Pak Manneke,
Kalau gua mah akan bilang: 10 x 10 = cepek (alias CAPEK,deh) ngelayanin dan
menjawab opini begituan. Don't waste your time, dong, pak Manneke.
Anggaplah anjing menggonggong, kafilah berlalu. Hehehe....gitu loch, pak?
Mau tergila-gila Di Caprio, kek; mau nangisin Kate Winslet, kek.
Setiap orang punya hak untuk menyukai atau membenci film Titanic, bukan?
Kalau menurut pak Andi ini, kayaknya perempuan gak boleh punya banyak
pilihan, ya?Begitukah pak Andi?
Padahal saya juga seneng nonton bola, apalagi kalau Arsenal sedang lawan MU!
Karena saya dulu pernah tinggal di North London (jadi harus njago-in Arsenal).
Jadi tidak hanya hal-hal yang cengeng saja yang saya tonton. Malahan saya
lebih memilih filem-filem yang lucu dengan humor yang cerdas, serta yang tidak
menurunkan derajat perempuan, lebih menyenangkan ditonton.
Salam,
Yuli
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ini dia masalahnya: konsep dari masa ribuan tahun lalu masih terus di
bawa ke masa kini. Di banyak negara Barat kini, para laki-laki sudah belajar
untuk tak hanya membukakan pintu buat perempuan, tapi juga buat siapa saja.
mendahulukan orang lain masuk ke pintu juga sudah mulai dilakukan untuk siapa
saja, tak hanya untuk perempuan. Jadi, sudah mulai ada perubahan wawasan
rupanya. Hanya Hollywood saja yang masih demen bawa citraan purba ke masa kini.
Tapi, apa betul sangkaan Anda bahwa para ibu-ibu yang nyeret suaminya nonton
Titanic itu disebabkan karena mereka mau liat Leonardo Di Caprio mengurbankan
jiwa buat Kate Winslet? Jangan-jangan ini asumsi yang mengandung bias? Bisa
saja mereka mau nonton Titanic karena ini memang film tentang sebuah tragedi
besar di masa lalu? Kisahnya juga sudah sangat terkenal. Apakah jika tak ada
adegan Di Caprio menyelamatkan Winslet maka ibu-ibu tak mau nonton? Kita nggak
tau. dan sebaiknya tak berandai-andai.
Juga sebaliknya, apakah jika yang selamat Di Caprio sementara yang mati
Winslet, maka tak ada ibu-ibu yang mau nonton? Saya tak berani menduga-duga.
Jika Anda sudah berani menyimpulkan bahwa demikianlah adanya, saya curiga
jangan-jangan ini penyakit bias gender Anda yang lagi-lagi muncul.
Seperti yang dibilang Pak Haniwar, laki-laki juga demen kok nonton dirinya
tampil sebagai hero dalam film. Supaya bisa ngerasa hebat. Kok Bung Andi nggak
ngomong apa-apa soal positioning penonton laki-laki dalam kasus ini? Apa betul
sih mereka itu nonton karena diseret-seret istrinya atau pacarnya?
Kedengarannya mirip keledai ya jika memang betul...
manneke