Pemikiran yang amat kreatif dan menantang. Saya suka tulisan seperti ini. Bisa 
Bung Irry jelaskan lebih rinci,persisnya bagaimana nanoscience ini bisa 
diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya? Mochtar Riady, boss LIPPO, pernah 
menerbitkan buku tentang nano management, yang mencoba menerapkan nanoscience 
dalam ilmu manajemen. 
   
  Di dalam ilmu sosial dan budaya saat ini, ada gerakan untuk tidak lagi 
melakukan riset yang bersifat makro atas suatu masyarakat dengan segala aspek 
kehidupannya, melainkan lebih terpusat pada salah satu aspek spesifik saja. 
Jadi, sifatnya lebih mikroskopik. Nantinya akan dilihat bagaimana temuan dari 
riset atas tiap-tiap aspek mikro itu dapat mengatakn sesuatu yang rada umum 
tentang struktur batin masyarakat tersebut. Apakah kira-kira ini sejalan dengan 
pemikiran Anda, atau ada trend berbeda yang ingin Anda gagas?
   
  Mohon pencerahan lebih lanjut, ya. Dan terima kasih banyak.
   
  manneke

Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Dear All,

Dalam fisika Newtonian, hukum pertamanya adalah hukum inertia yang sering 
diterjemahkan dengan hukum kelembaman. Ada guru guru SMA yang praktis 
menggunakan kata hukum kemalasan. Prinsip hukum tersebut mengatakan bahwa 
sistem materi selalu cenderung mempertahankan statusquo....malas untuk berubah. 
Agar berubah dia membutuhkan gaya luar (external force - gaya yang berasal dari 
luar sistem) yang akan menimbulkan akselerasi atau percepatan. Yang menarik 
adalah bahwa walaupun ada gaya yang sangat besar, namun jika itu merupakan gaya 
internal - gaya antara komponen komponen sistem -maka perubahan sistem tidak 
akan terjadi. Yang terjadi hanya perubahan interaksi antar komponen komponen 
sistem, perubahan dinamika dari komponen komponen sistem. Hal ini juga 
membuktikan bahwa walaupun dinamika perubahan antara komponen komponen sistem 
terjadi sangat besar, itu tidak mampu membawa perubahan sistem.
Untuk mencapai perubahan (melawan kelembaman) hanya ada dua cara: memperbesar 
gaya luar dan/atau memperkecil massa sistem. Cara yang kedua bisa dilakukan 
dengan memecah sistem yang ada atau menaikan status sub-sistem menjadi sistem 
sehingga threshold gaya luar yang berlaku menjadi jauh lebih kecil.

Kemalasan (situasi atatis) menjadi realita yang diterima sehingga berbagai 
sistem ilmu yang dibentuk juga mengandaikan perubahan perubahan yang sangat 
minim. Perubahan yang terjadi juga mudah diramal karena lebih bersifat linear 
terhadap gaya luar yang diaplikasi pada ssuatu sistem. 

Itu Newtonian, mashab fisika yang sudah ditinggalkan atau hanya berlaku untuk 
interaksi interaksi "kasat mata" dengan level energi interaksi yang relatif 
kecil. Newtonian mempengaruhi revolusi industri gelombang pertama, karena 
produk produk teknologinya relatif kasat mata dan bekerja dengan level energi 
yang relatif rendah.

Kita sudah meninggalkan era Newtonian dan menginjak era kuantum. Kita mulai 
berurusan dengan produk produk Nano yang jelas tidak kasat mata. Disini yang 
memerintah adalah ketidakpastian...satu satunya yang pasti adalah 
ketidakpastian dan perubahan. Kuantum, Nano, ketidakpastian, perubahan adalah 
kata kata kunci dalam era ini. Itu realita..walau realita yang tidak kasat mata 
(but exist) serta realita yang selalu berubah..sehingga kita hanya boleh 
mengatakan kebolehjadian dari suatu realita. 

Apalah sistem sosial kita saat ini juga memiliki ciri yang sama dengan trend 
teknologi yang ada: ketidakpastian dan perubahan yang harus diamati pada level 
kuantum (sosial) dan (social) nano scale ? Artinya: begitu acuannya adalah 
macro system dan bukan nano system maka kita akan memilih kebolehjadian dari 
suatu realita secara keliru ? Ini kelihatannya cocok dengan situasi kita saat 
ini,

Jadi jangan jangan pilihan pada Neolib atau thirdwaynya Giddens mesti diletakan 
pada mana yang lebih nano-oriented dan mana yang (selalu) siap menghadapi 
perubahan yang (hampir) tidak bisa diramal.

Lagi iseng saja,

Irry



"I. Wibowo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan FPK

Tulisan Pak Rhenald Kasali memang selalu inspiratif! Salut kepada Pak Rhenald. 
Tapi saya mau bertanya: Siapa sih yang tidak mau berubah? Bahkan sebelum rasa 
sakit datang, orang ingin berubah. Salah kalau berubah hanya karena rasa sakit. 
Misalnya, perubahan anak-anak ke alam dewasa. Perubahan ini adalah keniscayaan 
alam, tidak karena rasa sakit. Anak-anak akan berubah, dan berubah, dan 
berubah. Perubahan adalah hukum alam. Alam semesta ini berubah terus, tanpa 
dikomando oleh rasa sakit. Alam raya yang sudah berusia bermilyar tahun dan 
berubah terus, masakan harus menunggu rasa sakit? Tidak usah mengutip Darwin 
untuk membuktikan adanya perubahan dalam alam. Pak Rhenald mungkin lupa bahwa 
ada seorang filfsuf kuno dari Yunani yang mengatakan segala sesuatu berubah! 
Tapi Rhenald tentu akan membela diri: yang dia maksud adalah para buruh, atau 
employees, yang mau kerja seenaknya. Dia mau mengritik para buruh dan pegawai 
yang malas! (malas menurut ukuran si manajer tentu saja!).
Dia mengutip pendapat: "Human being is a lazy organism." Mari kita bicara 
tentang manusia yang malas. Apa ada sih manusia yang ingin bermalas-malasan 
sepanjang hari, sepanjang hidupnya? Para psikolog sudah mengetahui bahwa 
manusia selalu ingin "mengungkapkan dirinya" lewat pekerjaannya. Hal yang sama 
juga diketahui oleh tokoh revolusi sosial, K. Marx, ketika dia bicara tentang 
arti kerja bagi manusia. Maka di dunia ini ada begitu banyak seniman. Mereka 
bukan buruh tetapi terus berkreasi (berubah!) dengan atau tanpa ketakutan rasa 
sakit. Jadi, tidak ada orang yang mau bermalas-malasan, makan gaji buta. Secara 
sosiologis, pernyataan bahwa manusia itu malas, belum pernah saya dengar. 
Sosiolog-sosiolog besar (kecuali McGregor yang dikutipnya) tidak berani 
menyinggung masalah ini, karena sulit dibuktikan. 

Saya tentu saja setuju bahwa perlu ada perubahan karena perubahan tertanam 
dalam hakekat manusia, bahkan alam. Tapi seruan Rhenald bahwa manusia harus 
berubah akibat ketakutan rasa sakit, ini yang harus diawasi. Dunia bisnis 
sekarang memang penuh dengan "rasa sakit" dengan tujuan untuk menimbulkan 
perubahan. Ini ajaran tidak etis dan tidak bermoral. Saya tahu teman-teman dan 
saudara-saudara saya tiap hari dihinggapi "rasa sakit" ini, sehingga setiap 
hari "stress." Bayangkan semua orang bekerja dengan sistem target, target ini, 
target itu, dan setiap hari target itu terus meninggi. Buruh, pegawai, manajer 
tingkat menengah, setiap hari dheg-dhegan, tekanan darah tidak bisa turun. 
Tidur tengah malam terbangun, kaget-kaget karena target belum terpenuhi. Dia 
harus makan aneka obat enhancer (termasuk drugs!). Ini sama saja dengan 
"violence"! Tiap hari manusia ditakut-takuti. Tiap hari ada hantu besar yang 
bernama "pemecatan"! Kritik bahwa sistem manajemen itu kejam bukankah sudah
kita dengar sejak seratus tahun yang lalu. Ketika "assembly line" diperkenalkan 
dalam pabrik Ford (yang kemudian menjadi Fordism) pegawai-pegawai dan buruh 
protes karena sistem itu menghancurkan nilai luhur manusia. Ketika itu kritik 
yang dilontarkan adalah bahwa sistem "assembly line" membuat manusia menjadi 
dungu dan bodoh karena ciri otomatisnya itu. Sekarang sistem itu sudah berubah 
(sedikit sekali!), tapi kini muncul sistem manajemen yang lebih mengerikan: 
memakai ancaman akan "sakit." Ini masalah dalam sistem manajemen di dunia yang 
serba kompetisi. 

Sistem Manajemen yang dikembangkan di seluruh dunia saat ini (termasuk yang 
dikembangkan oleh Rhenald) memang dipakai untuk mendukung sistem ekonomi 
neo-liberal yang mengutamakan kompetisi. Kalau sistem ekonominya berupa 
binatang buas, maka sistem manajemennya juga binatang buas. Begitu 
sederhananya. Siapa yang rugi? Manusia. Saya bukan ahli manajemen, tetapi saya 
mendengar bahwa sistem manajemen Jepang, juga Jerman, tidaklah "seganas" yang 
kita dengar di Indonesia saat ini. Di situ para pegawai diperlakukan sebagai 
manusia yang tidak usah ditakut-takuti. Ada masalah, tetapi ini tidak 
diselesaikan dengan pemecatan. Saya mau tanya kepada rekan-rekan yang tahu 
lebih banyak tentang manajemen Jepang atau Jerman untuk mengupas masalah ini 
lebih jauh. Rhenald memang hasil pendidikan Amerika, dan juga banyak 
dosen-dosen manajemen di Jakarta saat ini. Sudah waktunya Rhenald juga 
berubah!!! Pelajarilah sistem manajeman yang tidak menggarap rasa takut, Pak. 
Berubahlah Pak, dari
paradigma anda yang sangat "American oriented" itu. (Kalau anda tidak berubah, 
apa anda tidak takut nanti anda dikecam sebagai penyebar virus ganas ekonomi 
neo-liberal? Ini juga jenis rasa takut yang harus anda pertimbangkan.)

Salam
iww

[Non-text portions of this message have been removed]

---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]



         

       
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot 
with the All-new Yahoo! Mail  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke