk melakukan korupsi ditunjang lagi 
dengan buruknya penyelenggaraan negara, agar memiliki materi yang banyak dan 
dapat menikmati kehidupan serba ada dalam pergaulan sosialnya.
   
  Salam,
  csd
   
  

bodo_kerlchen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Istilah yang sangat JITU: "kekerasan tanpa otak" !!! Lagian, otak 
yang macam apa memberikan komando ke raga nya untuk melakukan 
kekerasan tanpa TARGET ?? Otak binatang aja melakukan itu, umumnya 
hanya untuk dua target yang saya ketahui, yaitu BELA DIRI saat benar-
benar terpojok, dan mencapai SURVIVE saat perut kosong atau dorongan 
berkembang biak. Ditambah lagi hasil nyata dari keluaran pendidikan 
tersebut, bukankah juga merupakan pelaku mayoritas dari kebanyakan 
topik-2 kita yang tidak "berujung pangkal" ? Salah satunya 
yah .. "Ketidak disiplinan pejabat" !! Apakah output nya merupakan 
KORUPSI, DATA DASAR yang amburadul (baik kependudukan, keuangan, 
etc.) Belum lagi kalau disadari bahwa cukup besar dana Negara yang 
keluar untuk itu, sementara begitu banyak gedung-2 sekolah yang 
menunggu ambruk, atau menunggu dibangun kembali karena 
berhasil "keburu" ambruk. Displin didalam kehidupan masyarakat (bagi 
SETIAP lapisan!) sudah tentu dibutuhkan untuk mencapai suatu kondisi 
tatanan yang berkesinabungan. Tapi militeristik bukan jalan yang 
benar untuk mencapai itu. Coba jujur pikirkan sebenarnya apa 
utamanya yang dicapai dengan cara kekerasan didalam methode 
pendidikan militer ?? Absolute Hierarchy acceptance !! Bawahan harus 
menuruti (tanpa syarat) perintah atasan .. that's that !! Itu 
makanya tidak ada korupsi yang tidak berjamaah, biasanya segaris 
tuh, dari atas sampe bawah .. kalo ngga, yang nyanyi juga berjamaah 
dong. Jadi bila bicara pendidikan, bukankah seharusnya prioritas 
utama adalah menanamkan pengertian terhadap apa yang benar dan apa 
yang tidak benar sehubungan dengan tugas yang akan diembannya nanti. 
Alhasil .. bila sang atasan memberikan komando yang benar, yah 
automatis sang bawahan dengan senang hati menurutinya dong ?!
Salam,
Bodo

Kirim email ke