Rekan FPK Tulisan Pak Rhenald Kasali memang selalu inspiratif! Salut kepada Pak Rhenald. Tapi saya mau bertanya: Siapa sih yang tidak mau berubah? Bahkan sebelum rasa sakit datang, orang ingin berubah. Salah kalau berubah hanya karena rasa sakit. Misalnya, perubahan anak-anak ke alam dewasa. Perubahan ini adalah keniscayaan alam, tidak karena rasa sakit. Anak-anak akan berubah, dan berubah, dan berubah. Perubahan adalah hukum alam. Alam semesta ini berubah terus, tanpa dikomando oleh rasa sakit. Alam raya yang sudah berusia bermilyar tahun dan berubah terus, masakan harus menunggu rasa sakit? Tidak usah mengutip Darwin untuk membuktikan adanya perubahan dalam alam. Pak Rhenald mungkin lupa bahwa ada seorang filfsuf kuno dari Yunani yang mengatakan segala sesuatu berubah! Tapi Rhenald tentu akan membela diri: yang dia maksud adalah para buruh, atau employees, yang mau kerja seenaknya. Dia mau mengritik para buruh dan pegawai yang malas! (malas menurut ukuran si manajer tentu saja!). Dia mengutip pendapat: "Human being is a lazy organism." Mari kita bicara tentang manusia yang malas. Apa ada sih manusia yang ingin bermalas-malasan sepanjang hari, sepanjang hidupnya? Para psikolog sudah mengetahui bahwa manusia selalu ingin "mengungkapkan dirinya" lewat pekerjaannya. Hal yang sama juga diketahui oleh tokoh revolusi sosial, K. Marx, ketika dia bicara tentang arti kerja bagi manusia. Maka di dunia ini ada begitu banyak seniman. Mereka bukan buruh tetapi terus berkreasi (berubah!) dengan atau tanpa ketakutan rasa sakit. Jadi, tidak ada orang yang mau bermalas-malasan, makan gaji buta. Secara sosiologis, pernyataan bahwa manusia itu malas, belum pernah saya dengar. Sosiolog-sosiolog besar (kecuali McGregor yang dikutipnya) tidak berani menyinggung masalah ini, karena sulit dibuktikan.
Saya tentu saja setuju bahwa perlu ada perubahan karena perubahan tertanam dalam hakekat manusia, bahkan alam. Tapi seruan Rhenald bahwa manusia harus berubah akibat ketakutan rasa sakit, ini yang harus diawasi. Dunia bisnis sekarang memang penuh dengan "rasa sakit" dengan tujuan untuk menimbulkan perubahan. Ini ajaran tidak etis dan tidak bermoral. Saya tahu teman-teman dan saudara-saudara saya tiap hari dihinggapi "rasa sakit" ini, sehingga setiap hari "stress." Bayangkan semua orang bekerja dengan sistem target, target ini, target itu, dan setiap hari target itu terus meninggi. Buruh, pegawai, manajer tingkat menengah, setiap hari dheg-dhegan, tekanan darah tidak bisa turun. Tidur tengah malam terbangun, kaget-kaget karena target belum terpenuhi. Dia harus makan aneka obat enhancer (termasuk drugs!). Ini sama saja dengan "violence"! Tiap hari manusia ditakut-takuti. Tiap hari ada hantu besar yang bernama "pemecatan"! Kritik bahwa sistem manajemen itu kejam bukankah sudah kita dengar sejak seratus tahun yang lalu. Ketika "assembly line" diperkenalkan dalam pabrik Ford (yang kemudian menjadi Fordism) pegawai-pegawai dan buruh protes karena sistem itu menghancurkan nilai luhur manusia. Ketika itu kritik yang dilontarkan adalah bahwa sistem "assembly line" membuat manusia menjadi dungu dan bodoh karena ciri otomatisnya itu. Sekarang sistem itu sudah berubah (sedikit sekali!), tapi kini muncul sistem manajemen yang lebih mengerikan: memakai ancaman akan "sakit." Ini masalah dalam sistem manajemen di dunia yang serba kompetisi. Sistem Manajemen yang dikembangkan di seluruh dunia saat ini (termasuk yang dikembangkan oleh Rhenald) memang dipakai untuk mendukung sistem ekonomi neo-liberal yang mengutamakan kompetisi. Kalau sistem ekonominya berupa binatang buas, maka sistem manajemennya juga binatang buas. Begitu sederhananya. Siapa yang rugi? Manusia. Saya bukan ahli manajemen, tetapi saya mendengar bahwa sistem manajemen Jepang, juga Jerman, tidaklah "seganas" yang kita dengar di Indonesia saat ini. Di situ para pegawai diperlakukan sebagai manusia yang tidak usah ditakut-takuti. Ada masalah, tetapi ini tidak diselesaikan dengan pemecatan. Saya mau tanya kepada rekan-rekan yang tahu lebih banyak tentang manajemen Jepang atau Jerman untuk mengupas masalah ini lebih jauh. Rhenald memang hasil pendidikan Amerika, dan juga banyak dosen-dosen manajemen di Jakarta saat ini. Sudah waktunya Rhenald juga berubah!!! Pelajarilah sistem manajeman yang tidak menggarap rasa takut, Pak. Berubahlah Pak, dari paradigma anda yang sangat "American oriented" itu. (Kalau anda tidak berubah, apa anda tidak takut nanti anda dikecam sebagai penyebar virus ganas ekonomi neo-liberal? Ini juga jenis rasa takut yang harus anda pertimbangkan.) Salam iww [Non-text portions of this message have been removed]
