Saya tidak setuju dengan logika Pak John, dengan dikontrol ketat di negara kita saja masih bisa terjadi perampokan bersenjata sepertyi peristiwa Bandung tempo hari, apalagi bila dibebaskan??
Janga. lupakan bagaimana masyarakat AS sudah jauh lebih melek hukum dan hukumnya ditegakkan jauh lebih disiplin dari masyarakat Indonesia. Artinya di masyarakat yang sudah sangat sadar apa konsekuensi hukum yang akan ditanggung-bila melakukan pelanggaran-saja masih terjadi penembakan yang sedemikian brutal, lantas apa yang akan terjadi pada masyarakat dimana hukum sangat nisbi, bahkan nyaris tidak ada seperti Indonesia ?? On 4/19/07, john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Semalam saya nonton tayangan "Campus Massacre" di CNN. > Diulas bahwa sang pelaku, bertipe "loner" dan "weird" (kata teman > se-dormnya). Fakta lain yang belum banyak dikupas, si pelaku besar dan > tinggal di kawasan sub-urban Washington DC. > Sudah menjadi rahasia umum, DC adalah salah satu wilayah dengan tingkat > kriminalitas (memakai senjata api) tertinggi di AS, selain New York dan LA. > Jadi masalahnya bukan terletak pada kemudahan memiliki senjata api, tapi > lebih kepada kondisi sosio-psikografis pelaku, atau "man behind the gun". > > Di Indonesia, dimana perijinan untuk memperoleh senjata api sangat ketat > saja, sering terjadi tindak kriminal (dengan senjata api), misalnya saja > peristiwa perampokan toko emas di Bandung, minggu lalu. > Bukan senjata apinya yang salah, tapi "man behind the gun". > > Salam.
